Home Perpustakaan Publikasi Hasil Penelitian BBalitvet LIST OF PUBLISHED ARTICLES OF BBALITVET SCIENTISTS IN 2008

LIST OF PUBLISHED ARTICLES OF BBALITVET SCIENTISTS IN 2008

LIST OF PUBLISHED ARTICLES OF

BBALITVET SCIENTISTS IN 2008

LOCAL JOURNAL

BACTERIOLOGY

1.

Chotiah, Siti (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Studi vakrin Erysipelas: Imunogenisitas tiga fraksi kultur isolat lokal Erysipelothrix rhusiopathiae serotipe 2 pada babi. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008,Vol.13(1): p.74-81.

Abstrak

Erysipelothrix rhusiopathiae sebagai agen penyebab penyakit erysipelas telah diisolasi dari babi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan vaksin erysipelas dan mengetahui imunogenisitasnya pada babi. Tiga fraksi kultur isolat lokal E. rhusiopathiae serotipe 2 yaitu whole kultur (WK), whole sel (WS) dan filtrat kultur (FK) dalam bentuk suspensi ajuvan minyak dengan konsentrasi akhir mengandung bakteri kurang lebih 1010 colony forming unit diinjeksikan kepada masing-masing kelompok babi (12 ekor/kelompok), kecuali kelompok K sebagai kontrol, dosis 2 ml secara intra muskuler. Booster vaksin diberikan tiga minggu kemudian dengan dosis yang sama. Uji tantang terhadap isolat lokal E. rhusiopathiae serotipe 1 (heterolog) dan 2 (homolog) dilakukan 5 minggu setelah injeksi booster kecuali pada kelompok FK diberikan setelah 11 minggu. Respon antibodi dipantau setiap dua minggu dengan metode ELISA dan respon proteksi ditentukan berdasarkan gejala klinis berupa eritema urtikaria atau kematian yang diamati selama 14 hari setelah diuji tantang. Basil penelitian menunjukkan bahwa respon antibodi yang ditimbulkan dari tiga fraksi kultur tersebut terhadap antigen ekstrak tahan panas menunjukkan pola yang sama. Respon proteksi terhadap uji tantang isolat serotipe homolog dan heterolog pada babi dalam kelompok WK, WS, FK dan K masing-masing berurutan sebanyak 83,3; 83,3; 91,7 dan 0 persen, dengan rataan nilai densitas optikal sewaktu dilakukan uji tantang masing-masing berurutan 0,492; 0,454; 0,529 dan 0,345. Proteksi silang terjadi pada semua fraksi kultur yang diuji. Dari hasil penelitian tersebut diketahui tiga fraksi kultur isolat lokal E. rhusiopathiae serotipe 2 tersebut mengandung antigen protektif dan dapat dipakai untuk kandidat vaksin di Indonesia.

Abstract

Study of erysipelas vaccine: Immunogenicity of three culture fractions of E. rhusiopathiae serotype 2 local isolate on swine

Erysipelothrix rhusiopathiae as the causal agent of erysipelas was isolated from swine in Indonesia. The aims of this study were to develop a local isolate vaccine for erysipelas and determine its Immunogenicity in swine. Three types of fractionated culture of local isolate E. rhusiopathiae serotype 2 consisting of whole culture (WCu), whole cell (WCe) and culture filtrate (CF) were made into an oil adjuvant at a final bacteria concentration about 1010 colony forming unit (CFU). Four groups of swine (12 swines/group) were vaccinated intra muscularly with WCu, WCe and CF containing 2 ml per dose respectively, and K as a control group without vaccination. The vaccine was injected twice with three weeks interval. All groups were challenged with local isolates of E. rhusiopathiae; serotype 1 (heterologous) and serotype 2 (homologous) at five weeks after second vaccination except CF group was challenged at twelve weeks after the second vaccination by 1075 CFU. The specific antibody responses were monitored every two weeks by ELISA technique, and protective responses were determined by clinical signs of erythema urticaria or mortality during the observation for 14 days. The results showed that the antibody responses of WCu, WCe, and CF groups against extract antigen were not different. The protective responses of groups WCu, WCe, CF, and K against challenged local isolate of homologous serotype and heterologous were 83.3, 83.3, 91.7 and 0 percent respectively, with average value of optical density 0.492, 0.454, 0.529 and 0.3450 respectively, at the time of challenge. Cross protection occurred on all culture fractions tested. In conclusion, the three culture fractions of local isolate of E. rhusiopathiae serotype 2 containing protective antigen and could be used for vaccine candidate in Indonesia.

2.

Natalia, Lily; Adji, Rahmat Setya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Identifikasi cepat Bacillus anthracis dengan Direct Fluorescent Antibody Assay yang menggunakan komponen dinding sel dan kapsul. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008, Vol.13(2): p.140-149.

Abstrak

Dalam kejadian kasus antraks, diagnose dine sangat penting untuk tindakan pengendalian yang efektif Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk membuat uji yang secara cepat dapat mendeteksi dan mengidentifikasi antigen spesifik B. anthracis. Di Indonesia, identifikasi standar B. anthracis tergantung pada kombinasi uji termasuk biakan bacteria dan Ascoli precipitin test, yang menggunakan waktu beberapa hari untuk menghasilkan diagnosis. Dalam penelitian ini, direct fluorescent antibody assay (DFA) dengan due komponen (dinding sel dan kapsul), dikembangkan untuk secara cepat dapat mengidentifikasi dan secara langsung mendeteksi B. anthracis berkapsul. Komponen yang digunakan dalam DFA dinding sel (CW-DFA) assay adalah polysaccharide-peptidoglycan complex yang dibuat dari kultur B. anthracis dengan cara melakukan lisis terhadap sel, ekstraksi guanidine dan ekstraksi dengan sodium dodecyl sulphate (SDS). Komponen untuk DFA kapsul (CAP-DFA) assay adalah poly-D-glutamic acid (PGA) yang dibuat dengan cara ekstraksi dari kapsul B. anthracis. Komponen polysaccharidepeptidoglycan complex dan PGA yang dikonjugasi dengan hemocyanin kemudian digunakan sebagai imunogen untuk imunisasi kelinci dengan menggunakan adjuvan Freund's complete/incomplete. Serum hiperimun kemudian dikoleksi dan dimumikandan dikonjugasikan dengan Fluorecent Iso Thiocyanate. Berbagai isolat B. anthracis dan bukan isolat B. anthracis telah diuji dengan uji CW-DFA dan CAP-DFA assay. B. cereus, B. subtilis dan Bacillus sp. dan bakteri Gram positif lain yang berbentuk batang memberikan hasil negatif, sedangkan B. anthracis berkapsul memberikan hasil positif. Uji CW-DFA dan CAP-DFA adalah uji yang spesifik dan cepat untuk konfirmasi B. anthracis berkapsul.

Abstract

Rapid identification of Bacillus anthracis by cell wall and capsule components

direct fluorescent antibody assay.

During the outbreak of anthrax, early diagnosis is critical for effective treatment. Numerous attempts have been made to design antigen based detection tests and to rapidly identify truly anthrax specific antigens for B. anthracis. In Indonesia, standard identification of B. anthracis relies on a combination of time consuming steps including bacterial culture and Ascoli precipitin test, which can take several days to provide a diagnosis. In this study, two component (cell wall and capsule) direct fluorescent antibody assay (DFA) were developed to rapidly identify and to directly detect capsulated B. anthracis. The component used in cell wall DFA (CW-DFA) assay is polysaccharide-peptidoglycan complex, which was prepared from B. anthracis culture by cell lysis, guanidine and sodium dodecyl sulphate (SDS) extraction. The component used in capsule DFA (CAP-DFA) is poly-Dglutamic acid (PGA) which were prepared by extraction of B. anthracis capsule. Component of polysaccharide-peptidoglycan complex and PGA conjugated with hemocyanin were then used as immunogen for immunizing rabbits using Freund's complete/incomplete adjuvant. The hyperimmune sera were then collected, purified and conjugated to Fluorecent Iso Thiocyanate (FITC). B. anthracis isolates and non B. anthracis isolates were tested by the CW-DFA and CAP-DFA Assays. B. cereus, B. subtilis, other Bacillus sp. and other Gram positive rod bacteria were negative, while capsulated B anthracis gave positive results. The two component (CW DFA and CAP-DFA) assay are specific rapid confirmatory test for capsulated B. anthracis.

3.

Priadi, Adin; Natalia, Lily (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Peran Clostridium necrotic enteritis dalam gangguan pertumbuhan ayam. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008,Vol.13(1): p.52-60.

Abstrak

Clostridium perfringens (C perfringens) adalah mikroorganisme normal dari saluran usus ayam, atau dapat juga berperan sebagai bakteri patogen yang menyebabkan necrotic enteritis. C. perfringens hanya dapat menyebabkan necrotic enteritis jika terjadi perubahan dari tipe non toksik menjadi tipe yang mampu menghasilkan toksin. Toksin alpha (phospholipase C) telah diketahui merupakan kunci dari kejadian Clostridial necrotic enteritis (CNE). Falctor predisposisi yang paling banyak diketahui untuk terjadinya CNE adalah kerusakan mukosa usus akibat koksidiosis sehingga peka terhadap infeksi C. perfringens. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari performans ayam dalam kejadian CNE yang dibuat secara eksperimental, maupun CNE yang terjadi di lapangan. Diagnosis CNE dilakukan dengan uji lateks aglutinasi dan isolasi dan identifikasi agen penyebab. Selain itu, perubahan patologik dan histopatologik juga diamati. Pada penelitian percobaan, CNE dapat ditimbulkan jika Eimeria sp dan spora C. perfringens diinokulasikan pada ayam. Tanda klinis dari CNE biasanya adalah alas kandang yang basah dan diare, sedangkan adanya kenaikan tingkat kematian sering tidak jelas. Gangguan dalam pertumbuhan dan efisiensi pakan ayam mulai terlihat jelas pada minggu ke-5 karena adanya kerusakan usus dan diikuti pengurangan digesti dan absorbsi pakan. Bentuk subklinis dari CNE juga telah sering ditemukan di lapangan yang menjurus pada penurunan nyata performans ayam. Hasil pemeriksaan usus ayam menunjukkan bahwa bentuk subklinis CNE menyebabkan kerusakan pada mukosa usus. C. perfringens menyebabkan gangguan pencernaan dan absorbsi pakan, peningkatan ratio konversi pakan dan hambatan pertumbuhan ayam. Dua macam infeksi yang disebabkan oleh C. perfringens dan Eimeria sp. sering ditemukan pada kasus lapangan. Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa C. perfringens merupakan bakteri penyebab terjadinya gangguan partumbuhan.

Abstract

Clostridial necrotic enteritis in chicken associated with growth rate depression

Clostridium perfringens (C. perfringens) is a normal inhabitant of the intestinal tract of chickens as well as a potential pathogen causing necrotic enteritis. C. perfringens only causes necrotic enteritis when it transforms from non-toxin producing type to toxin producing type. The alpha toxin, (phospholipase C) is believed to be a key to the occurrence of Clostridia] necrotic enteritis (CNE). The best known predisposing factor is mucosal damage, caused by coccidiosis that damages the intestinal lining, making the gut susceptible to infections including C. perfringens. The purpose of this study was to observe the chicken performance in experimental CNE and field cases of CNE. Diagnosis of CNE were made by latex agglutination test, isolation and identification of the agent. Pathological and histopathological changes were also observed. Experimentally, NE could be reproduced when Eimeria sp and C. perfringens spores are inoculated in chicken. Signs of an NE are wet litter and diarrhea, and an increase in mortality is not often obvious. The depression of growth rate and feed efficiency of chicken become noticeable by week 5 because of damage to the intestine and the subsequent reduction in digestion and absorption of food. Subclinical form of CNE was also frequently found in the field, leading to significant decreases in performance. Chicken gut samples examinations revealed that subclinical form of CNE causes damage to the intestinal mucosa caused by C. perfringens leads to decreased digestion and absorption, increased feed conversion ratio and reduced weight gain. Dual infection with C. perfringens and Eimeria sp. was frequently found in field. The results of these studies provide evidence for C. perfringens as a causative bacteria for growth depression.

4.

Soeripto (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efikasi Tiamulin Hydrogen Fumarat 10 persen pada pakan untuk pencegahan Chronic Respiratory Disease pada ayam potong. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008, Vol.13(1) :p.67-73.

Abstrak

Chronic respiratory disease (CRD) pada ayam sampai saat ini masih merupakan penyakit yang merugikan industri perunggasan di seluruh dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas dan keamanan penggunaan Tiamulin hydrogen fumarat 10 persen yang dikombinasikan dengan monensin untuk pencegahan CRD pada ayam potong. Sebanyak 630 ekor anak ayam potong umur sehari dibagi menjadi 3 kelompok dan tiap kelompok dibagi lagi atas 7 subkelompok yang terdiri dari 30 ekor dengan porsi jumlah jantan dan betina sama. Tiap subkelompok di kandangkan secara acak pada 2 kandang rumah. Awalnya sampai dengan umur 3 minggu semua ayam diberi pakan starter (SP1) yang mengandung monensin 100 ppm. Kelompok I hanya diberi pakan starter SPI, digunakan sebagai kontrol. Kelompok II diberi pakan starter SPI yang diberi Tiamulin hydrogen fumarat 30 ppm (3-6 mg/kg) dan amoxicillin 110 ppm. Pakan ini disebut dengan SPI+. Semua ayam pada Kelompok III diberi pakan starter SPI dan pada air minumnya diberi 10 persen enrofloxacin dengan dosis 0,5ml/L air minum selama 5 hari pertama. Setelah umur 22 hari sampai akhir penelitian umur 32 hari semua ayam di Kelompok I, II dan III diberi pakan finisher SP2 yang tidak mengandung monensin ataupun Tiamulin hydrogen fumarat. Hasil penelitian, pertambahan bobot badan dan konversi pakan secara statistik tidak memperlihatkan perbedaan nyata antara Kelompok I, II dan III, tetapi pada minggu ke 2 konversi pakan pada Kelompok II memperlihatkan perbedaan nyata dibandingkan dengan Kelompok I dan III. Gejala klinis akibat gangguan keracunan kombinasi monensin dan Tiamulin hydrogen fumarat pada Kelompok II tidak terjadi. Lesi airsacculitis dan ascites tidak terlihat pada Kelompok II, dan hanya terjadi pada ayam di Kelompok I dan III. Semua ayam yang coati pada Kelompok I memperlihatkan lesi pneumonia, tetapi pada Kelompok II hanya 1 ekor yang memperlihatkan lesi pneumonia, yang secara statistik berbeda nyata. Isolasi Mycoplasma gallisepticum dan Escherchia coli hanya diperoleh dari pneumonia dan ascites pada ayam di Kelompok I dan III. Data tersebut ini menunjukkan bahwa Tiamulin hydrogen fumarat 30 ppm dan amoxicillin 110 ppm adalah efektif untuk pencegahan CRD pada ayam potong dan aman jika dikombinasikan dengan monensin 100 ppm.

Abstract

The efficacy of Tiamulin hydrogen fumarat 10% in the feed to prevent chronic respiratory disease in broiler chickens

Up to presence chronic respiratory disease (CRD) of chickens is still causing economic losses against poultry industries in the world. The purpose of this trial is to determine the efficacy and safety of a compatible dose of Tiamulin hydrogen fumarat 10 percent in combination with monensin for the control of CRD in broilers. A number of 630 day-old broilers were divided into 3 groups and each group was divided again into 7 subgroups of 30 equally sexed birds. Each subgroup was placed randomly in 2 chicken houses. Up to 3 weeks of age, chickens in Group I were fed with starter feed (SP1) containing 100 ppm monensin only without other treatment and used as control. Chickens in Group II were fed with SPI feed containing 30 ppm Tiamulin hydrogen fumarat (3 - 6 mg/ kg BW) and 110 ppm amoxicillin, this feed is called SPI+, whereas chickens in Group III were administered with SPI feed and treated with enrofloxacin liquid formulation 10 percent with a dose 0.5m1/L in drinking water for the first 5 days of life. Started from 22nd day until the end of the experiment at 32 days of age, all chickens in Groups I, II and III were fed with SP2 finisher feed containing neither monensin nor Tiamulin hydrogen fumarat. The results of the experiment showed that no statistical difference in bodyweight and feed conversions among the groups at 32 days of age but feed conversion in Group II was statistically different compared to those in Groups I and III at week 2. No clinical signs of toxic interaction of monensin combined with Tiamulin were observed. Lesions of airsacculitis and ascites occurred only in dead chickens of Groups I and III but not in chickens of Group II. The incidence of pneumonia in Group I occurred in all dead birds which is statistically different to Group II that had one lesion of pneumonia. Mycoplasma gallisepticum and Escherichia coli organisms were able to be isolated from the chickens that had pneumonia and ascites in Groups I and III only. The results of the experiment showed that combination of 30 ppm Tiamulin hydrogen fumarat + 110 ppm amoxicillin is effective for preventing CRD in broilers and save if it is combined with 100 ppm monensin.

MYCOLOGY

5.

Ahmad, Riza Zainuddin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pemanfaatan cendawan untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008,Vol.27(3):p.84-92.

Abstrak

Cendawan merupakan mikroorganisme eukariotik, memproduksi spora, tidak berklorofil, memperoleh nutrisi dengan cara absorbsi, bereproduksi secara seksual dan aseksual, mempunyai struktur somatik dalam bentuk hifa, dan berdinding sel yang terdiri atas kitin dan selulosa. Cendawan-cendawan tertentu dapat dimanfaatkan untuk ternak, seperti kapang Beauveria bassiana, Duddingtonia flagrans, dan Metarhizium anisopliae yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan ternak dan pengendali hayati. Khamir Saccharomyces cerevisiae dapat berperan sebagai probiotik dan imunostimulan untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak. Mikroba isolat lokal Indonesia ini merupakan hasil penelitian dalam kurun waktu 20 tahun, dimulai pada tahun 1980-an sampai dengan 2000-an. Sebelum terpilih sebagai cendawan yang bermanfaat bagi ternak, cendawan melalui tahapan seleksi yang panjang. Dari isolat-isolat yang berhasil diisolasi dan diidentifikasi, hanya sedikit yang terpilih sebagai pengendali hayati, probiotik atau imunostimulan.

Abstract

Fungi are eukaryotic microorganisms, produce spores, have no chlorophyll, obtain nutrition by absorbing, reproduce sexually and asexually, have somatic structure in hifa shape, and have cell wall made of chitin and cellulose. Certain fungi can be used for livestock. These mould and yeast are Beauveria bassiana, Duddingtonia flagrans, and Metarhizium anisopliae that can be used for increasing healthy as biological control. Saccharomyces cerevisiae yeasts are used for increasing productivity and healthy as probiotic and immunostimulant. These original isolates from Indonesia were the results for the last 20 years beginning in 1980s to 2000s. Before being chosen as fungi used for the livestock, the fungi went through some stages of a long selection. However, from the isolates successfully isolated and identified only a few were chosen as biological control, probiotic or immunostimulant.

6.

Kusumaningtyas, Eni; Astuti, Estie; Darmono (Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Sensitivitas metode bioautografi kontak dan Agar Overlay dalam penentuan senyawa anti kapang. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 2008, Vol.6(2): p.75-79

Abstract

Bioautography method is a laboratory technique to detect substances inhibiting the growth of tested microorganisms. The sensitivity of contact and agar overlay bioautography was compared to define a recommended method for detecting antifungal compound. In contact bioautography, n-hexane extract of Alpinia galanga was eluted with dichloromethane and toluene on a thin layer chromatography plate (silica gel GF 254). The separated compounds were diffused from chromatogram spots to a Thrichophyton mentahrophytes inoculated Saboraund Dextrose Agar plate. The plate was incubated at 37 der. C for 3 days. Inhibition zone was observed and the hRf value was defined. Agar overlay bioautography was performed by covering chromatogram spots with a molten Saboraund Dextrose Agar medium seeded by Trichophyton mentagrophytes. After solidification, the chromatogram plate was incubated at 37 der. C overnight and then was stained with Methyl Thiazole Tetrazolium. The inhibition growth bands were visualized and hRfs value were recorded. A contact bioautography produces one band while agar overlay bioautography produces four bands. Agar overlay bioautography was therefore more sensitive than contact bioautography.

MYCOLOGY; MEDICINAL PLANTS

7.

Gholib, Djaenudin; Darmono (Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pengaruh ekstrak lengkuas putih [Alpinia galanga (L.) Willd] terhadap infeksi Trichophyton mentagrophytes pada kelinci. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 2008,Vol.6(2) :p.57-62.

Abstract

Lengkuas putih [ Alpinia galanga (L) Willd ] has long been known to be used in treatment of dermatophytosis, a skin disease caused by dermatophytes fungi such as Trichophyton mentagrophytes. The fungi infects hairs, skin, and nails that contain keratin. The study was conducted in order to measure the effect of etanol extract of Alpinia galanga in inhibiting Tricphyton mentagrohytes colonies both through in vitro test and in vivo test using infected rabbits. The results showed that minimal inhibition concentration (MIC) of Alpinia galanga extract was 1.5 percen. The extract was administered in cream preparation on in vivo test with minimal concentration (1.5 percen). Three group of rabbits were treated with the extract cream preparation (Group I), 2 percen with ketokonazol cream (Group II, posotive control), and with none (Group III, negative control), respectively. The results showed that the infected rabbits treated with either cream containing the extract or ketokonazol were better recovered from infection than the rabbits in negative control group.

PARASITOLOGY

8.

Subekti, Didik Tulus (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Artama, W.T (FKH UGM Jogyakarta); Sulistyaningsih, E (FKH Negeri Jember); Poerwanto, S.H. (Fakultas Biologi UGM, Jogyakarta); Sari, Y (PAU Bioteknologi UGM, Jogyakarta). Kloning dan analisis hasil kloning Gen GRA1 dari Takizoit Toxoplasma gondii isolat lokal. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008, Vol.13(1): p.43-51.

Abstrak

Protein GRAI disandi oleh gen GRAI dari takizoit Toxoplasma gondii. Protein GRAI bersifat imunogenik dan memiliki peranan dalam modifikasi vakuola parasitoforus sehingga esensial untuk virulensi dan terkait dalam imunopatogenitas. Isolat lokal T gondii yang telah berhasil diisolasi diketahui sangat patogen dan memiliki virulensi setara dengan galur RH. Namun homologi sekuen gen GRAI dan studi mendalam mengenai protein GRAI masih belum diketahui. Hal tersebut dapat dicapai apabila telah dapat dilakukan kloning dan ekspresi dari gen GRAI. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan kloning dan analisis hasil kloning terhadap gen GRAI dari T gondii isolat lokal. Takizoit T. gondii isolat lokal diperbanyak di mencit. Selanjutnya total mRNA diisolasi dan dimurnikan. Amplifikasi gen GRAI dilakukan menggunakan sepasang primer GRAI untuk mendapatkan cDNA GRA1. cDNA GRAI hasil kloning yang telah diperoleh dianalisis homologinya dengan cDNA GRAI dari T gondii galur RH. Hasil analisis menunjukkan bahwa cDNA GRAI hasil kloning memiliki homologi 84 persen namun setelah dilakukan analisis editorial pada sekuens DNS diketahui memiliki homologi 100 persen pada CDS GRAI.

Abstract

Cloning and Clone Analysis of GRA1 Gene from Local Isolate Toxoplasma gondii Tachyzoite

The GRAI gene of Toxoplasma gondii encoding protein called GRAI protein. GRAI protein known to be immunogenic and essentialy involved in modification of parasitophorus vacoule which has role in immune evasion and virulency of organism. The local isolate of T gondii is successfuly isolated and known as highly pathogenic isolate similarly as its RH strain. Unfortunately, the homology sequence of GRAI gene between those isolate still unknown. The purpose of the research are to clone the GRAI gene and to analyze the homology from pathogenic T gondii isolate and RH strain. Tachyzoite of T gondii was grown in mice peritoneum by intraperitoneal injection. Then, total mRNA was isolated and purified. cDNA was synthesized from mRNA and then amplified using F1 dan RI primers to get clone of GRAI from local isolate. Homology analysis was perform using several bioinformatic softwarcs. The result showed that cDNA of GRAI from local isolate has 84 percent homology with RH strain of Tgondii. However, when subsequently editing performed to parts of suspected non coding sequence of cDNA GRAI to get CDS of GRAI, the homology was increase to 100 percent compare to CDS of GRAI of RH strain.

MEDICINAL PLANTS

9.

Yuningsih; Damayanti, Rini (Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Studi awal : efektivitas ekstrak air biji picung (Pangium edule) terhadap mencit dan anjing sebagai pengganti racun Strychnine dalam upaya eliminasi anjing liar. Buletin Penelitian Tanaman Obat dan Rempah. 2008, Vol.19(1): p.86-94.

Abstrak

Penyakit rabies (penyakit anjing gila) sudah lama dikenal dan sangat ditakuti oleh masyrakat karena dapat menyebabkan kematian. Pemberantasannya melalui eliminasi anjing liar, menggunakan strychnine sintetik yang harus diimpor dan cukup mahal harganya. Ekstrak air biji picung (Pangium edule) mudah diperoleh dan murah, menggunakan sianida sangat tinggi sehingga berpotensi sebagai penganti strychnine. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Veteriner, Bogor sejak September 2004 sampai Maret 2005. Penelitian dilakukan 3 tahapan, yakni :1) mencari buah picung ke daerah cianjur (Bojongpicung), Sukabumi (Pelabuhanratu) dan Garut (Pameungpeuk), 2) analisis sianida dalam biji picung dengan cara spektrofotometri, 3) percobaan pemberian ekstrak air biji picung (EABP) dengan konsentrasi 100 persen (b/v) secara oral pada a) mencit dalam 5 macam dosis (penetapan LD 50): 0,05; 0,1 0,2; 0,4 dan 0,8 ml EABP untuk 10 ekor/dosis b) anjing dalam 3 macam dosis : 0,5; 1,0 dan 2,0 ml EABP, masing-masing dalam campuran makanan baso untuk 1 ekor/dosis. Pemberian dosis tunggal : 2,5; 5,0 dan 10,0 ml EABP untuk 1 ekor/dosis. Kemudian dilakukan nekropsi, gambaran pasca mati dan histopatologi apabila hewan mati. Hasil percobaan menunjukkan bahwa LD50 pada mencit: 21,88 mg/kg sianida dalam EABP (0,23 ml EABP). Kemudian dosis letal pada anjing: 5,0 ml dengan berat badan 3,5 kg (mati dalam 1,5 jam), sedangkan dosis 10,0 ml tidak menyebabkan kematian karena dimuntahkan. Gambaran pasca mati pada mencit dan anjing konsisten yaitu unumnya pembedungan dan perdarahan, sebagaian besar pada organ viseral yang sesuai dengan gambaran histopatologinya, tetapi paling parah pada paru-paru, lambung dan usus yang dapat dihubungkan dengan tingkat keparahan dalam kematiannya, maka pemberian EABP dapat dipakai sebagai pengganti strychnine dalam eliminari anjing liar.

TOXICOLOGY

10.

Arifin, Zainal (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Beberapa unsur mineral esensial mikro dalam sistem biologi dan metode analisisnya. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2008,Vol.27(3): p.99-105.

Abstrak

Mineral esensial adalah mineral yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk proses fisiologis, dan dibagi ke dalam

dua kelompok yaitu mineral makro dan mineral mikro. Mineral makro dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar, yang terdiri atas kalsium, klorin, magnesium, kalium, fosforus, natrium, dan sulfur. Mineral mikro diperlukan tubuh dalam jumlah kecil, seperti kobalt, tembaga, iodin, besi, mangan, selenium, dan seng. Keperluan optimum akan berbagai mineral tersebut belum banyak diketahui dengan pasti, sedangkan mineral mikro dapat ditemukan pada berbagai bagian tubuh walaupun dalam jumlah sedikit. Kekurangan (defisiensi) mineral, baik pada manusia maupun hewan, dapat menyebabkan penyakit. Sebaliknya pemberian mineral esensial yang berlebihan dapat menimbulkan gejala keracunan. Analisis kandungan mineral dalam jaringan biologik dengan metode spektrofotometri serapan atom dapat mendiagnosis kasus defisiensi atau keracunan mineral.

Abstract

Some microminerals which are essential for biological system and its analysis methods

Essential minerals are important for physiological process in biological life, and divided into two groups that are macrominerals and microminerals. Macrominerals are required by a body in gross, consisted of calcium, chlor, magnesium, potassium, phosphorus, sodium, and sulfur. Microminerals are needed in few like cobalt, copper, iodine, iron, manganese, selenium, and zinc. Optimum needs of those various minerals have not been exactly known yet, while microminerals can be found in almost all over the body although only in a small amount. Lacking (deficiency) of both minerals in human being or in animal can cause disease. On the contrary, high doses of the essential minerals can also cause toxicity. Mineral analysis by atomic absorption spectrophotometry in the biological tissues can diagnose the deficiency or toxicity of the minerals.

11.

Tangendjaja, Budi; Wina, Elizabeth (Indonesian Research Institute for Animal Production, Ciawi) Rachmawati, Sri (Indonesian Research Center for Veterinary Science, Bogor). Mycotoxin contamination on corn used by feed mills in Indonesia. Indonesian Journal of Agricultural Science. 2008, Vol.9(2): p.68-76.

Abstract

Mycotoxins which are secondary metabolites of fungi contaminate agricultural products such as corn and have deleterious effects oh human and animal. The objective of this study was evaluate the mycotoxin contamination on local and imported corn samples collected from different feed mills in Indonesia. Three hundred fifty six of corn samples (0.50 kg each) were sent by several feed mills to the Indonesian Research Institute for Animal Production during 2005-2006. The background information accompanied wirh each sample was country/province of arigins, harvesting seasons, postharvest drying methods, moisture levels, grades, and varieties. The samples were analyzed for various mycotoxins, i.e. aflatoxin (AFL), ochratoxin (CRA), zearalenone (ZEN), fumonisin (FUM), deoxynivalenol (DON), and T2 toxin using commercial kits, except for AFL which was analysed using a kit developed by the Indonesian Research Center for Veterinary Science. The results showed that average AFL level in the contaminated corn originated from Indonesia was 50 ug kg to the power of -1, almost 7 times higher than that imported from the USA or Argentina. Among the types of mycotoxins detected, FUM was the highest with an average of 1193 ug kg to the power of -1, followed by DON, ZEN and OCRA at levels in contaminated local corn samples varied depending on the province of origins as well as harvesting seasons, postharvest drying methods, and moisture contents. The least mycotoxin contaminations were found on corn originated from North Sumatra and Lampung with the AFL levels were < 20 and < 50 ug kg to the power of -1, respectively. Mycotoxin levels, however, were less affected by grading made by feed mills and corn varieties. It is indicated that AFL was the most important mycotoxin as far as for animal feeding concerned, as it contaminated almost 50 persen of local corn with the level of contaminated above the Indonesian National Standard, i.e. 50 ug kg to the fower of -1. The study suggests that postharvest methods of local corn must be improved to reduce mycotoxin contamination.

12.

Widiastuti, Raphaella (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Residu Enrofloksasin dan Siprofloksasin pada ayam pedaging pasca pencekokan Enrofloksasin. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008, Vol.13(2) :p.150-154.

Abstrak

Keberadaan residu obat hewan pada bahan pangan asal temak dapat mengancam kesehatan manusia seperti terjadinya resistensi terhadap infeksi Campylobacter akibat penggunaan enrofloksasin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi residu enrofloksasin (EFX) dan metabolitnya siprofloksasin (CFX) yang terdistribusi dalam daging dada, paha dan hati serta waktu eliminasinya pada ayam pedaging yang dicekok dengan enrofloksasin dengan dosis 50 mg /kg BB per hari selama 9 hari berturut-turut pada umur 23 hingga 31 hari. Daging dada, paha dan hati yang dikoleksi dari ayam yang diterminasi pada jam ke-0,5 hingga ke-288 pasca pencekokan. Sampel dianalisis terhadap residu EFX dan CFX secara kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa urutan konsentrasi tertinggi residu EFX dan CFX yang terdistribusi di daging dada, paha dan hati pada 0,5 jam pasca pencekokan terakhir adalah hati (117,47 ng/gr), dada (95,16 ng/g) dan paha (71,40 ng/g). Sementara itu, urutan kecepatan menghilang secara total adalah paha (120 jam), hati (168 jam) dan terakhir dada (240 jam). Residu CFX yang terbentuk pada penelitian ini jauh lebih besar dibandingkankan residu EFX yang terbentuk.

Abstract

Enrofloxacin and ciprofloxacin residues in broiler chicken post administration of enrofloxacin

The presence of drug residue in animal product may threat human health such as increasing resistance to Camplyobacter infection treatment due to the use of enrofloxacin. The objectives of this research was to study the concentration of enrofloxacin (EFX) and ciprofloxacin (CFX) residues distributed in breast, thigh and liver and to determine the elimination rate of such residues in chicken which recieved enrofloxacin orally at 50 mg/kg bw daily for 9 days consecutively started at 23rd day to 31', day of age. Samples of breast muscle, thigh and liver were collected from chicken at half to 288 h after the drug administration. The concentration of EFX and CFX in samples were analyzed by high pressure liquid chromatography (HPLC). The results showed that the highest residues concentration of EFX and CFX at half hr post administration of EFX was: in liver (117.47 ng/g), breast (95.16 ng/gr) and thigh (71.40 ng/g), whereas the order of elimination rate was: thigh (120 hr), liver (168 hr) and breast (240 hr). The results also showed that concentration of CFX was higher than that of EFX.

VIROLOGY

13.

Saepulloh, Muharam; Adjid, R.M. Abdul; Darminto (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Wibawan, I. Wayan T (FKH IPB). Pengembangan Nested PCR untuk deteksi Bovine herpesvirus-1 (BHV-1) pada sediaan usap mukosa hidung dan semen asal sapi. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008, Vol.13(2): p.155-164.

Abstrak

Telah berhasil dikembangkan nested Polymerase chain reaction (nPCR) untuk mendeteksi keberadaan BHV-1 pada sediaan usap mukosa sapi dan semen. Nested PCR memanfaatkan primer ekstemal dan internal yang berasal dari gen glikoprotein D (gD) dan hasilnya menunjukkan bahwa nPCR memiliki tingkat sensitivitas 1000 kali lebih tinggi dibandingkan dengan PCR yang hanya menggunakan primer ekstemal. Sementara itu, limit deteksinya dapat mencapai hingga 5 ag/pI pada sampel DNA BHV-1 mumi dan 100,75 TCID50/0,5 ml pada BHV-1 yang diinfeksikan ke sel MDBK. Sedangkan dengan PCR biasa yang menggunakan primer ekstemal hanya memiliki limit deteksi hingga 5 fg/VI pada DNA BHV-1 murni. Berdasarkan uji spesivisitas, nPCR hanya mampu mendeteksi virus yang termasuk kelompok BHV-1, sedangkan kelompok virus BHV-4, PRV, PI-3 dan BRSV tidak dapat terdeteksi. Selanjutnya, nPCR yang dikembangkan ini telah berhasil mendeteksi BHV-1 pada sampel usap mukosa asal sapi yang secara klinis normal. Sebanyak 405 sampel yang terdiri dari 381 sediaan usap mukosa hidung dan 24 semen telah diuji dengan nPCR. Hasil menunjukkan bahwa dari 381 sediaan usap mukosa hidung terdeteksi positif 14 sampel (3,68 persen) yaitu 4,42 persen (13/294) dari Pengalengan dan 1,54 persen (1/87) dari Bogor. Sementara itu, untuk sampel semen beku (extended semen) hanya terdeteksi 18,18 persen (2/11) berasal dari Bogor dan 15,38 persen (2/13) semen cair (fresh semen) asal Pasuruan terdeteksi positif BHV-1 dengan nPCR. Nested PCR yang dikembangkan ini memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi, cepat dan mudah pengerjaannya dibandingkan dengan isolasi virus yang merupakan metode standar. Oleh karena itu, nPCR merupakan uji yang paling sensitif untuk mendeteksi BHV-1 pada sediaan usap mukosa dan semen sapi, sehingga akan sangat ideal digunakan untuk diagnosa rutin.

Abstract

Development of a nested PCR for detection of

Bovine herpesvirus-1 (BHV-1) in bovine nasal secretion and semen

A nested polymerase chain reaction (nPCR) assay for detection of Bovine herpesvirus-1 (BHV-1) in bovine semen and nasal secretions was successfully developed. The nested Polymerase Chain Reaction was based on external and internal primers from the viral gD glycoprotein gene. This nPCR assay was 1000-fold more sensitive than using PCR external primer. The nested PCR has a detection limit as low as 5 ag/pI pure BITV-I DNA and 10"," TCID,,/500 pL BHV-1 infected cells. On the other hand, PCR using external primer had detection limit of about 5 fg/pI pure BHV-1 DNA. Specificity studies showed that nPCR could only detect BHV-1, whereas BHV-4, PRV, PI-3 and BRSV can not be detected. In addition, nPCR was also capable in detecting BHV-1 in nasal secretion samples from animal without clinical signs. A total of 405 samples consisted of 381 nasal secretion and 24 fresh semen samples have been tested with the nPCR. The result revealed that from 381 nasal secretion samples tested, 14 samples showed to be positive (3.68 percent), consisting of 13 out of 294 (4.42 percent) nasal secretion samples collected from Pangalengan West Java, and 1 out of 87 (1.54 percent) samples collected from Bogor. Furthermore, 2 out of 11 (18.18 percent) extended semen samples collected from Bogor and 2 out of 13 (15.38 percent) fresh semen samples collected from Pasuruan also showed to be positive. In addition, the nPCR was faster and easier to perform than the standard viral isolation test. It is concluded that, the nPCR can be used as test of choice for routine diagnosis of BHV-1.

14.

Sendow, Indrawati; Adjid, R.M. Abdul; Syafriati, Tatty; Darminto (Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Field, Hume (Department of Primary Industry, Australia); Morrissy, Chris; Daniels, Peter (Australian Animal Health Laboratory Australia). Seroepidemiologi Nipah virus pada kalong dan ternak babi di beberapa wilayah di Indonesia. Jurnal Biologi Indonesia. 2008, Vol.5(1): p.35-44.

Abstract

Nipah is a dangerous zoonotic disease which was carried by flying fox. The disease had been occurred in Malaysia in 1999 and infect pigs and caused human death. Indonesia is adacent country to Malaysia, hence, a serological study had been conducted on 156 flying fox (P. vampyrus) sera from North Sumatera, West Java, Central Java and East Java. Besides that, 2740 pig sera was randomly collected in different provinces to detect Nipah infection. Both flying fox and pig sera were tested using ELISA test to detect Nipah antibody. The results indicated that 37 from 156 flying fox sera (23.7 persen) has antibodies against Nipah virus. Infections were occured in all sampling sites with the prevalence varied from 18 persen to 33 persen. Meanwhile, on pig sera tested (2740) had antibody against Nipah virus. Based on these results it can be concluded that Nipah virus infections were occurred in flying fox in some parts in Indonesia, but not in pigs. It was suggested that the presence of Nipah virus in Indonesia should be anticipated. Hence the distribution of its infection in pigs and human must be anticipated. Monitoring of Nipah infection in areas adjacent to Malaysia must be increased to detect the entering of the disease in Indonesia.

15.

Nugroho, Widagdo Sri; Wahyuni, Aeth (FKH, Universitas Gajah Mada); Adji, Rahmat Setya (Balai Besar Penelitian Veteriner). Uji Konfirmasi Isolat Lokal Terduga Mycobacterium avium Subspecies Paratuberculosis Menggunakan Polymerase Chains Reaction (PCR) F57. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2008, Vol. 13(2): p.127-132

Abstrak

Seropositif dan satu isolat terduga terhadap Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis (MAP) ditemukan pada sapisapi di daerah Jawa Barat. Bakteri ini menyebabkan penyakit Johne (JD) dan berpotensi menjadi penyakit baru pada sapi perah di Indonesia. Penelitan ini bertujuan untuk memastikan isolat yang diduga kuat sebagai bakteri MAP dengan menggunakan PCR. Pembiakan ulang isolat MAP referensi, isolat terduga MAP, dan Mycobacterium avium subspecies avium dilakukan dengan melarutkan bakteri ke dalam PBS 0,5% kemudian diinokulasikan ke herrold’s egg yolk medium yang diperkaya mycobactin (HEYM) dan diinkubasi pada suhu 370C selama 16 minggu. Biakan bakteri tumbuh dengan waktu yang bervariasi, isolat MAV terdeteksi mulai minggu ke-3, isolat MAP referensi mulai minggu ke-7 dan isolat lokal terdeteksi mulai minggu ke-14. Uji konfirmasi dilakukan dengan uji reaksi polimer berantai (PCR) dengan menggunakan primer F57. Hasil uji PCR F57 tehadap isolat lokal terduga MAP menunjukkan bahwa isolat tersebut bukan Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis.

Abstract

Confirmation test of suspected Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis (MAP)

isolated using PCR F57.

Seropositive and isolate suspected as Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis (MAP) was detected at dairy cows in West Java. This bacteria causes Johne’s disease (JD) and potentially becomes a new emerging disease for Indonesian dairy cows. The aim of this study was to confirm the suspected local isolate as a MAP distinctively by PCR. Reculture of MAP reference isolate, suspected local isolate done by resuspending bacteria in PBS 0.5% and inoculating it in Herrold’s egg yolk medium with mycobactin J (HEYM) and than inoculating it in 37oC for 16 weeks. The cultures grew in various time, Mycobacterium avium subspecies avium was detected in 3rd week, MAP reference was detected in 7th week, and local isolate was detected in 14th week. The confirmation test was carried out by PCR with primer F57. The PCR F57 result showed that MAP suspected isolate was not a Mycobacterium avium subspecies paratuberculosis.

LOCAL PROCEEDINGS

BACTERIOLOGY

16.

Ariyanti, Tati; Supar (Balai Besar Penelitian Veteriner). Aplikasi vaksin enterotoksigenik Escherichia coli polivalen pada induk sapi perah untuk meningkatkan daya proteksi kolostrum dalam pengendalian neonatal kolibasilosis. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.239-246.

Abstrak

Enterotoksigenik Escherichia coli (ETEC), menyebabkan diare dan kematian anaksapi perah serta menghambat perkembangan populasi sapi perah. Tujuan kajian penelitian ini ialah untuk mengetahui efektifitas vaksin ETEC polivalen isolat lokal untuk pengendalian diare neonatal pada anak sapi perah. Vaksin dibuat dari ETEC K99 serogroup O 9 dan O 101, ETEC F41 serogrup O 101, ETEC K99F41 serogroup O 101. Antigen vaksin dibuat dalam bentuk inaktif dan diemulsikan dalam larutan gel alumunium hidroksida pada konsentrasi akhir 1,5 persen dan konsentrasi sel dibuat setara dengan kekeruhan tabung standar McFarland no.10. Prasurvei dilakukan di kabupaten Bandung, Sukabumi dan Bogor untuk menentukan peternak responden, mengetahui prevalensi diare pada anak sapi, koleksi sampel ulas rektal untuk isolasi dan sampel kolostrum 5-10 ml post partus untuk pemeriksaan respon antibodi. Dua kali vaksinasi dengan dosis vaksin 5 ml diijeksikan pada sapi umur kebuntingan 6 minggu dan 2 minggu sebelum perkiraan partus. Anak sapi lahir dariberi kolostrum induknya masing-masing. Sampel kolostrum dan sus diperiksa secara ELISA terhadap antigen pili K99 dan F41. Prevalensi diare pada pengamatan prasurvei sebesar 15.5 persen (932/207). ETEC K99 dan ETEC F41 dapat diisolasi. Respon anti-K99 dan atau anti-F41 IgG antibodi sangat tinggi pada hari pertama post partus dan terus menurun pada beberapa hari berikutnya. Rata-rata bobot badan anak sapi lahir dari kelompok induk divaksinasi lebih cepat danlebih tinggi dibandingkan anak sapi lahir dari induk yang tidak divaksinasi. Disimpulkan bahwa aplikasi vaksin ETEC polivalen isolat lokal menstimulir respon antibodi protektif terhadap pili K99 dan F41, menurunkan kasus infeksi ETEC K99 F41 dan diare di lapang.

Abstract

The Application of Enterotoxigenic Escherichia coli Polyvalent Vaccine in Pregnant Dairy Cows for Increasing Colostral Protection to Control Neonatal Colibacillosis

Enterotoksigenik Escherichia coli (ETEC) strains are the cause of diarrhoea in newborn calves. The aim of this study was to evaluate the effectivity of local isolate ETEC polyvalent vaccines for controlling neonatal diarrhoea in the calves. The killed whole cell vaccines were prepared from locally isolates of ETEC K99 associated with 09 and or 0101 serogroups, ETEC F41 associated with 0101 serogroup, whereas ETEC containing K99F41 fimbrial antigens associated with 0101 serogroup. The killed whole cell antigens were produced then adjuvanted with aluminium hydroxide gel at final concentration of 1.5 % and cell concentration was equal to the number 10 of the Mc Farland tube standard. The prevaccination visits were conducted at the areas of Bandung, Sukabumi and Bogor districts to determine the farmer respondents and the prevalence of diarrhoea! disease of calves, to collect rectal swabs and colostrum samples. Dam vaccination trials were conducted in farmer respondent. Each pregnant cow was injected subcutaneously with 5 ml of vaccine at 6 weeks and 2 weeks before the expected date of calving. The newborn calves were given colostrum from their mothers. The colostrum and milk samples were tested by ELBA against K99 and F41 fimbrial antigens. The prevalence of calves diarrhoea at prevacination was found 15.5% (932/207). ETEC K99 and F41 serotypes were isolated from diarrhoea cases of unvaccinated animal groups. Anti-K99 and -F41 antibody responses showed very high in the colostrum on the first day of post partus and decrease on several days following. Average of body weight of calves from vaccinated cow groups were better than calves from unvaccinated cow groups. The vaccination studied concluded that dam vaccinations with a local isolates of ETEC polyvalent vaccines at gestation of pregnant cows could produce a protective antibody responses against K99 and F41 fimbrial antigens, reduced ETEC K99 and F41 infection and diarrhoeal disease of calves under field conditions.

17.

Chotiah, Siti (Balai Besar Penelitian Veteriner). Beberapa bakteri patogen yang mungkin dapat ditemukan pada susu sapi dan pencegahannya. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.259-271.

Abstrak

Salah satu program pemerintah di sektor pertanian dalam meningkatkan produksi protein hewan adalah meningkatkan produksi susu. Produksi susu Indonesia dari tahun ke tahun selalu tidak bisa diimbangi oleh permintaan konsumen. Susu sapi. disamping mengandung unsur yang diperlukan untuk kesehatan dan kecerdasan manusia juga merupakan media pertumbuhan yang sangat baik bagi bakteri dan dapat menjadi sarana potensial bagi penyebaran bakteri patogen yang membahayakan kesehatan konsumen. Untuk jaminan mutu susu dan memberikan perlindungan kesehatan dan keamanan kepada konsumen telah ditetapkan Standar Nasional Indonesia nomor 01-6366-2000 yang mengatur batas maksimum cemaran mikroba dalam susu. Beberapa bakteri yang tidak boleh ada di dalam susu sapi segar, susu pasteurisasi dan susu bubuk antara lain Escherichia coli patogenik, Clostridium sp, Salmonella sp, Campyilobacter sp dan Listeria sp. Sedangkan bakteri Coliform (termasuk di dalamnya Enterobacter sakazakii), Enterococci dan Staphylococcus aureus masih diperbolehkan ada dalam jurnlah tertentu. Oleh karena itu proses produksi susu harus menerapkan sistem keamanan pangan mulai dari tingkat produsen sampai ke konsumen.

Abstract

The Pathogenic Bacteria which Probable to be Found in Cow Milk and its Prevention

One of the government programs at agriculture sector for increasing animal protein production was increasing milk production. From year to year, Indonesian milk production could not meet the consumers demand. The components of milk besides containing materials needed for human health and intelligence is very good also as bacterial growth medium. Pathogenic bacterial could be spread through milk consumption which will be dangerous to human health. The Indonesian National Standard number 01-6366-2000 regulated the maximum level of microorganisms contamination in milk, which is guarantee the milk quality, health protection and safety. Several bacterial that should not be found in milk, pasteurized milk, and skim milk are pathogenic Escherichia coli Clostridium sp, Salmonella sp, Campylobacter sp and Listeria sp. Whereas Coliform (including Enterobacter sakazakii), Enterococci and Staphylococcus aureus are still to be permitted on certain count. Therefore, milk production processes have to apply food safety system starting from the farm to the table.

18.

Chotiah, Siti (Balai Besar Penelitian Veteriner). Diare pada anak sapi : Agen penyebab, diagnosa dan penanggulangan. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.336-343.

Abstrak

Diare merupakan keluhan umum pada anak sapi terutama pada umur beberapa bulan setelah lahir. Kerugian yang nyata dirasakan oleh peternak termasuk gangguan pertumbuhan pada sapi anak yang masih bisa bertahan hidup, biaya pengobatan dan kematian. Diare pada sapi anak disebabkan oleh banyak agen patogen: bakteri, virus dan protozoa, selain itu disebakan oleh manajemen perubahan pakan. Beberapa agen patogen tersebut merupakan agen zoonosis seperti Salmonella spp., Escherichia coli eneropatogenik tipe tertentu, Cryptosporidium spp.dan Giardia spp. Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya penularan ke manusia, harus lebih hati-hati dalam menangani sapi anak penderita diare, tempat, peralatan dan sampel feces yang terkontaminasi. Perlunya program nutrisi cukup, sanitasi, manajemen dan kesehatan dalam suatu peternakan dilakukan dengan baik akan meminimalisir atau meniadakan kejadian diare. Untuk mencegah terjadinya diare yang mewabah di suatu peternakan, diperlukan pengukuhan diagnosa dan pengobatan yang cepat dan benar, dan kemampuan untuk memberikan saran.

Abstract

Calf Diarrhea: Causal Agents, Diagnosis and Control

Diarrhea is a common complain in calves particularly in the first few months of life. Significance economical losses of farmer include loss of performance and body weight of calf, medication and labor expenses for sick calves treatment and mortality. Calf diarrhea was caused by many pathogenic agents such as bacteria, virus, protozoa, and management practices at the farm. Several pathogens are zoonotic agents such as Salmonella spp., certain types of enteropathogenic Escherichia coli, Cryptosporidium spp. and Giardia spp. Therefore, great care must be taken when handling: diarrheaic calf, contaminated bedding and fecal samples to avoid infecting human. A good program of adequate nutrition, sanitation, management and good herd health program are necessary to minimize the incidence and losses of diarrhea. Early and correct diagnosis, treatment, and good advice will reduce incidence of a herd diarrhea outbreak.

19.

Noor, Susan Maphilindawati; Poeloengan, Masniari (Balai Besar Penelitian Veteriner). Pola kepekaan Enterobacter sakazakii terhadap antibiotika. Dalam: Prosiding 'Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p. 367-371.

Abstrak

lnfeksi pada bayi oleh bakteri Enterobacter sakazakii dilaporkan berhubungan dengan susu formula bayi yang terkontaminasi. E. sakazakii dapat menyebabkan meningitis, septicemi atau necrotic enterocolitis pada bayi lahir prematur. Pada penelitian ini dilakukan uji tingkat kepekaan bakteri E. sakazakii terhadap 9 macam antibiotika. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan antibiotika yang tepat untuk penanganan infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut Metode uji yang digunakan adalah difusi kertas cakram (Beaur Kirby) dengan mengukur diameter daerah hambat pertumbuhan bakteri yang terbentuk disekitar kertas cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat E. sakazakii yang diuji, sensitif terhadap antibiotika chlorampenicol (30ug), oxytetracyclin (30ug), amoxycilin (25ug) dan gentamycin (10ug) dan resisten terhadap ampicillin(10ug), novobiocin (30ug), vancomycin (30ug) dan penicillin (l0ug), sedangkan terhadap antibiotika neomycin (l0ug) bersifat intermediet.

Abstract

The Sensitivity of Enterobacter sakazakii to Antibiotics

Infant infections with Enterobacter sakazakii have been associated with contaminated powdered formula products. Subsequently, cases of meningitis, septicemia, and necrotizing enterocolitis due to E. sakazakii have been reported worldwide. This experiment was designed to determine the sensitivity of E. sakazakii towards 9 antibiotic using disc methods. The result showed that E. sakazakii was sensitive to chlorampenicol (30ug), oxytetracyclin (30ug), amoxycilin (25ug) and gentamycin (l0ug), resistant to ampicillin (l0ug), novobiocin (30ug), vancomycin (30ug) and penicillin (10ug), whereas to neomycin (l0ug) was intermediate.

20.

Poeloengan, Masniari (Balai Besar Penelitian Veteriner). Pengujian yoghurt probiotik pada pertumbuhan bakteri. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p. 303-307.

Abstrak

Yoghurt probiotik adalah salah satu produk susu fermentasi yang dikenal sebagai pangan fungsional. Bakteri asam laktat dan probiotik yang digunakan sebagai starter mampu menghasilkan subtrat antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari yoghurt sebagai antibakteri. Bakteri yang diuji yaitu Salmonella typhii, Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pada daerah hambat dari keempat bakteri dan kedua produk. Bakteri gram negatif (S. typhii dan E. coli) cenderung lebih mudah dihambat oleh yoghurt produk A dibandingkan bakteri gram positif (S. aureus,

Abstract

Antimicrobial Activity Test of Probiotic Yoghurt

Probiotic yoghurt was a fermented milk produce, that was known asta functional food and widely consumed as a health food. Yoghurt contained antimicrobial substrates. These substrates were formed by the lactic acid bacteria and the probiotic used as starters to ferment milk as the yoghurt raw material. The objective of this study was to assess the antimicrobial activities of two brands of yoghurt on Salmonella typhii, Escherichia coli, Staphylococcus aureus and Bacillus cereus. In this conjunction, the yoghurt antimicrobial activities were shown by the clear zones formed around the agar wells. The obtained results demonstrated that the two brands of yoghurt tested were able to control the pathogenic bacterial growths. Further findings pointed out that the yoghurt antimicrobial activities depended on the microorganism species used as starters and the amount of antimicrobial compounds produced during the milk fermentation.

21.

Priadi, Adin; Natalia, Lily (Balai Besar Penelitian Veteriner). Enterotoksemia pada sapi perah di Indonesia. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.279-286.

Abstrak

Kejadian enterotoksemia fatal dan enteritis akut pada sapi yang disebabkan oleh Clostridium perfringens toksigenik telah sering ditemukan di Indonesia. Kasus ini telah dicurigai banyak terjadi pada sapi perah tetapi sering tidak dapat dikenali dan diidentifikasi penyebabnya. Kasus enterotoxaemia telah ditemukan dan diidentifikasi penyebabnya antara lain pada peternakan sapi perah di daerah Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penyebab dari enterotoxaemia yang umumnya menyebabkan kematian tersebut adalah toksin yang dihasilkan oleh Cl. perfringens tipe A dan tipe C. Faktor pemicu terjadinya penyakit pada sapi perah pada umumnya adalah perubahan pakan mendadak sehubungan terjadinya pergantian musim yang akan menginduksi stasis rumen dan usus sehingga menciptakan lingkungan yang cocok untuk proliferasi cepat dari Cl. perfringens dalam usus kecil. Gejala klinis hewan yang terserang umumnya: kembung, anoreksia, susah bemafas, tidak dapat berdiri, akhirnya jatuh dan mati. Dari pemeriksaan pasca mati, biasanya terlihat enteritis haemorrhagica yang parah dengan lendir kemerahan terutama di daerah usus kecil (duodenum dan ileum). Pengobatan yang efektif hanya dengan pemberian antitoksin Cl. perfringens. Pemberian antibiotik tidak efektif jika toksin sudah beredar dalam darah. Usaha vaksinasi dengan toxoid Cl. perfringens efektif untuk mencegah terjadinya kejadian penyakit.

Abstract

Enterotoxaemia in Dairy Cattle in Indonesia

Acute enteritis and fatal enterotoxaemia of cattle associated with toxigenic Clostridium perfringens are frequently found in Indonesia. The disease is suspected to be widely distributed among dairy farms but the causal agents were not always be recognized and identified. Enterotoxaemia has been found and identified in dairy farm in Sukabumi, Cianjur, and Bogor district, West Java. The causal agents of fatal enterotoxaemia are Cl. perfringens type A and C. The disease triggering factor is a gross sudden change in diet due to seasonal climate, that induces rumen and intestinal stasis which provides a favourable environment for the rapid proliferation of Cl. perfringens in the small intestine. The clinical signs in the sick animals were bloating, anorexia, difficulty in breathing, reluctance to stand, final collapse and death. In autopsy the significant enteritis haemorrhagica with copious reddish mucous, especially in the small intestine (duodenum and ileum) were found. The effective treatment is only by giving specific antitoxin. Antibiotic therapy is not effective especially when toxin has already existed in the blood stream. Vaccination with Cl. perfringens toxoid is effective for controlling and preventing the disease.

22.

Supar; Ariyanti, Tati (Balai Besar Penelitian Veteriner). Kajian pengendalian Mastitis subklinis pada sapi perah. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.360-366.

Abstrak

Mastitis merupakan radang kelenjar mamae pada sapi perah yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi berupa penurunan kualitas dan produksi susu. Mastitis pada sapi perah dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: mastitis klinis (MK) dan mastitis subklinis (MSK). Tujuan kajian ini ialah untuk pengendalian MSK secara dry cow therapy (DCT). Kegiatan pengkajian ini meliputi aktifitas lapangan dan laboratorium pada tahun 1994-1995. Kajian lapangan terdiri dari prasurvei untuk menentukan lokasi dan peternak responden (di Kabupaten, Bandung, Bogor dan Sukabumi) dan pengambilan sampel susu. Kegiatan laboratorik meliputi konfirmasi penyebab penyakit secara isolasi dan secara Aulendoiftr Mastitis Probe (AMP). Dari isolasi diketahui penyebab mastitis ialah Streptococcus agalactia, Staphylococcus aureus Staphylococcus epidertnidis mendominasi (91,5%) sedangkan Streptococcus dysagalactiae, Streptococcus uberis, Coliform dan lain-lain minoritas (8,5%). Pemeriksaan secara AMP sebanyak 646 dari 1216 (53,1%) sampel menunjukkan susu kuartir menderita MSK dan pada laktasi berikutnya dengan sampel 533 kuatir sebanyak 152 (47,3%) menderita IvISK. Pengaruh perlakuan DCT terhadap produksi susu dari 33 ekor sapi penderita MSK produksi susunya rata-rata sebanyak 1615 liter/ekor/90 hari. Pada 60 ekor penderita MSK tidak dilakukan DCT rata-rata menghasilkan susu sebanyak 1320 liter/ekor/90 hari. Pada 10 ekor sapi sehat yang dilakukan DCT produksi susunya sebanyak 1617 liter/ekor/90 hari dan 26 ekor sapi sehat tidak dilakukan DCT produk susunya sebanyak 1550 liter/ekor/90 hari. Dari pengkajian ini disimpulkan bahwa, pengendalian MSK secara dry cow therapy, disertai dengan manajemen pemerahan yang baik dapat menekan kejadian IVISK dan menaikan produksi susu.

Abstract

Studies on Subclinical Mastitis Control in the Dairy Cows

Mastitis is a disease due to inflammation of mamae glands of dairy cows, which may cause economic losses associated with decrease in milk quality and production. Two types of mastitis in the dairy cows, that are clinical mastitis (MK) and subclinical mastitis (MSK). The purpose of this study was to control of MSK by dry cow therapy (DCT). This studies consisted of field obsevations and trials and laboratory activities conducted during the period 1994-1995. Field trial comprised preliminary field works for determining farmer respondents at Bandung, Sukabumi and Bogor districts and collecting milk samples. The laboratory activites were to determine the aetiology of MSK by bacterial isolation and milk samples by mean of Aulendorfer Mastitis Probe (AMP). The results of bacterial isolation and identification of the aetiologic agent of MSK were Streptococcus agalactia, Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis (91,5%), whereas Streptococcus dysagalactiae, Streptococcus uberis, Coliform etc only 8,5%. The examination by AMP indicated 53,1% (646/1216) of quartir milk samples suffering MSK. In the following lactation 47,3% (152/533) suffering MSK. The effect of DCT on milk production of 33 of dairy cows suffer MSK showed that the milk production was at average of 1615 L/head /90 days. The milk production from 60 head of cows suffer MSK without DCT was at an average of 1320 L/head/90 days. The milk production from 10 head of healthy cows with DCT resulted milk production at average of 1617 L/head/90 days, whereas 26 head of healthy cows without DCT, its milk production only at average of 1550 L/head/90 days. This studied concluded that the control MSK by DCT followed by good squeezing management practices could suppress MSK cases and increase the milk production.

23.

Susanti; Kusmiyati; Supar (Balai Besar Penelitian Veteriner). Seroprevalensi dinamik Leptospirosis pada daerah pengembangan sapi perah. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.372-377.

Abstrak

Leptospirosis merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh beberapa serovar bakteri Leptospira interrogans. Penyakit tersebut tersebar luas di berbagai wilayah di dunia termasuk di Indonesia dan bersifat zoonosis. Gejala leptospirosis pada sapi dapat bervariasi mulai dari subklinis, ringan hingga infeksi akut dan dapat menyebabkan kematian. Pada induk sapi yang bunting, gejala abortus, pedet lahir lemah dan mati. Infeksi leptospirosis pada sapi perah yang sedang laktasi dapat menyebabkan demam disertai dengan penurunan produksi susu yang berlangsung selama 2-10 hari, perubahan fisik susu seperti mastitis dan tiba­tiba kehilangan semua produksi susu. Hewan penderita leptospirosis dapat mensekresikan bakteri Leptospira sp melalui urine dan dapat mencemari lingkungan peternakan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi leptospirosis pada sapi dengan memeriksa sampel sera yang diterima di laboratorium Bakteriologi Balai Besar Penelitian Veteriner (BBALITVET). Pemeriksaan penyakit leptospirosis pada sapi dilakukan secara serologik dengan microscopic agglutination test (MAT). Pemeriksaan secara serologik sampel serum sapi perah dan sapi potong dari berbagai tempat di daerah Bandung, Bogor, Jakarta, Semarang, Baturaden, Malang, Grati, Yogyakarta dan Nusa Tenggara Barat yang dilakukan di laboratorium Bakteriologi BBALITVET dari tahun 2003 — 2007 menunjukkan 18,38% positif leptospirosis. Dari jumlah sampel positif tersebut, sebanyak 60,54% merupakan reaktor positif serovar hardjo, tarassovi (43,40%), icterohaemorrhagiae (34,41%), pomona (33,82%), javanica (29,56%), ballum (27,73%), canicola (23,45%), rachmati (1,89%) australis (1,51%), bataviae (0,60%) dan pyrogenes (0,48%). Dari kajian tersebut disimpulkan bahwa sapi rentan terhadap Leptospira interrogans, yang dominan serovar hardjo. Seroprevalensi leptospirosis musim kemarau (16,38%) lebih rendah dari musim penghujan (19,20%), menunjukkan peningkatan infeksi pada musim penghujan.

Abstract

Dynamic Seroprevalence of Leptospirosis in the Dairy Cattle Developing Area

Leptospirosis is an infectious disease caused by some of the Leptospira interrogans bacterial serovars. The disease widespreads in many parts of the world including Indonesia and is classified as zoonotic. Leptospirosis symptoms on cattle may be varied from subclinical, mild to acute infection and can cause of death. Infection in pregnant cow are abortion symptom, stillbirth and death of foetus. Leptospirosis infection in lactation dairy cattle causes fever with a dropping of milk production for 2 — 10 days. The milk consistency may be similar to mastitis case and suddenly lossing of all milk production. The leptospirosis infected animals secrete the Leptospira sp through urine and contaminate farm environment. The aims of this studies were to determine seroprevalence of leptospirosis in cattle by serologically testing of serum samples received at the Bacteriology laboratory of Indonesian Centre Research Institute for Veterinary Science (ICRIVS). Diagnosis of leptospirosis disease on cattle was done by serological assay with microscopic agglutination test (MAT). From 2003 — 2007 Bacteriology Laboratory of ICRIVS has done the serological assay dairy and cow serum samples from many areas in Bandung, Bogor, Jakarta, Semarang, Baturaden, Malang, Grati, Yogyakarta and Nusa Tenggara Barat. The assay's results showed 18,38% of samples are positive leptospirosis. From those positive samples, positive reactor to hardjo serovar is 60,54%, tarassovi (43,40%), icterohaemorrhagiae (34,41%), pomona (33,82%), javanica (29,56%), ballum (27,73%), canicola (23,45%), rachmati (1,89%), australis (1,51%), bataviae (0,60%) and pyrogenes (0,48%). Cattle were susceptible to Leptospira interrogans. Hardjo serovar was found to be the most dominant. Seroprevalence of leptospirosis in dry season was 16,38% less than wet season (19,20%). It shows the increasing of infection in wet season.

MYCOLOGY

24.

Gholib, Djaenudin; Kusumaningtyas, Eni (Balai Besar Penelitian Veteriner). Mastitis Cryptococcus. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.287-293.

Abstrak

Infeksi pada kelenjar ambing atau disebut mastitis menimbulkan kerugian secara ekonomi bagi para peternak. Terutama mastitis Cryptococcus yang disebabkan oleh infeksi Cryptococcus neoformans, adalah tipe mastitis paling serius, diantara mastitis mikotik. Organisme mampu berperan menginvasi secara primer kelenjar ambing sapi dengan diikuti mastitis yang parah. Umumnya para peternak menggunakan antibiotic untuk pengobatan mastitis, tetapi hasilnya sering tidak efektif, bahkan meningkatkan keadaan penyakit setelah pemberian antibiotic. Infeksi dini adalah penting untuk didiagnosa. Cara diagnosa yaitu dengan mendeteksi sel-sel ragi yang berkapsul di dalam contoh susu, dan juga sel-sel tersebut dapat dideteksi di dalam jaringan pada pemeriksaan pasca mati. Pada tulisan ini, pembahasan mastitis Cryptococcus diterangkan, meliputi etiologi, patogenitas, gejala klinis, patologi, pencegahan dan terapi.

Abstract

Mastitis Cryptococcus

Infection of mammary gland in dairy cattle or mastitis results in economic loss for farmers. Particularly cryptococcal mastitis caused by Cryptococcus neoformans infection, is by far the most serious type of mycotic mastitis. The organism is capable of primary invasion of the bovine mammary gland with subsequent severe mastitis. Commonly the farmers use antibiotics to cure the disease, but frequently the results are not effective, even increase the severity of the disease after antibiotics administration. Early infection is important to be diagnosed. Diagnosis is made by demonstrating capsulated yeast cells in milk samples, and also the cells can be detected in tissue by post mortem examination. In this review cryptococcal mastitis will be described, such as the etiology, pathogenity, clinical and pathological signs, prevention and therapy.

PARASITOLOGY

25.

Iskandar, Tolibin (Balai Besar Penelitian Veteriner). Parasit penyebab diare pada sapi perah Friesian Holstein (FH) di Kabupaten Bandung dan Sukabumi Jawa Barat. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.384 - 387.

Abstrak

Diare atau mencret adalah gejala umum pada sapi perah yang disebabkan oleh banyak agen yang bersifat patogen seperti parasit. Hampir semua peternakan yang telah terpapar agen penyebab diare akan memperhatikan kesehatan ternaknya. Diare pada hewan pemamah biak pada umumnya disebabkan oleh lebih dari situ faktor agen patogen seperti virus dan bakteri. Penelitian yang dilakukan terhadap feses sapi perah Friesian Holstein yang mengalami diare di Kabupaten Bandung dan Sukabumi, Provinsi Jawa Barat menunjukkan adanya agen parasit penyebab diare, yang diidentifikasi sebagai Trichostrongylus, Fasciola, Paramphistomum, dan Coccidia, sedangkan pada anak sapi yang mati dengan gejala diare diketahui adanya parasit Trichostrongylus dan coccidia.

Abstract

Parasites that Cause Diarrhea on Dairy Cattle in Bandung and Sukabumi District of West Java

Diarrhea in dairy cattle is general symptoms that caused by many pathogens such as parasites. Many dairy cattle farms have increased their intention to their cattle healthy rate. Diarrhea on ruminant in general has been caused by one or more pathogens such as viruses and bacteria. In this study some faecal samples have been taken from dairy cattle FH in Bandung and Sukabumi district, West Java for parasitological examinations. Parasites that have been identified were Trichostrongylus, Fasciola, Paramphistomum and Coccidia. From one dead young cattle with diare symptoms, Trichostrongylus and Coccidia were isolated.

PARASITOLOGY; MYCOLOGY

26.

Ahmad, Riza Zainuddin (Balai Besar Penelitian Veteriner). Beberapa penyakit parasitik dan mikotik pada sapi perah yang harus diwaspadai. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.316-321.

Abstrak

Penyakit parasitik dan mikotik pada ruminansia adalah penyakit yang merugikan untuk temak sapi perah. Penyakit menurunkan konsumsi pakan, bobot badan, produksi susu, efisiensi pakan dan pada beberapa kasus menyebabkan kematian. Penyakit parasitik dan mikotik disebabkan oleh cacing (Fasciola sp, Ostertagia sp), protozoa (Eimeria sp, Trichomonas sp) dan ektoparasit (caplak, cendawan, lalat, dan tungau) yang patogen terhadap sapi perah. Penyakit-penyakit tersebut dapat dikenali dari gejala klinis yang muncul dan pemeriksaan laboratoris. Penyakit—penyakit parasitik dan mikotik pada sapi perah lebih baik dicegah dari pada diobati.

Abstract

Some of Parasitic and Mycotic Diseases in Dairy Cattle to be Aware

Parasitic and mycotic diseases in ruminants cause the health and economic problems to dairy cattle husbandry. The diseases reduce the feed consumption, body weight, milk production and feed efficiency and may cause mortality in some cases.. Parasitic and mycotic diseases are caused by worms (Fasciola sp, Ostertagia sp), protozoas (Eimeria sp, Trichomonas sp) and ectoparasites (fleas, fungi, fly and mites) are pathogen to dairy cattle. These diseases can be diagnosed by the appearing clinical symptoms and laboratory inspection. The parasitic and mycotic diseases in dairy cattle is better prevented than cured.

TOXICOLOGY

27.

Indraningsih (Balai Besar Penelitian Veteriner). Residu pestisida pada susu segar: Sumber pencemaran dan alternatif penanggulangannya. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.294-302.

Abstrak

Susu adalah produk peternakan yang dibutuhkan untuk kesehatan masyarakat khususnya pada usia dini, tetapi rentan terhadap berbagai patogen dan senyavva toksik. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari sumber pencemaran pestisida pada susu segar dan minimalisasi residu pada susu. Penelitian ini dilakukan di Pangalengan, Jawa Barat tempat peternak sering memanfaatkan limbah hasil sayuran sebagai pakan tambahan. Dari 20 sampel susu segar sebanyak 3 jenis pestisida terdeteksi yakni lindan (0,01 - 3,6 ppb), heptakhlor (0,03 - 3,0 ppb) dan diazinon (0,4 - 7,1 ppb). Residu golongan organokhlorin (OC) lebih sering terdeteksi dibanding organofosfat (OP). Lindan dan heptakhlor terlihat dapat terdeteksi pada seluruh jalur pencemaran dari matriks lingkungan sampai susu. Pada pakan ternak terdeteksi lindan (0,2 - 20,6 ppb) dan heptakhlor (0,3 - 40,2 ppb) dan pada tanah terdeteksi lindan (1,27 - 3,96 ppb), heptakhlor (0,13 - 1,67 ppb) dan diazinon (6,5 - 13,8 ppb), serta pada air terdeteksi lindan (0,005 - 0,032 ppb) dan heptakhlor (0,0034 - 0,0113 ppb). Untuk mengurangi residu pestisida pada susu maka pola pertanian organik diintroduksi pada kegiatan integrasi sayuran - peternakan sapi perah. Pola pertanian organik tampaknya mampu mengurangi residu pestisida pada susu segar maupun sayuran dibanding pola konvensional. Residu lindan terdeteksi pada susu segar yang diberi pakan limbah kol konvensional selama 7 hari yaitu 75,7 ppb (hari-0); 44,9 ppb (hari­1); 10,2 ppb (hari-7); dan tidak terdeteksi pada hari-15. Sebaliknya residu pestisida tidak terdeteksi pada susu segar yang diberi limbah kol organik. Residu lindan (3,4 ppb) terdeteksi pada kol konvensional tetapi tidak pada kol organik.

Abstract

Pesticides Residue in Dairy Milk: Source of Contamination and Alternative Prevention

Milk is an important products for public health in particular for young age. However, it tends to become a carrier for various pathogens and toxicants. The purpose of this study was to identify the source of pesticide contamination in dairy milk and to develop preventive measures. The study was conducted in Pangalengan, West Java where dairy farms commonly use by-product of vegetables as an additional feed. Off the 20 milk samples, three pesticides were commonly detected including lindane (0.01 - 3.6 ppb), heptachlor (0.03 - 3.0 ppb) and diazinon (0.4 - 7.1 ppb). Organochlorines (OC) appeared frequently detected than organophosphates (OP). Lindane and heptachlor were detected in all contamination routes from the matrices to milk. Feed were contaminated by lindane (0.2 - 20.6 ppb) and heptachlor (0.3 - 402 ppb). Soils were contaminated by lindane (1.27 - 3.96 ppb), heptachlor (0.13 - 1.67 ppb) and diazinon (6,5 - 13,8 ppb) and water contained lindane (0.005 - 0.032 ppb) and heptachlor (0.0034 - 0.0113 ppb). Pesticide residues were minimized by introducing an integrated organic farming system between vegetables - livestock. The organic farming appeared capable to reduce pesticide residues in milk and vegetables compared to the conventional farming. Lindane was detected in milk of cattle fed on conventional cabbage for 7 days subsequently, including 75.7 ppb (day-0); 44.9 ppb (day-1); 10.2 ppb (day-7); but not on day-15. In contrast, the residues were not detected from dairy milk of cattle fed on by-products of organic cabbage. Lindane (3.4 ppb) was detected from conventional cabbages but not organic cabbages.

VACCINATION

28.

Sudarisman (Balai Besar Penelitian Veteriner). Penyakit-penyakit utama pada sapi perah yang harus dikendalikan melalui vaksinasi. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.344-350.

Abstrak

Penyakit-penyakit infeksius merupakan suatu hambatan utama yang penting diperhatikan dalam usaha pencapaian produksi yang efisien dalam peternakan sapi perah. Untuk mengatasi hambatan tersebut,vaksinasi mempunyai peranan penting dalam pengendalian penyakit, dan vaksinasi merupakan pilihan utama yang tidak dapat ditawar lagi. Telah kita ketahui bahwa tidak ada obat yang efektif dan ampuh untuk pengendalian penyakit viral. Dalam hal ini, vaksinasi merupakan cara yang dapat memberikan efisiensi ekonomis yang besar. Vaksinasi mempunyai peranan penting untuk pengendalian epidemi penyakit viral seperti Bovine Viral Diarrhea dan Infectious Bovine Rhinotracheitis. Vaksin toksoid merupakan vaksin tertua yang telah lama digunakan untuk pencegahan penyakit clostridial yang antara lain adalah enterotoxemia, blackleg, malignant edema, bacillary haemoglobinuria, dan black disease. Penyakit tersebut umumnya yang bersifat per-akut atau akut dan terkadang mematikan. Vaksinasi merupakan cara efektif untuk mencegah terjadinya penyakit clostridia!. Vaksin clostridia biasanya multivalen terdiri atas kultur dan toksin beberapa Clostridium spp. yang sudah dinonaktifkan. Penyakit-penyakit sapi perah lain dapat dicegah dengan vaksinasi adalah Salmonellosis, penyakit parasit (cacing paru-paru), penyakit jamur (ringworm), pneumonia (pasteurellosis, Respiratory syncytial virus (RSV), Para Influenza-3 (PI-3) dan Infectious Bovine Rhinotracheitis dan enteritis yang disebabkan oleh virus rota dan E.coli.

Abstract

Vaccination for Controlling Major Infectious Diseases in Dairy Cattle

Infectious disease continues to be one of the most important constraints on the efficient production of dairy cattle farm. While vaccination plays an important role in animal disease control, vaccination is increasingly being viewed as the more sustainable option. For controlling infectious viral diseases, while there was no effective drug available, vaccination offers for greater economic efficiency. Vaccination has a major impact on the control of epidemic viral diseases of dairy cattle such as Bovine Viral Diarrhea and Infectious Bovine Rhinotracheitis. Toxoids based vaccines are the oldest sub unit vaccines that have been in use for many years for the preventing clostridial diseases such as enterotoxaemia, blackleg, malignant edema, bacillary haemoglobinuria, and black disease. These diseases are often peracute or acute and frequently fatal. Fortunately vaccination is effective for prevention of clostridial diseases. Vaccine for clostridial diseases are often multivalent, containing inactivated cultures and toxins of several clostridium. Other diseases of dairy cattle are Salmonellosis, parasitic disease (lungworm), fungal disease (ringworm), pneumonia (pasteurellosis, Respiratory Syncytial Virus, Para Influenza-3 and Bovine Rhinotracheitis) and enteritis caused by rotavirus and E.coli. These disease can be prevented by vaccination.

VIROLOGY

29.

Sudarisman (Balai Besar Penelitian Veteriner). Vaksinasi terhadap Infectious Bovine Rhinotracheitis pada peternakan sapi perah di Indonesia. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.351-359.

Abstrak

Penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis merupakan penyakit viral pada sapi perah yang menular dan telah memberikan dampak tidak hanya pada peternakan pembibitan, peternakan pada Balai Inseminasi Buatan, tetapi juga pada peternakan sapi perah rakyat terutama di Pulau Jawa. Program vaksinasi pada peternakan sapi perah di Indonesia terhadap penyakit Infectious Bovine Rhinotracheitis sudah saatnya dilakukan terutama daerah yang secara serologik telah memberikan gambaran adanya infeksi oleh virus IBR. Rekomendasi vaksinasi dapat dilakukan dengan memilih vaksin mana yang cocok untuk daerah tersebut. Vaksin hidup akan dapat memberikan gambaran kemungkinan terjadinya infeksi laten akibat vaksin yang digunakan, yang di kemudian hail dapat berubah menjadi patogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vaksin mati yang dibuat oleh BBalitvet mampu memberikan titer yang cukup untuk mencegah sapi perah terhadap infeksi virus IBR. Keuntungan dari vaksinasi dengan vaksin mati adalah melindungi terjadinya aborsi akibat vaksinasi, reaksi vaksinasi yang tidak menguntungkan, tidak terjadinya sheding dari virus, sehingga tidak terjadinya sheding dari kelompok ternak di lokasi program vaksinasi dilakukan.

Data kunci: Program vaksinasi, IBR, sapi perah

Abstract

Infectious Bovine Rhinotracheitis Vaccination Program in Dairy Cattle Farm in Indonesia

Infectious bovine rhinotracheitis (IBR) is a contagious viral disease that affects dairy cattle. The disease has a major negative impact not only to dairy cattle breeding farm and artificial insemination cattle farm, but also to small holder dairy cattle in Indonesia, especially in Java. IBR vaccination program should have been done in dairy cattle in Indonesia, especially in areas that serologically showed positive exposure to IBR virus. Vaccination recommendation should be done by choosing a suitable vaccine for a specific area. Live vaccine could give the possibility of the occurrence of latent infection due to viral vaccine seed utilization. The results of the study showed that killed vaccine produced at BBALITVET could give enough protective titer to dairy cattle against IBR virus infection. The benefits of vaccination using killed vaccine are to protect cattle from abortion due to vaccination, give no side effect of vaccination, and prevent virus shedding in vaccinated cattle in the farm.

30.

Syafriati, Tatty (Balai Besar Penelitian Veteriner). Infeksi Bovine herpes virus tipe 2 (BHV2) penyebab peradangan puting dan ambing pada sapi perah. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.378-383.

Abstrak

Bovine Herpes Virus tipe 2 (BHV2) sebagai salah satu agen virus penting yang menyebabkan peradangan puting dan ambing atau Bovine ulcerative mammilitis pada sapi perah, kaitannya sangat eras dengan kepentingan ekonomi seperti penurunan produksi susu, mastitis yang selalu muncul dan air susu yang terkontaminasi darah.Ada dua macam bentuk klinis yang terlihat pada infeksi oleh BHV2 atau virus herpes mammilitis yaitu peradangan puting dan ambing susu serta penyakit pada mukosa kulit (pseudo lumpyskin). Penyakit yang disebabkan BHV2, secara klinis terlihat hampir sama pada infeksi Pseudocowpox, Foot and mouth disease, Vesicular stomatitis. Virus yang berasal dari sampel luka pada puting selama outbreak dapat didiagnosis dengan menggunakan mikroskop elektron. Virus dapat mudah diisolasi dari kasus mammilitis atau penyakit kulit dengan menggunakan sel ginjal sapi bahkan secara histopatologi terlihat perubahan secara karakteristik adanya sel raksasa dan Benda inklusi dalam inti sel epidermis. Secara serologik juga dapat diuji dengan serum netralisasi. Desinfektan seperti cairan lodophor dan hypochlorite dapat digunakan untuk mencegah penularan ke sapi lainnya. Sampai saat ini penyakit BHV2 didunia sudah dideteksi secara serologi maupun isolasi. Tulisan ini mengulas tentang infeksi BHV2 pada sapi perah.

Abstract

Infection of Bovine Herpes Virus Type 2 (BHV2) Caused Bovine Mammilitis in Dairy Cattle

Bovine Herpes Virus Type 2 (BHV2) is an important viral agent caused mammilitis or Bovine ulcerative mammilitis in dairy cattle, It is closely related to economic loss such as reduction of marketable milk yield due to difficulty of milking, inter current mastitis and contamination milk with blood. There are two clinical forms of BHV2 or herpes mammilitis virus. One is mammilitis and the other is a cutaneous disease (pseudolumpyskin). Diseases are similar to those lesions caused by BHV2 have been described clinically include Pseudocowpox, Foot and mouth disease, Vesicular stomatitis. Herpes virus particles were seen in teat and udder samples taken during an outbreak of mammilitis almost in dairy herd by using electron microscope, and also virus could be isolated from cases of mammilitis and cutaneous disease by inoculating into Bovine Kidney Cell. The histological changes are characterized by the presence of syncytia and intra nuclear inclusion in the epidermal cells. Iodophor and hypochlorite solution are useful desinfectants to prevent infection to other cows. To date BHV2 is detected almost. throughout the world on serological and virus isolation This paper represents review of infection of BHV2 in dairy cattle.

DAIRY CATTLE; REPRODUCTIVE DISORDERS

31.

Nurhayati, Imas Sri; Saptati, RA.; Martindah, E. (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor). Penanganan Gangguan Reproduksi Guna Mendukung Pengembangan Usaha Sapi Perah. Dalam: Prosiding Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas 2020. Jakarta. 21 April 2008: p.140-147.

Abstrak

Usaha pctcrnakan sapi perah mcmpunyai prospek untuk terus dikembangkan karena potensi pasar dalam negcri yang sangat besar, serta adanya ketersediaan sumber daya dan teknologi. Peluang peningkatan produksi sangat besar karena tingkat konsumsi susu saat ini masih relatif rendah 7,5 kg/kapita/tahun, dimana kWh dari 70% kebutuhan dalam negcri tersebut masih dipenuhi dari impor. Pengembangan usaha sapi perah masih menghadapi beberapa hambatan teknis, antara lain faktor-faktor yang disebabkan old\ kondisi induk dan kesalahan manajemen. Seperti kegagalan mengenal tanda-tanda birahi sehingga sapi dikawinkan pada waktu yang tidak tepat. Hal teknis lain yang ditemukan di lapang adalah petcrnak terlalu ccpat mengawinkan kembali sapi setelah partus sehingga hasilnya justru tidak optimal, serta adanya penyakit atau gangguan reproduksi. Permasalahan tersebut tercermin dengan tingginya kejadian kawin bcrulang (S/C) berkisar antara 1,17-5,51, angka kebuntingan (CR) sangat bervariasi antara 7,46-71,25% sehingga menyebabkan penuninan produktivitas. Hal tersebut bcrdampak terhadap calving interval yang panjang (18 bulan). Selain itu pennasalahan yang sering ditemui dalam pengembangan usaha sapi perah yaitu penyakit brucellosis dan gangguan reproduksi lainnya seperti endometritis dan nymphomania. Penyakit brucellosis dapat menyebabkan keguguran pada sapi bunting dengan kasus mencapai 5-90%. sehingga sangat berpotensi menimbulkan kerugian. Sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit brucellosis dilakukan dengan screening test. Penanganan terhadap penyakit atau gangguan reproduksi yang sering menyerang sapi perah akan dapat mendukung pengembangan usaha sapi perah.

Abstract

Handling of Reproduction Disturbance for Supporting Dairy Cattle Farming Development

Dairy farming has a future chance to be developed as Indonesia has potential market as well as the available of resources and technology. The opportunity to increase milk production is high even though the milk consumption is relatively low at 7.5 kg/capita/year. In fact, more than 70% of milk are imported. The developing dairy farming still has technical constraints, like failure to detect estrus and reproduction diseases such as brucellosis, endometritis, nymphomania, etc. those problems caused high repeat breeding (service per conception between 1.17-5.51) and the conception rate (CR) vary from 7.46 to 71.25%. as a results brucellosis cause abortus about 5-90%, and effort to control the disease is by screening test. Handling of those disease and reproduction disturbance in dairy cattle can support the developing of dairy f

MISCELLANEOUS

32.

Bahri, Sjamsul (Direktorat Jenderal Peternakan, DEPTAN). Kebijakan dan strategi pengembangan ternak. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.4-14.

Abstrak

Pembangunan peternakan bertujuan untuk meningkatkan kualitas kebijakan dan program yang mengarah pada pemanfaatan sumber daya lokal untuk membangun peternakan yang berdaya saing dan berkelanjutan serta membangun sistem peternakan nasional yang mampu memenuhi kebutuhan terhadap produk peternakan dan mensejahterakan peternak. Oleh karena itu program pembangunan peternakan diarahkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas bibit ternak, mengembangkan usaha budidaya dalam rangka meningkatkan populasi, produktivitas dan produksi ternak, meningkatkan dan mempertahankan status kesehatan hewan, meningkatkan jaminan keamanan pangan hewani yang ASUH (aman, sehat, utuh dan halal) dan meningkatkan pelayanan prima pada masyarakat peternakan. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah produksi daging sapi belum meningkat secara nyata, produksi susu masih jauh dari harapan, proses produksi masih bergantung pada produk impor, penanganan penyakit hewan menular strategis belum optimal dan masih rendahnya jaminan keamanan pangan asal ternak. Untuk mencapai sasaran dan mengatasi permasalahan tersebut, maka pemerintah melakukan beberapa program aksi, antara lain pelaksanaan 7 langkah operasional P2SDS (IB, kawin alam, penyediaan bibit, pakan lokal/integrasi, gangguan reproduksi/Keswan, kelembagaan dan SDM) di 18 Propinsi; pelaksanaan Program Aksi Perbibitan, optimalisasi penggunaan bahan baku pakan lokal (bungkil sawit, onggok, jerami, di!) dan padang penggembalaan di 27 propinsi, penerapan kompartemen dan zoning perunggasan, pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis Flu burung dan PHMU lainnya serta perlindungan hewan dari penyakit eksotik (PMK dan BSE), serta fasilitasi sarana dan prasarana serta pelaksanaan sertifikasi unit usaha dan juru sembelih. Strategi pengembangan agribisnis peternakan ramah lingkungan meliputi 2 program pengembangan peternakan, yaitu (1) program pemanfaatan BIOGAS ternak bersama masyarakat (Program BATAMAS) dan (2) pengembangan SISTEM INTEGRASI TERNAK-TANAMAN.

Abstract

Strategy and Programmes of Livestock Development in Indonesia

The purpose of livestock industry development is to improve programme quality based on using local resources, to develop competitive and sustainable livestock industry, to develop national livestock system capable to provide domestic demands and to improve farmers welfare. The livestock development programme is therefore directed to improve quantity and quality of animal breeds, develop breeding farming to increase population, productivity and production of livestock, improving and maintaining animal health status, improving food safety according to ASUH (safe, healthy, wholesome and halal) and improving prime services for farmers. Problems are faced presently including beef production is not increasing significantly, milk production is far from the expectation, production processes are depended on imports, prevention of the strategic infectious diseases is not optimal and low warranty for food safety. In order to achieve the target and to overcome the problems, the government is undertaking some action plans, such as implementation of seven operational procedures for Acceleration of Achieving Beef Selfsufficiency (P2SDS) through artificial insemination, natural breeding, breed supply, local feed/integrated feed supply, reproduction disorder/animal health, institutional and human resources development in 18 provinces; implementation of Breeding Action Programmes, optimalisation use of local material for feed (palm oil kernel, rice straw etc) and grassland in 27 provinces, implementing poultry compartments and zonation, controlling and erradicating strategic infectious animal diseases of bird flu and other Major Infectious Animal Disease (PHMU), prevention of exotic diseases (such as FMD and BSE), and providing infrastructures, certification farming units and professional butchers. The development strategy for environmental friendly of livestock agribussines consists 2 livestock development programmes, including (1) the use of animal BIOGAS programme with local communities and (2) development of ANIMAL - PLANTS INTEGRATED SYSTEM

TOXICOLOGY

33.

Yuningsih(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Deteksi Cepat Insektisida Karbofuran (Karbamat) Dalam Isi Rumen Sapi Dengan Cara Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.248-253.

Abstrak

Karbofuran sudah umum digunakan sebagai nematisida di lokasi pertanian (terutama padi), tetap penggunaannya yang tidak sesuai dengan aturan akan menyebabkan residu dalam jerami (pakan ternak) yang dapat menyebabkan keracunan (kematian) pada ternak yang mengkonsumsinya dan mengakibatkan kerusakat sistim reproduksi sehingga dapat menghambat tingkat produksi peternakan. Untuk mengatasi kematial berkelanjutan, maka perlu diagnosa cepat keracunan karbofuran dengan cara mendeteksi karbofuran dalan sampel isi rumennya. Telah dicoba pengembangan metoda yang cepat dan mudah, dengan cara ekstraks sampel dengan petroleum eter dengan kondisi pH: 5 - 6, kemudian hasil ekstrak dikeringkan dengar evaporator dan siap untuk ditotolkan pada plat kromatografi lapis tipis (silika gel F254) dengan perendamar dalam heksan-aseton (7 : 3) dan lakukan penyemprotan plat dengan larutan fast blue dan NaOH. Untul validasi metoda dilakukan uji perolehan kembali, dengan cara penambahan 3 macam konsentrasi standa karbofuran:100, 200 dan 400 ug kedalam sampel isi rumen dengan 3 ulangan untuk masing-masiN penambahan. Kemudian limit deteksi dilakukan penotolan larutan standar karbofuran pada plat mulai dar konsentrasi 0,05 sampai 0,5 ug. Perhitungan konsentrasi karbofuran dalam sampel dengan membandingkar hasil intensitasx wama merah kecoklatan antara sampel dengan standar karbofuran. Hasil uji perolehan kembali menunjUkkan rata- rata: 116,6, 93,3 dan 80% yang masuk dalam kisaran kriteria uji validasi pestisidr (70 - 120%), maka pengembangan metoda analisis residu karbofuran dalam sampel isi rumen cukup baik dar limit deteksinya: 0,20 ug.

Abstract

Rapid Detection of Carbofuran (Carbamate Insecticide) in Rumen Content

by Thin Layer Chromatography (TLC)

Carbofuran pesticide is commonly used as nematocide in paddy field. But improper use can cause residue in straw (animal feed) and damage reproductive process which lead to decreasing animal production. A rapid diagnosis of carbofuran poisoning with improved method for detection carbofuran residue in rumen conten sample was developed. Improved method was conducted by spotting of rumen content petroleum extrac (acidic) on thin layer chromatography (TLC silica gel F254) with developing solvent hexane-acetont (7 : 3) and using fast blue spraying solution (1%) and NaOH (20%). Validation method is conducted 1) adding of carbofuran standard to sample with concentration: 100, 200 and 400 ug in triplicate for eacl concentration for recovery method, then limit of detection (LOD) by spotting of carbofuran standard witl concentration: 0.05 to 0.50 ug. The result showed that concentration of carbofuran in sample was detectec comparing intensity of red -brownish color result in sample and carbofuran standard. Mean of recoveries wen 116.6, 93.3 and 80.0%, as validation criteria for pesticide residue analysis: 70 — 120%. The improved methoc of carbofuran residue in rumen content was quite significant and LOD of carbofuran standard: 0.20 ug.

PARASITOLOGY; MYCOLOGY

34.

Ahmad, Riza Zainuddin; Haryuningtyas, Dyah; Wardhana, April (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Lethal Time 50 Cendawan Beauveria Bassiana dan Metarhizium Anisopliae Terhadap Sarcoptes Scabiei. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.498-503.

Abstrak

Cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae diketahui sebagai cendawan entomofagus. Cendawan ini tergolong Deuteromycetes. Tujuan dari percobaan ini adalah mempelajari Lethal time 50 (LT50) isolat B. bassiana dan M anisopliae terhadap tungau S. scabiei dari kambing melalui uji in vitro. Setelah kedua isolat diperbanyak, isolat tersebut diuji dengan cara menambahkan spora B.bassiana dan M. anisopliae sebanyak 105, 106 dan 10' pada tungau S. scabiei. yang tersedia pada kamar hitung. Tungau yang mati dihitung selama waktu tertentu. Hasil menunjukkan LT50 M anisopliae mempunyai perbedaan waktu dengan B. bassiana dalam mereduksi tungau S. scabiei.

Abstract

Lethal Time 50 of Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae Fungy on Sarcoptes scabiei

Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae fungi were entomophagous fungi. These fungi belong to Deuteromycetes. The aim of this experiment is to study lethal time 50 (LT50) ofB. bassiana and M. anisopliae isolates against S. scabiei mites from goat by in vitro test. After multiplication these isolates were tested with the addition of 105, 106 and 107 spores (conidias) of B. bassiana and Al. anisopliae to S. scabiei mite in counting chamber. The killed mites were counted in specific times. The results showed that LT50 of M anisopliae was different from B. bassiana in reducing S. scabiei mites.

PARASITOLOGY; MEDICINAL PLANTS

35.

Dewi, Ari Puspita; Haryuningtyas, Dyah (Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Uji In Vitro Ekstrak Tea Tree (Melaleuca Alternifolia) Terhadap Tungau Sarcoptes Scabiei Pada Kambing. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.510-515.

Abstrak

Skabies khususnya yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei var caprae masih sering menyerang kambing di pedesaan. Penyakit ini sering menimbulkan keresahan peternak karena dapat menimbulkan kerugian ekonomi (penurunan berat badan, produksi susu dan kematian ternak) serta membutuhkan dana yang besar untuk pengobatan hewan yang terinfeksi. Untuk mendapatkan obat alternatif yang lebih murah perlu digali potensi tanaman obat yang bersifat acarisida. Tea Tree Oil (Melaleuca alternifolia) yang diduga bersifat acarisida perlu diuji efektivitasnya untuk membunuh S. scabiei var caprae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Tea tree oil terhadap S. scabiei var. caprae secara invitro. Ekstrak tea tree (TTO) yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Balitro. Tungau S. scabiei dikoleksi dari kambing yang terinfestasi S. scabiei secara alami. Sebanyak 10 ekor tungau dimasukkan kedalam gelas inkubasi yang didalamnya terdapat TTO cair 0,5 persen, TTO cair 1 persen dan TTO dalam vaselin 5 persen. Sebagai kontrol negatif digunakan aquadest dan kontrol positif dengan neguvon.Pengamatan dilakukan setiap 6 jam sampai semua tungau mengalami kematian. Hasil penelitian meminjukkan bahwa TTO cair 1 persen berhasil membunuh S. scabiei dalam waktu paling cepat yaitu dengan LT50 terjadi pada jam ke-2,3 berbeda secara nyata dengan kontrol positif (neguvon 0,15 persen); kontrol negatif (aquades); TTO cair 0,5 persen dan TTO salep 5 persen yang mempunyai LT50 berturut-turut padajam ke-5,9, 90,7, 59,1 dan 45,59.

Abstract

In Vitro Test Using Tea Tree Extract (Melaleuca alternifolia) to Sarcoptes scabiei in Goat

Scabies caused by S. scabiei var caprae often attack goat in the village. This disease makes considerable impact of highly economic loss in goat production (decrease of weight gain, milk production and animal death) and significant cost due to the continous use of acaricides in infested animal. Research on acarisida from herbal remedies require to be done as alternative drug for scabies medication. Tea tree oil (TTO) was suspected to have an acarisida) activity. The aim of this study was to investigate the acaricidal effectivity of Tea tree oil (Melaleuca alternifolia) to Sarcoptes scabiei var caprae. Tea tree oil used in this research was obtained from Balitro. Sarcoptes scabiei var caprae was collected from the goat that was naturally infected by Sarcoptes scabiei from the field. Ten adult mites were put in the incubation chamber which filled up with 1 persen, 0.5 persen of liquid TTO and 5 persen TTO in vaselin. Aquadest was used as negatif control and neguvon was used as a positif control. Observations were conducted every 6 hours until all the mites died. The result shows that 1 persen TTO more effectively killed S.scabiei var caprae in vitro with LT50 at 2.3 hours significantly different (P < 0.05) compared with 2 other treatment. Treatment with 0.5 persen TTO liquid and 5 persen TTO in vaselin have LT50 at 59.1 and 45.6 hours respectively.

VIROLOGY

36.

Nuradji, Harimurti; Parede, Lies; Adjid, R.M. Abdul(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Isolasi Dan Identifikasi Virus Avian Influenza Asal Bebek. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.684-689.

Abstrak

Bebek sebagai salah satu jenis unggas air, diduga memainkan peran yang sangat penting sebagai reservoir virus avian influenza. Isolasi dan identifikasi virus asal bebek dilakukan dengan mengambil swab trakhea dan kloaka (atau feces) yang kemudian diisolasi ke dalam telur Specific Pathogen Free (SPF) bertunas umur 10 - 12 hari. Cairan Amnio-allantoic diuji secara cepat dengan metoda haemaglutination (HA) dan haemaglutination inhibition (HI) serta menggunakan perangkat uji cepat komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 sampel dari 62 sampel (4,84 persen) mengandung virus yang mampu membunuh telur 20 - 24 jam setelah inokulasi. Berdasarkan pemeriksaan secara serologic, virus bukan Newcastle Disease (ND) dan Egg Drop Syndrome (EDS). Sehingga dapat disimpulkan bahwa virus tersebut merupakan Avian Influenza H5N I dan bebek dapat dibuktikan sebagai reservoir virus ini.

Abstract

Isolation and Identification of Avian Influenza Virus from Ducks

Ducks are considered to play an important role as a major reservoir for avian influenza viruses. Isolation and identification of the virus were conducted by collecting tracheal and cloacal swabs (or faeces), inoculated into Specific Pathogen Free (SPF) Embryonating Chicken Eggs (ECE's) for 10 - 12 days. Amnio-allantoic Fluid (AAF) was tested by using haemaglutination (HA) and haemaglutination inhibition (HI) methods as well as commercial rapid test for avian influenza. Results indicated that 3 out of 62 collected (4.84 percen) samples contain viruses which killed ECE's within 20 - 24 hours post inoculation. Based on serological test, the isolates were not Newcastle Disease (ND) as well as Egg Drop Syndrome (EDS). Thus, it can be concluded that the virus is Avian Influenza H5N I and duck as reservoir of this virus.

TOXICOLOGY

37.

Widiastuti, Raphaela; Indraningsih; Firmansyah, Rahmat(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Analisis Aflatoksin Pada Jagung Yang dimurnikan Dengan Solid Phase, Extraction Silika Dan Dideteksi Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.705-710.

Abstrak

Analisis aflatoksin dalam jagung maupun pakan ternak berbahan jagung sangat perlu dilakukan keberadaanya dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi ternak. Metoda analisis aflatoksin pada jagung yang menggunakan solidphase extraction (SPE) silika untuk pemurnian ekstrak dan dideteksi secara KCKT telah divalidasi. Hasil menunjukkan bahwa performa karakteristik telah memenuhi syarat validasi. Sedangkan hasil analisis pada 16 sampel jagung menunjukkan bahwa 15 diantaranya positif terdeteksi adanya aflatoksin. Namun, kontaminasi aflatoksin dalam sampel jagung tersebut secara umum masih di bawah ambang batas maksimum yang diijinkan dalam pakan.

Abstract

Analysis of aflatoxins in corn which purified with SPE silica and detected with HPLC

Analysis of aflatoxins in corn or corn basal diet feed is necessary due to its occurrence could threat animal health. A determination of aflatoxins in corn using a solid phase extraction (SPE) silica cartridge for purifying the extract and detected with an HPLC was validated. The result showed satisfaction characteristic performance. Meanwhile the analysis result on 16 corn showed that 15 samples were positive for allatoxin content. However, those results showed that in general the aflatoxin contamination in corn samples were still under the maximum tolerance level for feed.

MYCOLOGY; MEDICINAL PLANTS

38.

Kusumaningtyas, Eni; Gholib, Djaenudin(Balai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia))Widiati, R.R.(Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila). Uji Daya Hambat Ekstrak Dan Krim Ekstrak Daun Sirih (Piper Betle) Terhadap Candida Albicans Dan Trichophyton Mentagrophytes. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.805-811.

Abstrak

Daun sirih sebagai obat traditional sudah lama dikenal sebagai anti cendawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas anti cendawan dari ekstrak n-heksan, etil asetat, etanol, minyak atsiri, krim ekstrak etil asetat dan minyak atsiri dawn sirih. Aktivitas anti cendawan masing-masing ekstrak diuji dengan metode difusi agar. Diameter zona hambat yang terbentuk diukur. Konsentrasi hambat minimum (KHM) ditentukan dengan dengan menggunakan metode dilusi. Koloni yang tumbuh dihitung. Ekstrak etil asetat dan minyak atsiri yang mempunyai nilai KHM terkecil dibuat krim ekstrak dan krim minyak atsiri. Aktivitas anti cendawan krim esktrak dan krim minyak atsiri diuji dengan uji difusi agar. Hasil uji aktivitas anti cendawan menunjukkan bahwa diameter daerah hambat ekstrak etil asetat dan minyak atsiri lebih besar daripada diameter daerah hambat ekstrak n-heksan dan etanol pada berbagai konsentrasi. KHM untuk etil asetat dan minyak atsiri adalah 10 persen Candida albicans dan 5 persen untuk Trichophyton mentagrophytes. Krim ekstrak etil asetat dan minyak atsiri masih dapat menghambat pertumbuhan cendawan pada konsentrasi 5 persen tetapi menghasilkan diameter daerah hambat yang lebih kecil dari ekstrak etil asetat dan minyak atsiri Piper betle.

Abstract

Inhibition Test of Extract and Cream Extract of Piper Betle Against Candida Albicans and Trichophyton Mentagrophytes

Piper betle leaf as traditional medicine is known as antifungi. This research was conducted to find out antifungal activity of n-hexane, ethyl acetate, ethanol extract, aromatic oil and cream of ethyl acetate extract and aromatic oil of Piper betle leaf. Antifungal activity of each extract was assayed by agar diffusion assay. Inhibition zones that formed were measured. Minimum inhibitory concentration (MIC) was defined by dilution method and then the growing colony was counted. Ethyl acetate extract and aromatic oil which have the lowest MIC was made extract and aromatic oil cream. The antifungal activity of extract and aromatic oil cream was assayed by agar diffusion assay. The result of antifungal activity assay revealed that inhibition diameter zones of ethyl acetate extract and aromatic oil were bigger than that of n-hexane and ethanol extract in a various concentration. MIC for ethyl acetate extract and aromatic oil were 10 percen to Candida albicans 5 percen and to Trichophyton mentagrophytes. Cream of ethyl acetate extract and aromatic oil were still could inhibit fungal growth in concentration 5 percen but their inhibition diameter zone were narrower than ethyl acetate extract and aromatic oil of Piper betle.

MYCOLOGY; GERMPLASM

39.

Gholib, Djaenudin; Kusumaningtyas, Eni; Chotiah, SitiBalai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Viabilitas Plasma Nutfah Mikroba Aspergillus Spp. Dan Fusarium Spp. Setelah Konservasi Ex Situ Jangka Lama. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.813-817.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui viabilitas isolat jamur yang dibeku keringkan di dalam ampul, dan dikoleksi di BCC (Balitvet Culture Collection). Sebanyak 147 sampel terdiri dari 104 sampel dari 37 koleksi Aspergillus sp. (11 spesies) dan 43 sampel dari 14 koleksi Fusarium sp. (3 spesies) di re-culture di media Sabouraud's dextrose agar (SDA) dengan cara pengenceran serf 10 kali (10 pangkat-1 - 10 pangkat-6) . Tiap enceran sebanyak 1 ml dibiakkan ke media agar cawan petri, dan diinkubasi pads suhu 25 - 28°C. Koloni yang tumbuh diamati secara makro dan mikroskopis, dan diidentifikasi spesiesnya dan kemurniannya. Hasilnya menunjukkan bahwa isolat Aspergillus tumbuh sebanyak 100 persen, yaitu A. flavus, A. fumigates dan A. parasiticus setelah 15 tahun, A. clavatus setelah 12 tahun, A. awamori dan A. ficuum setelah I I tahun, dan A. terreus setelah 10 tahun penyimpanan. A. niger dan A. amstelodami . masing-masing 83,3 dan 0 persen setelah 11 tahun, dan A. nidulans 66,6 persen setelah 10 tahun penyimpanan. Fusarium moniliforme tumbuh 100 persen, dan F. graminearum sebanyak 14,3 persen setelah 17 tahun penyimpanan. F. solani tumbuh sebanyak 66,6 persen setelah 20 tahun penyimpanan. Berdasarkan hasil pengujian ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeliharaan (konservasi) plasma nutfah isolat jamur dengan cara beku kering di dalam ampul oakum sangat efelctif dan tahan dalam jangka waktu lama.

Abstract

Viability of Aspergilus spp. and Fusarium spp. After Long Periode of Ex Situ Conservation

The study was conducted to assess viability of freeze isolates of fungi collected in Balitvet Culture Collection (BCC). A number of 147 samples consisted of 104 samples from 37 isolates of Aspergillus sp. (11 species), and 43 samples from 14 isolates of Fusarium sp. (3 species) were recultured on Sabouraud's dextrose agar (SDA) plating medium. The isolates were 10 fold serially diluted (10" - 10-6), and each 1 ml of dilution was cultured in the medium, and incubated at 25 - 28°C. The growths of colonies were examined macro and microscopically, identified to the species and purity The results showed that Aspergillus isolates of 100 percen samples revealed the colony growth consisted of Aspergillus flavus, A. fumigates and A. parasiticus after 15 years, A. clavatus after 12 years, A. awamori and A. ficuum after 11 years, and A. terreus after 10 years,. A. niger and A. amstelodami 83.3 and 0 percen respectively after 11 years, and A. nidulans 66.6 percen after 10 years freeze dried. Fusarium moniliforme showed 100 percen colony growth and F. graminearum 14.3 percen after 17 years, and F solani 66.6 percen after 20 years freeze dried. Based on this results it can be concluded that preservation of fungi by means of freeze drying is very effective and long lasted.

MICROBIOLOGY; GERMPLASM

40.

Chotiah, Siti (Balai Penelitian Veteriner, Bogor). Kelangsungan Hidup Plasma Nutfah Mikroba Pseudomonas Spp. Setelah Penyimpanan Jangka Lama Pada Suhu Kamar Dan -150c. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.819-825.

Abstrak

Banyak teknik telah digunakan untuk preservasi mikroba dan terkadang sulit menentukan teknik yang sesuai dan tepat untuk mikroba tertentu. Metode preservasi yang digunakan hares meminimalkan kehilangan viabilitas selama proses dan penyimpanan, sehingga setelah preservasi kultur akan hidup untuk waktu yang lama. Kelangsungan hidup Pseudomonas spp. setelah penyimpanan jangka waktu lama pada suhu kamar dan -I PC telah dievaluasi untuk mendapatkan cara pemantauan yang tepat dan efisien dalam pelestarian plasma nutfah mikroba. Sebanyak 45 sampel biakan kering di dalam kemasan ampul gelas dalam kondisi oakum berasal dari 7 koleksi Pseudomonas aeruginosa, 2 koleksi Pseudomonas fluorescens dan I koleksi Pseudomonas stutzeri yang disimpan lebih dari 16 tahun pada 2 suhu yang berbeda telah ditumbuhkan dalam medium khusus, kemudian diuji viabilitas, kemurnian dan diidentifikasi sampai species. Hasil menunjukkan bahwa 4 dari 10 (40 persen) dan 8 dari 10 (80 persen) koleksi biakan Pseudomonas spp. masih bertahan hidup setelah disimpan masing-masing pada suhu kamar dan suhu -15°C selama 16 sampai 23 tahun. Semua koleksi Pseudomonas fluorescens tidak ada yang dapat mempertahankan hidup balk disimpan pada suhu suhu -15°C atau suhu kamar setelah disimpan selama 16 tahun. Kelangsungan hidup koleksi biakan Pseudomonas spp. pada suhu simpan -I PC lebih lama dibandingkan pada suhu kamar.

Abstract

Viability of Pseudomonas spp. After Long Term Storage at Room Temperature and -150C

A wide variety of techniques is used for the preservation of microbes and it may be difficult to choose the most suitable way for a particular microbes. The preservation method used should minimize loss of viability during processing and storage, so that after preservation, cultures will survive for long periods. Survival of lyophilized Pseudomonas spp. after long term storage at room temperature and -15°C have been evaluated for achieving the suitable and efficient monitoring in the microbial germ plasma preservation. A total of 45 lyophilized samples of seven Pseudomonas aeruginosa collections, two Pseudomonas fluorescens collections and one Pseudomonas stutzeri collection prepared in vaccum glass ampoules, stored for more than 16 years at different temperatures were grown on specific medium and identified for the bacterial species. The results showed that four of ten (40 percen) collections and eight of ten (80 percen) collections of Pseudomonas spp. were still viable to life after storing at room temperature and -15°C during 16 until 23 years respectively. All of Pseudomonas fluorescens collections were not survived after 16 years of storage at above both temperatures. There was indicated that survival of lyophilized Pseudomonas spp, after long term storage at -15°C is better than at room temperature.

MYCOLOGY; MEDICINAL PLANTS

41.

Gholib, DjaenudinBalai Penelitian Veteriner, Bogor (Indonesia)). Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Jahe Merah (Zingiber Officinale Var. Rubrum) Dan Jahe Putih (Zingiber Officinale Var. Amarum) Terhadap Trichophyton Mentagrophytes Dan Cryptococcus Neoformans. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 11-12 Nopember 2008: p.827-830

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol jahe merah (Z officinale var. rubrum) dan jahe putih (Z officinale var. amarum) terhadap Trichophyton mentagrophytes dan Cryptococcus neoformans secara in vitro dengan metoda pengenceran tuang. Enceran masing-masing ekstrak 0,1, 0,15, 0,20, 0,25 dan 0,30 persen diuji terhadap T mentagrophytes, dan enceran masing-masing ekstrak 10, 15, 20, 25, 30 dan 35 persen diuji terhadap C. neoformans. Kedua jenis jamur diencerkan 10 kali secara serf. Masing-masing sebanyak 1 ml enceran ekstrak dan enceran suspensi jamur (10'3) dituangkan ke dalam cawan petri steril. Media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) yang masih cair dituangkan kedalam tiap cawan petri sebanyak 20 ml. Inkubasi ke dalam inkubator pada suhu 37°C selama 4 - 5 hari. Koloni jamur yang tumbuh dihitung jumlahnya, dan ditemukan kadar enceran dari ekstrak yang menunjukkan tidak ada pertumbuhan koloni (kadar hambat minimal/KHM). Hasilnya menunjukkan kedua ekstrak mempunyai kadar hambat minimal yang sama (0,30 persen) terhadap T mentagrophytes, dan kadar hambat minimal yang berbeda terhadap C. neoformans, jahe merah pada kadar 35 persen dan jahe putih pada kadar 30 persen.

Abstract

Inhibition Test of Red Ginger (Zingiber officinale var rubrum) and White Ginger (Z. Officinale Var amurum) Ethanolic Extracts Against Tricophyton mentagrophy and Cryptococcusneoformans

The aim of this study was to detect the potency of ethanolic extract of red ginger (Zingiber officinale var. rubrum) and white ginger (Zingiber officinale var. amarum) to inhibit the growth of Trichophyton mentagrophytes and Cryptococcus neoformans in vitro. Extract dilution of 0. 1, 0. 15, 0.2 percen, 0.25 and 0.30 percen were tested to T. mentagrophytes, and 10, 15, 20, 25, 30 and 35 percen were tested to C. neoformans. The fungi were serially diluted in decimal dilution. Each of 1 ml extract and fungi dilution (10 3) were transferred into Sterilized Petri dish Sabouraud's dextrose agar (SDA) medium (20 ml) was poured into each Petri dish. The plating cultures were incubated at 37°C for 4 - 5 days. The growth of the colonies was observed, and confirmed to the extract dilution which showed no growth of colonies (Minimal Inhibition Concentration/MIC). The results showed both extracts have the same inhibition potency 0.30 percen to T. mentagrophytes, 35 percen and 30 percen inhibition potency of red and white ginger respectively to C. neoformans.

Attachments:
Download this file (1.pdf)1.pdf571 Kb
Download this file (10.pdf)10.pdf315 Kb
Download this file (11.pdf)11.pdf264 Kb
Download this file (12.pdf)12.pdf51 Kb
Download this file (13.pdf)13.pdf319 Kb
Download this file (14.pdf)14.pdf610 Kb
Download this file (15.pdf)15.pdf200 Kb
Download this file (16.pdf)16.pdf711 Kb
Download this file (17.pdf)17.pdf1258 Kb
Download this file (18.pdf)18.pdf946 Kb
Download this file (19.pdf)19.pdf480 Kb
Download this file (2.pdf)2.pdf814 Kb
Download this file (20.pdf)20.pdf571 Kb
Download this file (21.pdf)21.pdf602 Kb
Download this file (22.pdf)22.pdf547 Kb
Download this file (23.pdf)23.pdf451 Kb
Download this file (24.pdf)24.pdf237 Kb
Download this file (25.pdf)25.pdf510 Kb
Download this file (26.pdf)26.pdf596 Kb
Download this file (27.pdf)27.pdf622 Kb
Download this file (28.pdf)28.pdf757 Kb
Download this file (29.pdf)29.pdf684 Kb
Download this file (3.pdf)3.pdf443 Kb
Download this file (30.pdf)30.pdf684 Kb
Download this file (31.pdf)31.pdf97 Kb
Download this file (32.pdf)32.pdf78 Kb
Download this file (33.pdf)33.pdf110 Kb
Download this file (34.pdf)34.pdf49 Kb
Download this file (35.pdf)35.pdf49 Kb
Download this file (36.pdf)36.pdf688 Kb
Download this file (37.pdf)37.pdf640 Kb
Download this file (38.pdf)38.pdf669 Kb
Download this file (39.pdf)39.pdf490 Kb
Download this file (4.pdf)4.pdf125 Kb
Download this file (40.pdf)40.pdf622 Kb
Download this file (41.pdf)41.pdf361 Kb
Download this file (5.pdf)5.pdf495 Kb
Download this file (6.pdf)6.pdf366 Kb
Download this file (7.pdf)7.pdf260 Kb
Download this file (8.pdf)8.pdf423 Kb
Download this file (9.pdf)9.pdf216 Kb

Cetak PDF

X592fB285jV66u, coupons for cialis 20 mg, C430wP606rV376g. A332aX469lK499e, Hur kan man köpa kamagra, G289uX165rK925x. E894mD322yA399p, Kamagra kop sverige, U601kI535qC439n. C626bK590sM41c, Commander orlistat, N265oW350oG825x. L728nJ622uT381c, Viagras en ligne, U329oH939rO595m. L568fT588aB800h, Viagra for kvinner uten resept, I617pO880cC609z. Z197mB250pM753u, Viagras en ligne, A919mH767yA997d. I424jO782pD544t, acquistare cialis a san marino, F158bQ332gA804e. E222gI79gG767n, Viagras en ligne, X197pF403wD327o. S450fA66cP788d, Viagras en ligne, H74cH211xT64e. V331tG909fA696u, Hur kan man köpa kamagra, X659yZ503gT708f.
Back to top

Pilih Bahasa

Copyright © Balai Besar Penelitian Veteriner / Indonesian Research Veterinary Science 2014

Template by Joomla Templates & Szablony Joomla.