Home Perpustakaan Publikasi Hasil Penelitian BBalitvet LIST OF PUBLISHED ARTICLES OF BBALITVET SCIENTISTS IN 2005

LIST OF PUBLISHED ARTICLES OF BBALITVET SCIENTISTS IN 2005

LIST OF PUBLISHED ARTICLES OF BBALITVET SCIENTISTS IN 2005

LOCAL JOURNAL

BACTERIOLOGY

1.

Ariyanti, Tati; Supar (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Peranan Salmonella enteritidis pada ayam dan produknya. Wartazoa. 2005, Vol.15(2): p.57-65.

Abstrak

Pangan asal ternak yang bebas dari mikroba patogen merupakan prasyarat untuk dapat dikonsumsi secara aman. Salah satu mikroba patogen yang berasal dari pangan asal ternak adalah Salmonella enteritidis banyak ditemukan pada ternak ayam dan dapat mengakibatkan kontaminasi pada produk ayam (telur atau daging) secara vertikal atau horizontal. Produk ternak yang terkontaminasi Salmonella dapat menyebabkan foodborne disease pada manusia. Kasus foodborne diseaease sering dilaporkan terjadi di berbagau belahan dunia termasuk Indonesia. Maslah tersebut perlu mendapat perhatian dari pemerintah, produsen dan konsumen. Dalam penyediaan [roduk pangan asal ternak khususbya ayam, kita dituntut menghasikan pangan hewani dan produk-produknya yang bebas dari Salmonella. Kondisi pangan yang demikian merupakan salah satu indikator yang sangat penting dalam persyaratan keamanan pangan. Pengendalian Salmonella pada tingkat produksi ternak dimulai dengan menggunakan bibit ayam dan bahan pakan yang bebas Salmonella, disertai sanitasi lingkungan peternakan yang baik. Selanjutnya dilakukan monitoring Salmonella pada peternakan dan proses pascapenen. Penanganan yang tepat terhadap ternak dan produk olahannya berguna untuk menunjang keberhasilan penyediaan bahan pangan asal ternak yang sehat, aman dan layak untuk dikonsumsi.

Abstract

The Role of Salmonella Enteritidis in Chicken and Its Product

Free pathogenic microorganism of food derived from animals is a prerequisite for human consumption. One of the important pathogenic microorganisms originated from animal product of food is Salmonella. Salmonella enteritidis is frequently found in chicken and spreads vertically as well as horizontally products (eggs, meats and meat products) by direct or indirect contact. Salmonella that contaminated animal product of food can cause foodborne disease in human. Foodborne disease associated with Salmonella occurred in some parts of the world including Indonesia. This problem needs attention from the government, producers and consumers. In the animal production especially chicken, it is demanded to provide animal food and their products free from Salmonella. This is an important indicator of safety food condition. Salmonella control programs in the animal production level begin with raising free—Salmonella day old chick with free Salmonella feed, good farm environmental sanitation. Further more, the monitoring program of Salmonella in farm and post harvest process needs to be conducted. Appropriate handlings of animals and their products are important to obtain food of animal products that are healthy and safe for human consumption.

2.

Kusmiyati; Noor, Susan Maphilindawati; Supar (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Leptospirosis pada hewan dan manusia di Indonesia. Wartazoa. 2005, Vol.15(4): p.213-220.

Abstrak

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus Leptospira yang patogen. Penyakit ini merupakan zoonosis, tersebar luar di seluruh dunia terutama di daerah tropis termasuk Indonesia. Titik sentral penyebab leptospirosis adalah urin hewan terinfeksi Leptospira yang mencemari lingkungan. Gejala klinis penyakit ini sangat bervariasi dari ringan hingga berat bahkan dapat menyebabkan kematian penderitanya. Gejala klinis yang tidak spesifik memerlukan uji laboratorium untuk mendukung penentuan diagnosanya. Upaya mengisolasi dan mengidentifikasi Leptospira sangat memakan waktu. Diagnosis leptospirosis yang itama dilakukan secara serologis. Uji serologis merupakan uji standar untuk konfirmasi diagnosis, menentukan prevalensi dan studi epidemiologi. Vaksinasi pada hewan merupakan salah satu cara pengendalian leptospirosis. Pengembangan vaksin untuk hewan masih terus dilakukan di Indonesia untuk memperoleh vaksin multivalen yang efektif karena Leptospirosis terdiri dari banyak serovar. Penggunaan vaksin yang sesuai dikombinasikan dengan perbaikan sanitasi lingkungan merupakan upaya pengendalian leptospirosis pada hewan di masa datang.

Abstract

Animal and Human Leptospirosis in Indonesia

Leptospirosis is a disease caused by Leptospira spp. infection. It is a zoonotic disease that is world-widely distributed. particularly in the tropics, including Indonesia. Infected animals are the source of leptospirosis for humans, and these animals are secreting pathogens into the environment. The clinical signs of leptospirosis may vary from mild to severe and dead may occur without a proper treatment. Due to the unspecific clinical sign, laboratory examination is required. However, isolation and identification the organism is time-consuming. Serological test is the most frequent way to confirm the clinical diagnosis, to determine prevalence in the community, and to conduct epidemiological studies. Vaccination with the appropriate antigen is used for controlling leptospirosis in animals. The multivalent Leplospira vaccine in Indonesia is developed according to the different types of serovar found in the field. The use of the appropriate vaccine combined with a good sanitation management could control leptospirosis in animals in the future.

3.

Natalia, Lily; Priadi, Adin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Penggunaan probiotik untuk pengendalian Clostridial Necrotic Enteritis pada ayam pedaging. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(1): p.71-78.

Abstrak

Clostridial necrotic enteritis (CNE) merupakan penyakit yang umum pada ayam pedaging dengan tingkat pertumbuhan yang cepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari penggunaan beberapa jenis probiotik dalam pengendalian CNE eksperimen pada ayam pedaging. Flora bakteri usus ayam normal yang telah diseleksi (mucosal starter culture selective/MCS) digunakan dalam metoda competitive exclusion pada ayam pedaging yang diamati pengaruhnya terhadap kejadian clostridial necrotic enteritis. Penelitian ini menunjukkan 4 kelompok ayam yang diberi probiotik per oral pada saat tiba di kandang. Semua kelompok ayam diberikan vaksin hidup koksidia (sebagai faktor predisposis untuk CNE) dan ditantang dengan 10 spora Clostridium perfringens tipe A dan C pada hari ke 10 dan 12. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa probiotik dapat menurunkan kejadian dan keparahan clostridial necrotic enteritis setelah ditantang dan memperbaiki bobot hidup ayam. Kelompok yang tidak mendapatkan probiotik memperlihatkan 40 persen kematian karena CNE, dan 30 persen subclinical necrotic enteritis (SNE).

Abstract

Utilization of probiotics for controlling clostridial necrotic enteritis in broiler chickens

Clostridial necrotic enteritis (CNE) is a common disease among rapidly growing broiler chickens. The purpose of this trial was to study the utilisation of probiotics in controlling experimental CNE in broiler chickens. Chicken normal gut bacterial flora (mucosal starter culture selective/MCS) was used as a competitive exclusion treatment in broiler chicken and its influence to the occurence of clostridial necrotic enteritis were observed. The study comprised of 4 broiler cages treatments of probiotics (2 different dose of MCS, commercial probiotic, 1 cage untreated as control). Probiotics were given orally upon arrival. All groups 8 were given live coccidial vaccine (as predisposing factor for CNE) and challenged with 10Clostridium perfringens tipe A and C spores on day 10 and 12. The results showed that the probiotics could reduced the incidence and severity of CNE after challenge and improved the performance of chickens treated. Untreated group showed 40% of the mortality due to CNE, and 30% of the chicken showed subclinical necrotic enteritis (SNE).

4.

Tarigan, Simson; Adji, Rahmat Setya; Natalia, Lily (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Produksi dan purifikasi antigen protektif Bacillus anthracis. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(3): p.208-216.

Abstrak

Protective antigen (PA) memainkan peranan vital dalam patogenisitas dan virulensi Bacillus anthracis. Hewan atau manusia yang diimunisasi dengan protein tersebut memiliki kekebalan terhadap penyakit antraks. Disamping dapat digunakan sebagai komponen utama suatu vaksin, PA juga dapat digunakan untuk pembuatan perangkat diagnostik imunologis. Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi PA dengan media biakan yang mudah diperoleh dan mengembangkan cara purifikasi yang efektif. Untuk memproduksi toksin, B. anthracis strain Sterne 34F2 ditumbuhkan pada agar darah, lalu koloni bakteri disuspensikan dan diinkubasikan selama 2 jam dalam RPMI-1640 yang ditambah NaHCO3 dan Tris. Protein yang terkandung dalam supernatan biakan diseparasi berturut-turut dengan kolom kromatografi Phenyl sepharose, Q sepharose dan Superdex-200. Urutan ini dilakukan untuk menyederhanakan dan mempercepat proses purifikasi. Deteksi PA pada fraksi yang dielusi dari kolom dilakukan dengan dot blot dan ELISA menggunakan antibodi spesifik PA komersial. Phenyl sepharose mengabsorbsi PA dengan kuat sedangkan sebagian besar protein yang lain tidak diabsorbsi atau diabsorbsi secara lemah. Purifikasi tahap berikutnya dengan Q sepharose, yang mengabsorbsi PA secara lemah sedangkan protein yang lain secara lebih kuat, sehingga menghasilkan PA dengan tingkat kemurnian yang tinggi. Tingkat kemurnian yang lebih tinggi lagi diperoleh setelah separasi dengan kolom Superdex-200. Akan tetapi PA yang berhasil dimurnikan tersebut telah mengalami nick, karena pada analisis SDS PAGE selalu terpisah menjadi dua pita protein 54.7 dan 29.2 kDa, dan hasil analisis imunoblot menunjukkan bahwa hanya pita protein 54.7 kDa saja yang dikenali oleh antibodi spesifik PA. Walaupun mengalami nick, PA yang dipurifikasi tersebut diperkirakan tidak kehilangan aktifitas biologisnya.

Abstract

Production and purification of Bacillus anthracis protective antigen

Protective antigen (PA) plays crucial roles in the pathogenicity and virulence of Bacillus anthracis. Animals or human immunised with the protein acquire a complete protection against the disease. In addition to vaccine, PA can also be developed into a sensitive diagnostic test for anthrax. The purpose of this study was to produce PA using a culture medium easily obtained, and to develop a simple and effective technique for purification of the protein. To produce PA, B. anthracis Sterne 34F2 strain was first grown on blood agar, then bacterial colonies were suspended and incubated for 2 hours in RPMI-1640 supplemented with NaHCO3 and Tris. Protein components in the culture supernatant were separated consecutively with Phenyl sepharose, Q-sepharose and Superdex-200 columns. This order was used in order to simplify and speed up the purification process. The PA contained in the fractions was detected by a dot blot or an ELISA using commercial PA specific antibody. The PA was absorbed strongly by the phenyl sepharose whereas other proteins were absorbed weakly or not absorbed at all. When these PA-containing fractions were loaded into Q-sepharose column, PA was absorbed considerably weaker than contaminated proteins. Although the level of purity obtained from the Q-sepharose column was satisfactory, further separation on Superdex produced an even higher purity. However, on SDS-PAGE analysis, the purified PA was seen as a two-band protein (54.7 and 29.2 kDa) because of nicked proteolysis. On an immunoblot assay, only the 54.7 band was recognised by the PA-specific antibody. Despite the nick proteolysis, the PA purified in this study was considered to retain its biological activities.

FOOD SAFETY

5.

Bahri, Sjamsul; Masbulan, E.; Kusumaningsih, Anni (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Proses praproduksi sebagai faktor penting dalam menghasilkan produk ternak yang aman untuk manusia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005, Vol.24(1): p.27-35.

Abstrak

Pangan asal ternak sangat dibutuhkan untuk menunjang kehidupan dan kualitas hidup manusia, sekaligus sebagai komoditas dagang. Oleh karena itu, produk peternakan dituntut memiliki mutu tinggi agar berdaya saing serta aman dikonsumsi. Makalah ini menyajikan data dan informasi mengenai berbagai cemaran dan residu senyawa asing pada produk peternakan di Indonesia, serta mengulas berbagai faktor yang terkait dengan rantai penyediaan pangan dan sistem keamanan produk peternakan. Dari bahasan ini diketahui bahwa penggunaan obat hewan, terutama yang dicampur dalam pakan sudah sangat meluas dan cenderung tidak mengikuti ketentuan. Sementara itu berbagai residu (antibiotik, preparat sulfa, mikotoksin, hormon, dan pestisida) ditemukan pada produk ternak seperti susu, telur, daging, dan organ hati ternak. Pakan, penyakit ternak, obat hewan, pengawasan dan manajemen pada proses praproduksi memegang peranan penting dalam menghasilkan produk ternak yang bermutu tinggi dan aman dikonsumsi. Pengetahuan dan kesadaran peternak (produsen) untuk menghasilkan produk peternakan yang bermutu, bebas dari penyakit dan cemaran atau residu perlu ditingkatkan. Penerapan HACCP (hazard critical controle point) pada proses praproduksi diyakini dapat menghasilkan produk ternak yang bermutu dan aman untuk manusia. Kata kunci: Pemeliharaan ternak, produk ternak, residu, kesehatan

Abstract

Praproduction process as an important factor in producing livestock products for human health

Praproduction process as an important factor in producing livestock products for human health Food originally from livestock are very important for human live and quality of human being, more over as trade commodity. To achieve these, livestock products must have a good quality, free of animal diseases or residues, safe or human consumption, and have a high competition in global market. This paper present some information on residues at livestock products and factors involved in that process of the whole food chain in Indonesia. The data showed that animal medicine (especially antibiotics, feed additive, and feed supplement) is widely used by farmers in incorrect doses. A high level of some residues (e.g. antibiotics, sulpha preparation, mycotoxins, hormones, and pesticides) were also found in the products, including milk, eggs, meat, and liver. So it is very important to control and manage all stage of the food chain, rather than food products alone. A good quality of training and extension in this field for farmers or producers should be developed. Application of hazard analysis of critical control points (HACCP) in every steps of the whole food chain process will give a good quality of livestock products and safe for human consumption.

6.

Supar; Ariyanti, Tati (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Keamanan pangan produk peternakan ditinjau dari aspek penyakit. Wartazoa. 2005, Vol.15(4): p.187-205.

Abstrak

Penyakit merupakan faktor atau kendala utama kinerja dalam produksi peternakan pada penyediaan pengan asal ternak. Faktor penyakit baik infeksius maupun non infeksius akan mempengaruhi kualitas produk pangan asal ernak dan keamanannya untuk dikonsumsi manusia. Keamanan pangan produk peternakan merupakan isu dunia sifatnya dapat lokal atau internasional mutlak harus diperhatikan karena menyangkut berbagai aspek kualitas hidup manusia dan kesehatannya. Keamanan pangan produk peternakan ditentukan oleh kondisi fisik dan kesehatan ternak pangan pada periode prapanen. Dalam memperoleh pangan asal ternak yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi, rantai penyediaan mulai dari praproduksi (penyediaan bibit), tingkat produksi (peternakan) sampai siap panen perlu dipahami dan dijaga terhadap adanya gangguan kesehatan akibat penyakit (bakterial, viral dan protozoa) dan juga residu antibiotik, hormon dan insektisida. Dilihat dari segi keamanan pangan penyakit bakterial yang sering menimbulkan masalah mulai dari tingkat produksi ternak hingga pascapanen ialah: penyakit antraks, salmonellosis, brucellosis, tuberculosis, clostridiosis, colibasilosis, staphylococcosis. Bakteri penyebab penyakit tersebut pada periode pascapanen dapat menyebabkan gangguan kesehatan manusua berupa foodborne disease dan atau food poisoning. Penyakit viral berpengaruh nyata terhadap keamanan ternak pada periode prapanen, tetapi tidak begitu berakibat fatal dalam aspek keamanan pangan pascaproduksi ternak atau pascapanen.

Abstract

Food Safety of Animal Products That Viewed From Disease Aspect

Animal diseases are major factors affecting food producing animals at husbandry productions. The infectious and or non infectious diseases can influence the food quality of animal products and their safety for human consumption. The food safety of animal products becomes a world trade issue because it affects some aspects of human life quality and health. The food safety of animal products is defined at least by physical and health conditions of animal at prcharvest period. It can he achieved by good manufacturing practice, beginning at animal production level up to the harvesting period. During this period, the animals must be protected against infection by pathogens of either bacteria, viruses or protozoa. Important animal diseases which often cause problems during animal husbandry productions are anthrax, salmonellosis, brucellosis, tuberculosis, clostridiosis, colibacillosis, staphylococcosis. Some of the pathogens causing those diseases may also cause food poisoning and foodborne disease. The viral disease infection can affect food-safety at preharvest time but not at postharvest. At preharvest period in farms the disease can be controlled by vaccines and selected drug application. To obtain the good quality assurance of food producing animals and the safety for human consumption, the physical and the health conditions of animals can be determined visually. To determine the health status of food producing animals, each animal must be tested for the presence of pathogens and or specific antibody. This needs a veterinary laboratory facility with good equipments, chemical and diagnostic reagents. On the other hand, in order to pursue the good quality assurance of food producing animals up to the harvesting period, the hazard analysis critical control point (HACCP) and good agricultural practice (GAP) concepts in animal husbandry productions must be followed.

MYCOLOGY

7.

Ahmad, Riza Zainuddin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pemanfaatan khamir Saccharomyces cerevisiae untuk ternak. Wartazoa. 2005, Vol.15(1): p. 49-55.

 

Abstrak

Saccharomyces cerevisiae merupakan salah satu jenis cendawan tergolong khamir yang bermanfaat untuk manusia dan ternak. Pertamakali dimanfaatkan untuk pembuatan makanan, sejalan dengan waktu kemudian mulai dipakai untuk keperluan bioteknologi, industri. S. cerevisiae dipakai sebagai probiotik dan imunostimulan untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak seperti ruminansia, unggas ataupun ikan. Hasil-hasil penelitian yang diperoleh secara umum menunjukkan pemakaian S. cerevisiae feed additive berkorelasi positif terhadap penampilan bobot badan ternak. Tulisan ini menguraikan pentingnya penggunaan S. erevisae untuk produktivitas dan kesehatan ternak.

Abstract

The Advantage of Yeast Saccharomyces Cerevisiae for Livestock

Saccharomyces cerevisiae is a yeast that is useful for human and animal. It can he used for producing food and for biotechnology of industrial purposes. Recently. it is used as probiotic and immunostimulant to improve livestock productivity and health. Research results indicate that the utilization of S. cerevisiae as feed additive in animal feed has a positive correlation to the body weight gain of the animal. This paper describes the importance of S. cerevisiae in improving livestock productivity and health.

8.

Gholib Djaenudin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kasus Fusoriosis dan isolasi Fusarium sp. dari ulkus kulit pada seekor ular laut (Laticauda sp.). Jurnal Mikologi Kedokteran Indonesia. 2005, Vol.6(1/2): p.33-34.

Abstrak

Sampel ulkus dari seekor ular laut (sea krait) jenis laticauda sp. yang berasal dari Lembaga Oceanografi, Jakarta telah diterima oleh laboratorium Mikologi, dan diperiksa secara kultural. Hasil pembiakan menunjukkan adanya pertumbuhan koloni cendawan. Identifikasi secara makro dan mikroskopi menunjukkan bahwa cendawan tersebut adalah Fusarium sp. Disimpulkan bahwa ulkus kulit itu terjadi akibat infeksi Fusarium sp.

Abstract

A skin ulcer of a Sea Krait of the genus Laticauda came from Oceanography Research Institute, Jakarta was received by Mycology Laboratory and examined culturally. Cultural result showed the growth of a fungal colony. Macroscopic and microscopic identifications indicated that the fungus was Fusarium sp. It was concluded that the skin ulcer was a result of Fusarium sp. Infection

9.

Gholib Djaenudin; Tarmudji (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kasus Dermatofilosis oleh Trichophyton mentagrophytes pada seekor kukang (Nycticebus coucang). Jurnal Mikologi Kedokteran Indonesia. 2005, Vol.6(1/2): p.35-37.

Abstrak

Suatu kasus dermatofitosis (kadas) telah ditemukan pada seekor kukang (Nycticebus coucang), berasal dari karantina tegal alur, Cengkareng, Jakarta. Pemeriksaan kultur atas kerokan kulit kukang tersebut menunjukkan bahwa penyebab kadar itu ialah Trichophyton mentagrophytes.

Abstract

A case of dermatophytosis (ringworm) was detected on a coucang (Nycticebus coucang) from Tegal Alur Quarantine, Cengkareng, Jakarta. Cultural examination on skin scrapings of the Coucang showed that the causal agent of the ringworm was Trichophyton mentagrophytes

10.

Gholib Djaenudin; Tarmudji (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kasus Aspergillosis granuloma pada paru-paru burung emu (Dromacius novaehollandies). Jurnal Mikologi Kedokteran Indonesia. 2005, Vol.6(1/2): p.38-40.

Abstrak

Seekor burung Emu (Dromacius novaehollandies) dari Taman Safari Cisarua, mengalami sakit dengan keadaan lemah lalu mati, kemudian dikirim ke Balitvet untuk diotopsi. peneriksaan patologi (PA) memperlihatkan benjolan (nodula) berwarna putih menyebar pada paru-paru, laring dan kantung hawa (air sac). Spesimen paru-paru diperiksa secara mikologis terhadap aspirgillosis dan bakteriologi terhadap tuberkulosis (Mycobacterium sp). Hasil pemeriksaan mikologis menunjukkan adanya pertumbuhan kapang Aspergillus fumigatus murni, sedangkan hasil pemeriksaan bakteriologis negatif. Disimpulkan bahwa paru-paru burung Emu tersebut menderita aspergillosis granuloma yang disebabkan oleh A.fumigatus.

Abstract

A sick bird, Emu (Dromacius novaehollandies) from Safari Garden Cisarua showed very weak and died, sent to Balitvet for autopsy. Pathological examination showed white nodules in lung, larynx and air sac. A specimen of lung organ was examined by cultural method in Mycology for aspergillosis and in Bacteriology Laboratory for Mycobacterium sp. Result of culturing showed the growth of a pure Aspergillus fumigatus, and white bacterial examination showed no growth. It concluded that the lung of Emu was suffered from granulomatous aspergillosis caused by A. Fumigatus.

MYCOLOGY; PARASITOLOGY

11.

Ahmad, Riza Zainuddin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pemanfaatan cendawan Arthrobotrys oligospora dan Duddingtonia flagrans untuk pengendalian Haemonchosis pada ruminansia kecil di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005, Vol.24(4): p.143-148.

Abstrak

Cendawan Arthrobotrys oligospora dan Duddingtonia flagrans dapat digunakan untuk pengendalian haemochosis yang sulit ditanggulangi dan secara ekonomi merugikan pada ruminansia kecil di Indonesia. Penelitian pemanfaatan cendawan entomofagus telah dilakukan sejak tahun 1990-an dan hasilnya dapat diaplikasikan pada tahun 2000-an. Sebelum terpilih sebagai pengendali biologis, cendawan harus melalui beberapa tahap seleksi dan pengujian yaitu : isolasi dan identifikasi, seleksi strees saluran pencernaan, uji reduksi in vitro dan in vivo, serta aplikasi laboratorium, lapangan, dan oleh pengguna. Dari isolat yang berhasil ditemukan hanya sedikit yang terpilih sebagai cendawan nematofagus. Namun sejumlah temuan isolat yang telah diuji tersebut dapat digunakan untuk pengendalian haemonchosis pada ruminansia kecil di Indonesia.

Abstract

The use of Arthrobotrys oligospora and Duddingtonia flagrans fungi for controlling haemonchosis in

small runzinant in Indonesia

The fungi Arthrobotrys oligospora and Duddingtonia flagrans can be used to control haemonchosis. The disease is difficult to handle and causes economic loss in small ruminant in Indonesia. Research on using of nematophagous fungi was started in 1990s and the results were applied in 2000s. Before being chosen as a biological control agent, the fungi must pass some following stages, i.e., isolation and identification, in vitro stress selection for gastrointestinal tract, in vitro and in vivo reduction test to H. contortus, and application in laboratory, in field, and on users. From the isolates found only a few can be used as nematophagous fungi. However, the tested isolates eventually can be used to control haemonchosis in Indonesia.

PARASITOLOGY

12.

Beriajaya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Gastrointestinal nematode infections on sheep and goats in West Java, Indonesia. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(4): p.293-304.

Abstract

These studies were carried out in three locations representing low, medium and high altitudes in West Java to determine the effects of season, climate, management, growth and mortality on nematode parasitism in sheep and goats. Basically, the animals in each location were divided into treated and untreated groups with anthelmintics. Animals were weighed and faecal samples were collected every 2 to 4 weeks. Haemonchus contortus and Trichostrongylus spp. were the predominant species of gastrointestinal nematodes recovered from faecal cultures. In low altitude areas, faecal egg counts dropped progressively throughout the dry season and rose again with the onset of the wet season. The proportion of H. contortus larvae decreased progressively throughout the dry season and increased with the onset of the wet season, however the opposite pattern occurred with proportions of larvae of Trichostrongylus spp. In medium altitude areas, there was no consistent pattern of rising or falling faecal egg counts associated with fluctuations in rainfall. In high altitude areas, there was a trend for egg counts to increase progressively after the onset of the wet season even faecal egg counts were below 1500 epg. After treated with anthelmintics, faecal egg counts were suppressed to only few eggs in two weeks and then rose again in four week later, however in animals received medicated phenothiazine, mean egg counts were maintained below 500 epg. Treated animals in medium areas maintained low egg counts until the end of the trial. Seasonal fluctuation in weight gain of sheep was observed in low areas. Treated animals had significantly lower mortality than untreated animals but the evidence that parasitism contributed to this mortality is persuasive. It was concluded that nematode parasites cause a significant loss of production in sheep during wet season in coastal regions and in areas of rainfall throughout the year.

Abstrak

Infeksi cacing nematoda saluran pencernaan pada domba dan kambing di Jawa Barat, Indonesia

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh musim, iklim, manajemen, pertumbuhan dan mortalitas terhadap infeksi cacing nematoda pada domba dan kambing di tiga lokasi yang mewakili dataran rendah, sedang dan tinggi di Jawa Barat, Indonesia. Hewan ditiap lokasi dibagi menjadi kelompok kontrol dan pengobatan dengan antelmetik. Hewan ditimbang dan sampel tinja diambil setiap 2-4 minggu. Jenis cacing yang dominan ditemukan dalam pupukan tinja adalah Haemonchus contortus dan Trichostrongylus spp. Di dataran rendah, jumlah telur cacing dan persentase ;arva H.contortus menurun sepajang musim kemarau dan kemudian naik lagi bersamaan dengan tibanya musim hujan, tetapi kebalikan ini terjadi pada larva Trichostrongylus spp. Di dataran sedang, jumlah telur cacing tidak naik atau turun secara konsisten dihubungkan dengan fluktuasi curah hujan. Di dataran tinggi, jumlah telur cacing mempunyai kecenderungan untuk naik pada musim hujan, walaupun masih dibawah 1500 epg. Ternak yang sering digembalakan cenderung mempunyai jumlah telur cacing yang lebih banyak dibanding dengan ternak yang dikandangkan secara terus menerus. Setelah pengobatan dengan antelmentik, jumlah telur turun menjadi sekitar dalam 2 minggu dan kemudian naik lagi pada minggu ke-4 tetapi ternak yang diberi antelmentik phenothiazine, jumlah telur cacingnya tetap di bawah 500 epg. Setelah pengobatan jumlah telur cacing pada kelompok pengobatan tetap rendah sampai akhir penelitian/ Fluktuasi kenaikan bobt hidup pada domba terlihat pada daerah rendah. Selain itu, kelompok pengobatan mempunyai angka mortalitas yang lebih rendah daripada kelompok yang tanpa pengobatan, tetapi kontribusi parasitism belum dikonfirmasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa infkesi cacing nematoda menyebabkan turunnya produksi domba selama musin hujan di daerah dataran rendah dan di daerah dengan hujan yang terjadinya sepanjang tahun.

13.

Beriajaya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Nematodiasis in sheep and goats kept under traditional farming practice in Batujajar, Cigudeg, Bogor. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(3): p.190-199.

Abstract

This study was conducted to determine the relation of age, sex, season and reproduction on gastrointestinal nematode parasitism of the two most commonly kept breeds of sheep and goat in Bogor district. A total of 119 Indonesian Thin Tail (ITT) sheep and 130 Peranakan Etawah (PE) goats with different age and sex were monitored for 16 months. Age of sheep and goat was divided into 3 groups respectively, i.e. before weaning (<4 months) 35 and 32, after weaning (4-8 months) 53 and 63; and adults (>8 months) 31 and 35. Each 4 weeks, individual faeces were collected and individual animals were weighed. Information on the mortality, morbidity, pregnancy, slaughtered and sold was recorded. The results showed that Haemonchus contortus and Trichostrongylus spp. were dominant species of nematodes found in the faecal cultured. In the period of monitoring, egg counts of nematodes in sheep were higher (P<0.05) than in goats, however both animals have similar pattern of egg counts. In the first three months, the egg counts remained steady relatively in 3 groups of age, but soon after that the egg counts increased and reached its peak (in March) of 6186 eggs in sheep and 3434 in goats, there after they decreased along with the onset of dry season. A part from this, the egg counts increased (P<0.05) three months before lambing and remained steady until 2 months after partus in sheep, but not in goats. During the monitoring period, weight gain in wet season was lower (P<0.05) as compared to dry season. There was no effect of sex on faecal egg count in either sheep or goats although male sheep had higher egg counts than female sheep had in November and January. Evidence of diarrhoeic faeces was higher in wet season than in dry season.

Abstrak

Nematodiasis pada domba dan kambing yang dipelihara secara tradisional di Batujajar, Cigudeg, Bogor.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan umur, jenis kelamin, musim dan status reproduksi pada masa kebuntingan dan laktasi terhadap infeksi cacing nematoda pada domba dan kambing di daerah Bogor. Sebanyak 119 domba Indonesian Thin Tail (ITT) dan 130 kambing Peranakan Etawah (PE), dimonitoring selama 16 bulan. Umur dibagi dalam 3 kategori, untuk domba dan kambing masing-masing sebelum sapih (<4 bulan) 35 dan 32, setelah sapih (4-8 bulan) 53 dan 63; dan dewasa (>8 bulan) 31 dan 35. Setiap 4 minggu sekali dilakukan pengambilan sampel tinja untuk pemeriksaan jumlah telur cacing dan penimbangan berat badan. Selain itu, informasi terhadap kematian, angka kesakitan, kebuntingan, kelahiran, pemotongan dan penjualan juga dicatat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa Haemonchus contortus dan Trichostrongylus spp merupakan cacing yang dominan ditemukan dalam pupukan tinja. Selama periode pengamatan, jumlah telur cacing per gram tinja pada domba lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kambing, tetapi keduanya mempunyai pola yang sama. Jumlah telur cacing relatif stabil pada tiga bulan pertama pada ketiga kelompok umur, tetapi kemudian meningkat dan mencapai puncak 6186 epg pada domba dan 3434 epg pada kambing selama bulan Maret, setelah itu turun bersamaan dengan datangnya musim kemarau. Selain itu jumlah telur cacing meningkat (P<0,05) mulai dari tiga bulan sebelum melahirkan sampai 2 bulan masa setelah melahirkan pada domba kelompok umur dewasa, tetapi tidak pada kambing. Kenaikan bobot hidup pada musim hujan lebih rendah (P<0,05) dibandingkan pada musim kemarau. Selain itu tidak ada pengaruh jenis kelamin terhadap jumlah telur cacing pada domba dan kambing meskipun domba jantan mempunyai jumlah telur cacing yang lebih banyak dari betina pada bulan November dan Januari. Selama musim hujan, kasus diare lebih banyak terjadi dibandingkan dengan musim kemarau.

14.

Estuningsih, Sarwitri Endah (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Toxocariosis pada hewan dan bahayanya pada manusia. Wartazoa. 2005, Vol.15(3): p.136-142.

Abstrak

Toxocariosis pada hewan biayasanya disebabkan oleh infeksi cacing Toxocara cati pada kucing, T.canis pada anjing dan T.vitulorum pada sapi atau kerbau. Kejadian penyakit ini kurang dikenali dan diperhitungkan oleh pemilik atau peternak hewan-hewan tersebut. Cacing toxocara merupakan cacing gilig gastrointestinal yang patogen karena larva cacingnya bisa menyerang organ dalam dan bisa juga menyebabkan diare pada hewan yang terserang bahkan sampai menimbulkan kematian apabila tidak ditangani secara serius. Beberapa spesies Toxocara dilaporkan tidak hanya berbahaya terhadap hewan tetapi juga dapat menginfeksi manusia. Pada manusia yang terinfeksi Toxocara, larvanya bisa menyebabkan visceral larva migrans dan dapat mengakibatkan timbulnya gejala muntah-muntah. Ocular larval migrans bisa juga terjadi akibat adanya infeksi tersebut yang bisa menyebabkan kerusakan mata permanen pada manusia. Pencegahan penyakit ini bisa dilakukan dengan menghindari terjadinya kontaminasi tclur dari hewan yang terinfeksi dan dengan pemberian obat cacing secara teratur.

Abstract

Toxocariasis in Animals and The Risks in Human Being

Toxocariasis is usually caused by infection of Toxocara call to cats, T. canis to dogs and T. vitulorum to cattle or buffaloes. The disease is not recognized and often underestimated by the owners or farmers. Toxocara is a pathogenic gastrointestinal worm and the larva could attack internal organs. cause diarrhea and kill the animals if the disease is not seriously handled. Some species of Toxocara is not only danger to the animals but it could also infect the human being. In human infected by with Toxocara, the larval can cause visceral larval migrans and resulting in symptom such as vomiting. Ocular larval migrans can also result from infection. which causes permanent eye damage in human. Prevention of toxocariasis could he done by avoiding contamination of the environment from eggs, coming from infected animals and also by treating with anthelmintic regularly.

15.

Haryuningtyas, Dyah (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Deteksi mutasi pada GenTubulin B isotipe-1 cacing Haemonchus contortus isolat resisten terhadap Benzimidazole dengan Single Strand Confirmation Polymorphism. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(3): p. 200-207.

Abstrak

Kasus resistensi cacing Haemonchus contortus terhadap antelmentika golongan benzimidazole yang diuji dengan metode Larval development assay (LDA) dan Fecal egg count reduction test (FECRT) telah dilaporkan terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Studi pada H. contortus diketahui resistensi terhadap antelmentika golongan benzimidazole terkait dengan seleksi spesifik secara individual pada gen tubulin ß isotipe-1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya mutasi pada fragmen gen tubulin ß isotipe-1 pada cacing H. contortus yang resisten terhadap benzimidazole dengan metode Single Strand Conformation Polymorphism (SSCP). Cacing H. contortus diisolasi dari 4 domba yang berasal dari 2 peternakan milik pemerintah yang diketahui telah terjadi resistensi terhadap benzimidazole yaitu SPTD Trijaya Kuningan, Jawa Barat dan UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan, Bantul, Yogyakarta dan 1 ekor domba yang peka sebagai kontrol milik peternak yang berasal dari Cicurug, Bogor, Jawa Barat. Status resistensinya dicek ulang secara individual dengan LDA dan FECRT sebelum hewan dipotong. DNA genom diisolasi, selanjutnya dilakukan amplifikasi terhadap fragmen gen tubulin ß isotipe-1 dengan Polymerase chain reaction (PCR) sepanjang 520 bp. Hasil amplifikasi dianalisis dengan SSCP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode SSCP diketahui ada polimorfisme pada gen tubulin ß isotipe-1 antara cacing H. contortus isolat peka dengan dua isolat resisten terhadap benzimidazole yaitu dari SPTD Trijaya, Kuningan, Jawa Barat dan UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan, Bantul, Yogyakarta. Mutasi terjadi pada nukleotida yang berbeda dari kedua isolat resisten tersebut.

Abstract

Mutation detection on isotype-1 ß tubulin genes of Haemonchus contortus resistant strain to

benzimidazole using single strand conformation polymorphism.

Evidence of anthelmintic resistance of Haemonchus contortus to benzimidazole groups based on Larval development assay (LDA) and Fecal egg count reduction test (FECRT) test has been reported in some areas in Indonesia. Studies on sheep parasite H. contortus have shown that resistance to benzimidazole drugs is correlated with selection for individuals in the population possesing a spesific isotype-1 ß tubulin gene. The aim of this study was to determine mutation on central part of isotype-1 ß tubulin gene of benzimidazole resistant strain H. contortus using Single Strand Conformation Polymorphism (SSCP). H. contortus worms were isolated from four sheep from two government farms that resistance to benzimidazole have been occurred (SPTD Trijaya, Kuningan, West Java and UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan, Bantul, Yogyakarta) and one sheep that susceptible from Cicurug, Bogor, West Java as a kontrol. Resistance status to benzimidazole was reexamined individually with LDA and FECRT before sheep slaughtered. DNA was extracted from female H. contortus worms. A fragment of 520 bp isotype-1 ß tubulin gene was amplified using Polymerase chain reaction (PCR) and then analyze using SSCP. The results showed that there were polymorphism in isotype-1 ß tubulin gene among H. contortus susceptible (Cicurug, Bogor, Jawa Barat) and two H. contortus resistant strains from SPTD Trijaya, Kuningan, West Java and UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan, Bantul, Yogyakarta. Mutation occurred in the different nucleotide of the two resistant strain.

16.

Martindah, Eny; Widjajanti, Sri; Estuningsih, Sarwitri Endah; Suhardono (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap Fasciolosis sebagai penyakit zoonosis. Wartazoa. 2005, Vol.15(3): p.143-154.

Abstrak

Fasciolosis umumnya menyerang hewan ruminansia dan merupakan salah satu penyakit parasite yang penting, terutama pada sapi dan kerbau. Kejadian fasciolosis pada ternak ruminansia tersebut berkaitan erat dengan pencemaran metaserkaria, yang merupakan larva infektif cacing trematoda genus Fasciola spp., seperti Fasciola gigantica dan F.hepatica, dalam hijauan pakan dan air minum ternak. Di Indonesia, prevalensi fasciolosis pada ternak mencapai 90 persen, sedangkan kasus pada manusia sampai saat ini belum ada laporan. Namun demikian, kejadian penyakit ini pada manusia patut diwaspadai mengingat di beberapa negara Amerika Selatan, Eropa, Australia, New Zealand dan Asia Tenggara (seperti Thailand dan Vietnam) sudah dilaporkan kejadiannya sebagai "Food-borne infection" yang penting bagi kesehatan masyrakat. Ironisnya, petani dan peternak bahkan penyuluh pertanian di Indonesia tidak menyadari bahaya dari penyakit inim baik pada ternak maupun manusia, sehingga pencegahan dan pengendaliannya masih sangat kurang diperhatikan. Hal ini diduga karena fasciolosis merupakan penyakit kronis yang tidak jelas gejala klinisnya dan cukup sulit dideteksi. Oleh karena itu, perlu diupayakan peningkatan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat terhadap kemungkinan serangan fasciolosis baik pada ternak maupun kemungkinan penularannya pada manusia. Daerah endemis fasciolosis dapat ditetapkan melalui penyidikan epidemiologi dengan teknik diagnosa dini yang akurat, sehingga teknik pengendalian fasciolosis secara strategis dan berkelanjutan di kawasan endemik dapat diterapkan. Keberhasilan dan upaya tersebut sangat ditentukan oleh kerjasama yang baik dan terpadu antara petani, peternak, penyuluh pertanian, peneliti dan para pengambil kebijakan.

Abstract

Improvement of Public Awareness on Fasciolosis as Zoonosis Disease

Fasciolosis is commonly suffered by the ruminants such as cattle and buffaloes, and as one of the most important parasitic disease. The prevalence of fasciolosis in ruminants is related to the contaminated feedstuff and water supply with metacercariae, the infective larvae of nematode genus Fasciola spp., such as Fasciola gigantica and F. hepatica. In Indonesia, the prevalence of this disease in ruminants could be up to 90%, and there is no case report on human being. However, the occurrence of this disease in human should be anticipated, since many cases have been reported in human in the other countries, such as South America, Europe, Australia, New Zealand and South East Asia (Thailand and Vietnam), as "Food-borne infection" and as one of the most important issues in public health. Ironically, the farmers and the extension agents in Indonesia do not aware on the danger of this disease neither to the animals nor to human, so they also do not care on how to prevent and control the disease. This phenomenon appears maybe because fasciolosis is a chronic disease without any significant clinical signs and quite difficult to be detected. Thus, it is very important to improve the public awareness on fasciolosis both in ruminants and its possibility in human being. The endemic areas can be defined by epidemiological surveillance using accurate early diagnostic test, so that strategic and sustainable fasciolosis control in the endemic areas could be implemented. This program will be succeeded if there is strong integrated collaboration among the farmers, the extension agents, the researchers and the decision makers in the related departments.

17.

Muharsini, Sri (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Strategi pengembangan Vaksin Myiasis yang disebabkan oleh larva lalat Chrysomya bezziana (the old world Screwworm fly). Wartazoa. 2005, Vol.15(2): p. 102-110.

Abstrak

Indonesia merupakan daerah edemis myiasis yang disebabkan oleh larva Chrysomya bezziana. Sampai saat ini, pengendalian penyakit ini masih mengandalkan penggunaan insektisida jenis organofosfat dan coumaphos. Kontrol myiasis dengan Sterile Insect Technique (SIT) cukup berhasil, namun metode ini sangat mahal disamping pemakaian insektisida pendamping yang cukup banyak. Oleh sebab itu, diperlukan alternatif lain untuk pengendalian myiasis yang relatif murah, lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan konsep pertanian yang berkesinambungan, yaitu dengan vaksinasi. Dalam makalah ini, dibahas strategi pengembangan vaksin myiasis yang telah dikerjakan oleh Balai Penelitian Veteriner bekerja sama dengan PAUITB, Bandung dan CSIRO. 13risbane-Australia. Tahapan pertama adalah identifikasi dan purifikasi antigen protektif dari bahan ekskretori/sekretori (ES) dan membran peritrotik (MP). Bahan ES dipurifikasi dan dianalisa dengan sekuen asam amino terminal menghasilkan tripsin clan chymotiypsin yang masing-masing berukuran 26 dan 28 kDa. Bahan membran peritrotik selanjutnya difraksinasi dan diperoleh kandidat antigen Cb15. Cb42 dan Cb48. Ke-tiga protein kandidat diekspresikan ke bakteri Eschericia coil clan khamir Pichia pastoris dengan hasil yang bervariasi, tergantung dad sifat masing-masing protein. Strategi pengembangan vaksin myiasis ini dapat dijadikan salah satu acuan untuk pengembangan vaksin penyakit parasit lain di Indonesia.

Abstract

Vaccine Development Strategy for Myiasis Caused By The Larvae of Chrysomya Bezziana

(The Old World Screwworm Fly)

Indonesia is an endemic area for myasis caused by the larvae of Chrysomya bezziana. So far, the controlling method for myiasis is using insecticides such as organophosphate and coumaphos compounds. Sterile Insect Technique (SIT) was a successful method for myiasis control, however, this method is expensive. beside it needs a large amount of insecticide. Therefore, vaccinations as an alternate controlling method for myiasis which relatively cheap, environment friendly and in accordance with the sustainable agriculture concept are needed. The strategy of myiasis vaccine development has been done by the Indonesia Research Institute for Veterinary Science in collaboration with IUC-ITB, Bandung and CSIRO. Brisbane-Australia, are briefly discussed in this paper. The first step was to identify and purify the protective antigens front excretory/secretory material and peritrophic membrane. The excretory/secretory material was purified and analysed using amino-terminal sequencing and resulted trypsin and chymotrypsin at 26 kDa and 28 kDa. respectively. The peritrophic membrane was then fractionated and resulted candidate antigens of Cb15. Cb42 and Cb48. The three antigens were expressed into bacterial Eschericia coli and yeast Pichia pastoris resulting different yield depending on each protein character. The strategy of myiasis vaccine could be used as an alternate way for vaccine development for other parasite diseases in Indonesia.

18.

Tarigan, Simson (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Ingestion of host immunoglobulin by Sarcoptes scabiei. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(1): p.35-40.

Abstract

Scabies is one of the most important diseases in human and veterinary medicine. The available control measures that rely on acaricides are unsustainable, costly and environmentally unfriendly. Vaccination which is supposedly the most attractive alternative control, is sustainable, potentially cheap and environmentally friendly. Recent development in protein biochemistry and recombinant technology have facilitated the development of anti-parasite vaccine which in the past was impossible. One prerequisite for the anti-parasite-vaccine development is that the parasite has to ingest its host immunoglobulin. This study, therefore, was designed to determine whether Sarcoptes scabiei, a non blood-feeding parasite that resides on the avascular cornified layer of the skin, ingest its host immunoglobulin. Sections of routinely processed mites and skin from a mangy goat were probed with peroxidase-conjugated-anti-goat IgG and the immune complex was visualised with diaminobenzidine solution. To determine whether the ingested IgG was still intact or had been fragmented by the proteolytic enzymes, immunoblotting analysis of SDS-PAGE- fractionated proteins extracted from washed mites was performed. Quantification of IgG was done by an Elisa using purified goat IgG as control. This study showed that IgG in the mites confined to the mite’s gut only, and only a fraction of mite population ingested the IgG. The ingested IgG, as shown by immunoblot analysis, was mostly still intact. This study indicates that development of anti-scabies vaccines is reasonable.

Abstrak

Internalisasi imunoglobulin induk semang oleh Sarcoptes scabiei

Skabies adalah salah satu penyakit yang sangat penting pada manusua dan hewan. Cara pengendalian yang bertumpu pada pemakaian akarisida tidak memuaskan karena tidak sustainable, mahal dan tidak ramah lingkungan. Vaksinasi, yang diperkirakan merupakan cara penanggulangan alternatif yang paling baik, adalah cara yang sustainable, berpotensi lebih murah dan ramah lingkungan. Perkembangan teknologi biokimia protein dan rekayasa genetik telah memungkinkan pengembangan vaksin anti parasit, suatu hal yang sebenarnya tidak mungkin dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan membuktikan apakah Sarcoptes scabiei yang hanya hidup pada lapisan tanduk kulit dan tidak menghisap darah memakan imunoglobulin induk semangnya. Hal ini penting dilakukan karena kalau tungau tersebut tidak memakan imunoglobulin induk semangnya pengembangan vaksin tentu tidak memungkinkan. Potongan mikrotom tungau dan jaringan kulit dari seekor kambing penderita kudis yang diproses secara rutin direaksikan dengan anti IgG kambing berlebel peroksidase kemudian hasil reaksi divisualisasi dengan larutan diaminobenzidine. Untuk menentukan apakah IgG yang dimakan sudah terfrakmentasi oleh enzime proteolitik, dilakukan analisis imunobloting terhadap protein tungau yang yang diekstraksi dari tungau dan difraksinasi dengan SDS-PAGE. Untuk mengkuantifikasi banyaknya IgG yang dimakan oleh tungau digunakan Elisa menggunakan IgG yang dipurifikasi dari serum kambing sebagai kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa IgG ditemukan pada usus tungau tetapi tidak semua tungau yang diamati mengandung IgG. Imunoglobulin yang dimakan seperti yang ditunjukkan analisis imunobloting sebagaian besar masih utuh. Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa vaksin skabies memungkinkan untuk dikembangkan dari protein membran saluran pencernaan S. scabiei.

19.

Tarigan, Simson (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Protective value of immune responses developed in goats vaccinated with insoluble proteins from Sarcoptes scabiei. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(2): p.118-126.

Abstract

Vaccines developed from certain membrane proteins lining the lumen of arthropod’s gut have been demonstrated effective in the control of some arthropod ectoparasites. A similar approach could also be applied to Sarcoptes scabiei since this parasite also ingests its host immunoglobulins. To evaluate immune protection of the membrane proteins, insoluble mite proteins were fractionated by successive treatment in the solutions of 1.14 M NaCl, 2% SB 3-14 Zwitterion detergent, 6 M urea, 6 M guanidine-HCl and 5% SDS. Five groups of goats (6 or 7 goats per group) were immunised respectively with the protein fractions. Vaccination was performed 6 times, each with a dosage of 250 μg proteins, and 3 week intervals between vaccination. Group 6 (7 goats) received PBS and adjuvant only, and served as an unvaccinated control. One week after the last vaccination, all goats were challenged with 2000 live mites on the auricles. The development of lesions were examined at 1 day, 2 days, and then every week from week 1 to 8. All animals were bled and weighed every week, and at the end of the experiment, skin scrapings were collected to determine the mite burden. Antibody responses induced by vaccination and challenge were examined by ELISA and Western blotting. This experiment showed that vaccination with the insoluble-protein fractions resulted in the development of high level of specific antibodies but the responses did not have any protective value. The severity of lesions and mite burden in the vaccinated animals were not different from those in the unvaccinated control.

Abstrak

Nilai proteksi respon imun pada kambing yang divaksin dengan protein nirlarut dari Sarcoptes scabiei

Vaksin yang dikembangkan dari protein membran yang berasal dari permukaan lumen usus artropoda telah dibuktikan efektif untuk mengendalikan beberapa artropoda. Pendekatan yang sama kemungkinan dapat juga diterapkan pada Sarcoptes scabiei karena parasit ini juga telah terbukti menghisap imunoglobulin induk semangnya. Untuk mengevaluasi protektif imunitas dari protein membran S.scabiei, protein 'nirlarut' tungau diekstraksi berturut-turut dalam larutan: 1.14 M NaCl, 2 persen SB 3-14 Zwitterion detergent, 6 M urea, 6 M guanidine-HCl dan 5 persen SDS. Lima kelompok kambing (6 atau 7 ekor per kelompok) masing-masing divaksin dengan fraksi protein tersebut. Vaksinasi dilakukan sebanyak 6 kali, masing-masing dengan dosis 250 ug protein dengan interval 3 minggu antara vaksinasi. Kelompok 6(7 ekor) diberikan hanya PBS dan adjuvan saja, dan bertindak sebagai kintrol yang tidak divaksin. Satu minggu setelah vaksinasi terakhir, semua kambing ditantang dengan 2000 tungau hiduo oada daun telinga. Perkembangan lesi diamati pada hari pertama dan ke dua, lalu setiap minngu dari minggu pertama sampai ke delapan. Setiap kambing ditimbang dan sampel darah diambil setiap minggu, dan pada akhir percobaan kerokan kulit diambil untuk menetapkan populasi tungau. Respon antibodi akibat vaksinasi dan infestasi tantang diperiksa dengan ELISA dan Western Blotting. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vaksinasi dengan fraksi protein nirlarut tungau menyebabkan pembentukan antibodi dengan titer yang sangat tinggi terhadap protein tersebut, namun antibodi tersebut sama sekali tidak memnerikan proteksi terhadap tantangan tungau. Uji tantang menyebabkan lesi pada kelompok kambing yang divaksin yang keparahannya sama dengan yang terdapat pada kambing yang tidak divaksin.

20.

Wardhana, April H.; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Urech, R. (Queensland Department of Primary Industries, Animal Research Institute, Yeerongpilly). Identifikasi senyawa volatil dari luka Myasis dan responnya terhadap lalat Chrysomya bezziana. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(1): p.41-50

Abstrak

Pengembangan formula pemikat untuk lalat screwworm sangat diperlukan dalam program pengendalian penyakit myasis pada ternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi senyawa volatil dari luka myasis yang diinfestasi dengan larva C.bezziana sekaligus untuk mengetahui responnya pada uji sangkar dan semi lapang. Sebanyak dua ekor sapi, yaitu sapi Friesian Holstein betina (FH) (hewan 1) dan sapi Bali jantan (hewan 2) digunakan sebagai modal luka myasis. Luka buatan sepanjang 8-10 cm dibuat pada bagian rump dan sebanyak 200 telur C.bezziana diinfeksikan pada luka tersebut. Bau yang terevaporasi dari luka dikoleksi pada hari pertama dan ke-3 untuk hewan 1 sedangkan untuk hewan 2 dikoleksi pada hari ke-3 dan ke-5. Dua jenis alat digunakan untuk mengoleksi bau ini, yaitu adsorbsi ke dalam Tenax yang terdapat dalam tabung tembaga dan disambungkan dengan mangkok stainless stell. Alat ini melibatkan aliran udara konstan yang masuk dan keluar dari mangkok sehingga bau dapat tertampung dalam tabung. Cara yang lain adalah tanpa aliran udara, yaitu menggunakan alat Solid Phase Micro Extraction (SPME) yang disisipkan ke dalam mangkok. Gas kromatografi/mass spektrometri digunakan untuk menganalisis dan menentukan jenis senyawa volatil. Luka pada hewan 1 menghasilkan senyawa nonal, dekanal, heksanal dan heptanal (hari pertama) dan variasi senyawa sulfida, yaitu DMS, DMDS dan DMTS (hari ke-3). Senyawa yang lebih beragam berhasil dideteksi pada hari ke-3 dan ke-5 (hewan 2) yang mempunyai bau seperti kasus myasis alami. Senyawa-senyawa tersebut adalah indol, fenol, asetol termasuk variasi senyawa sulfida (DMS, DMDS dan DMTS), alkohol (butanol, 3-metilbutanol), aldehid dan beberapa jenis asam.

Abstract

Identification of volatile compounds from myiasis wounds and its responses for Chrysomya bezziana

Development of attractant for screwworm fly was required in myiasis control on livestock. The purpose of this study is to identify of volatile compounds from myiasis wound infested with Chrysomya bezziana larvae including to assess their responses in both cage and room assays. Both Friesian-Holstein heifer (FH) (animal 1) and Bali cattle (animal 2) were used as myiasis model. The artificial wounds (8-10 cm) were conducted on the rump of both animals and infested with about 200 eggs of C. bezziana. Odours from the infested wound were collected on day 1 and 3 for animal1 and day 3 and 5 for animal 2, post C. bezziana larvae infestation. Two different collection devices were used: firstly, absorption onto Tenax kept in steel tubes, which was attached to a collected bowl. The volatile organic compounds were collected from the wound and the surrounding animal hide by flowins the air through the inlet and outlet. Secondly, a solid phase micro extraction (SPME) device was inserted into bowl with passive (no air flow) odour collection. Gass chromatography/mass spectrometry was used to identify volatile compounds from wound. The compounds of the wound on animal 1, collected on day 1, produced only minor quantities of compounds (nonanal, decanal, hexanal and heptanal). Minor components such as DMDS and DMTS were only detected on day 3. The compounds of the wound on animal 2 was more varied and had a peculiar strike-like smell on day 3 and 5. They included indole, phenol, acetone, various sulfides (DMS, DMDS, DMTS), alcohols (butanol, 3-methylbutanol), aldehydes and acids. These compounds were selected and formulated into attractant (B92) then tested in both cage and room assays using SL-2 as control. Respond of flies was analyzed by ANOVA 5% (cage assay) and T test 5% (room assay). The result showed that the fly response to B92 was very low compared to SL-2 in cage assays (P<0.05). The addition of B92 to SL-2 could not increase the catch of flies in the cage assays (SL-2+B92=10:1; 10:3), there was no difference between SL-2 and B92/SL-2 in room assay, the fly response still low (P>0.05).

PARASITOLOGY; MEDICINAL PLANTS

21.

Subekti, Didik Tulus; Iskandar, Tolibin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Sari, Eka S.P.; Widyastuti, Dwi R.; Haerlanim Rica; Diani, Eka Fitri; Laksmitawati, Dian R. (Fakultas Farmasi Universitas Pancasila, Jakarta). Efek pemberian ekstrak etanol buah mengkudu pada mencit setelah diinfeksi Toxoplasma gondii galur RH. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(4): p.305-314.

Abstrak

Infeksi intraperitoneal dengan Toxoplasma gondii tipe I menyebabkan kematian yang sangat tinggi dalam waktu sangat singkat. Kematian disebabkan jumlah parasit yang tinggi dalam tubuh, imunosupresi yang parah dan kerusakan jaringan yang luas. Upaya memperbaiki daya hidup dapat dilakukan dengan menggunakan bahan obat yang memiliki potensi mereduksi perkembangan takizoit, memperbaiki respon imun dan mempercepat regenerasi jaringan. Salah satu bahan obat tersebut adalah buah mengkudu. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengetahui potensi ekstrak etanol buah mengkudu untuk mereduksi takizoit, mempertahankan daya hidup serta efeknya sebagai imunomodulator pada mencit serta infeksi toksoplasma. Hewan coba yang digunakan adalah mencit dan dibagi menjadi enam kelompok (10 ekor/kelompok) yaitu diinfeksi tanpa pengobatan, diinfeksi dan diobati dengan Fansidar (pirimetamin-sulfadiazin), diinfeksi dan diobati dengan ekstrak etanol buah mengkudu dosis bertingkat (100, 50 dan 25 persen) serta kontrol normal. Semua mencit pada setiap kelompok diinfeksi dengan takizoit Toxoplasma gondii galur RH dengan dosis 5 x 10 pangkat 6 dan 2,5 x 10 pangkat 3 takizoit/mencit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fansidar mampu mereduksi takizoit, mempertahankan daya hidup mencit sedangkan ekstrak etanol buah mengkudu tidak berhasil.

Abstract

Effect of methanol extracts of nony fruit on mice infected by RH strain of Toxoplasma gondii

Intraperitoneal infection of Type I Toxoplasma gondii on mice causes high mortality at a short time due to parasitic burden, immunosuppression, cell and tissue damage. The mice survival is increased after treated with drugs that reduce or destroy tachyzoite and modulate or recovered the immune system. Nony fruit (Morinda citrifolia) is popular as immunomudulator and has antoxoplasma properties. The purpose of this experiment is to evaluate the effect of ethanol extract of nony fruit and Fansidar® (pyrimethamine-sulfadiazine) to reduce tachyzoite and improve survival as well as immunomudulator on mice following toxoplasma infection. Mice was divided into six groups (10 mice respectively) consist of infected-non treated groups, infected + Fansidar®, infected + ethanol extract of nony on several doses (100, 50, 25%) and non infected-non treated groups. All mice on each groups were infected intraperitoneally by 5 x 106 and 2,5 x 103 RH strain of Toxoplasma gondii tachyzoite/mice respectively. The results have shown that Fansidar® was successfully to reduced tachyzoite and improved mice survival but the ethanol extract of nony fruit was failed.

22.

Wardhana, April H.; Husein, Amir; Manurung, J. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efektifitas ekstrak biji srikaya (Annona squamosa L) dengan pelarut air, metanol dan heksan terhadap mortalitas larva caplak Boophilus microplus secara in vitro. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(2): p.134-142.

Abstrak

Caplak Boophilus microplus adalah salah satu ektoparasit penting yang menyerang ternak. Metode pengendalian menggunakan akarisida sintetik memerlukan biaya yang mahal dan berdampak pencemaran lingkungan serta timbulnya ras hama resisten. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak daging biji srikaya dengan berbagai pelarut (air, metanol dan heksan) terhadap larva B. microplus secara in vitro. Sebanyak 550 larva digunakan pada penelitian ini dan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok ekstrak air (konsentrasi 3, 4 dan 5%), metanol dan heksan (konsentrasi 0,25; 0,50 dan 0,75%). Coumaphos 0,50% digunakan sebagai kontrol positif. Larva dicelupkan ke dalam larutan uji selama 10 detik, kemudian ditiriskan dan setelah kering dipindahkan ke dalam pot obat. Mortalitas larva diamati setiap jam selama lima jam. Data mortalitas ditabulasikan ke dalam rumus Abbot dan dianalisis probit dengan selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa senyawa aktif daging biji srikaya (annonain dan skuamosin) bersifat racun kontak yang efektif terhadap larva B. microplus pada konsentrasi 5% (ekstrak air); 0,50% (ekstrak metanol), dan 0,75% (ekstrak heksan). Ekstrak metanol mempunyai nilai LC50, LC90, dan LC95 yang lebih rendah daripada ekstrak heksan, yaitu berturut-turut 0,32; 0,86; dan 1,13% sedangkan pada ekstrak heksan menjadi 0,35; 1,11; dan 1,54% dalam waktu lima jam. Daya bunuh ekstrak metanol lebih cepat dan efektif pada konsentrasi 0,50%, yaitu 3,12 jam (LT50); 5,86 jam (LT90); dan 7,00 jam (LT95) dibandingkan dengan ekstrak heksan pada konsentrasi 0,75%, yaitu 3,26 jam (LT50); 6,21 jam (LT90); dan 7,45 jam (LT95). Ekstrak air pada konsentrasi 5% efektif untuk diaplikasikan oleh peternak tradisional di pedesaan karena metodenya mudah dan murah. Nilai konsentrasi letalnya pada jam ke lima adalah 2,02% (LC50); 4,00% (LC90); dan 4,85% (LC95) sedangkan nilai waktu letalnya pada konsentrasi 5% adalah 2,54 jam (LT50); 4,13 jam (LT90); dan 4,75 jam (LT95).

Abstract

The effectivity of Annona squamosa L seeds extracted by diverse organic solvents: water, methanol and hexane against mortality of tick larvae, Boophilus microplus in vitro

Boophilus microplus is the most important pest in livestock industries. The use of synthetic chemical acaricides is the main method of tick control, however, chemical acaricides are expensive, and they are harmful to environment and cause strain resistance. The aim of study was to investigate the affectivity of Annona squamosa L seeds extracted by diverse organic solvents such as water, methanol and hexane against mortality of Boophilus microplus larvae in vitro. Five hundred and fifty larvae were used in this study and divided into three groups e.g. water (3, 4 and 5% concentration), methanol and hexane extract groups (0.25, 0.50, and 0.75% concentration). Coumaphos (0.50%) was used as a positive control. The larvae were dipped into extract solution for 10 seconds and dried using filter paper. Their mortality was observed from one to five hours. The mortality data were transformed to Abbot formula and analyzed using probit analysis with 95% significant level. This study showed that the active compound of Annona squamosa L seeds had effectively contact toxic property for B. microplus larvae at 5, 0.50, and 0.75% for water, methanol and hexane extractions, respectively. The lethal concentrations of methanol extract (LC50, LC90, and LC95) were lower than hexane extract e.g. 0.32, 0.86, and 1.13%, respectively and for hexane extract were 0.35, 1.11, and 1.54%, respectively at fifth hour. The lethal times of methanol extract on 0.50% concentration were shorter than hexane extract e.g. 3.12 hours (LT50), 5.86 hours (LT90), and 7.00 hours (LT95) and for hexane extract on 0.75% concentration were 3.26 hours (LT50), 6.21 hours (LT90), and 7.45 hours (LT95). Water extract of 5% concentration was effective for traditional farmer in rural area due to easy and cheap method. The lethal concentrations of water extract on fifth hour were 2.02% (LC50), 4.00% (LC90), and 4.85% (LC95) and the lethal time on 5% concentration were 2.54 hours (LT50), 4.13 hours (LT90), and 4.75 hours (LT95).

PATHOLOGY

23.

Tarmudji (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Asites pada ayam pedaging. Wartazoa. 2005, Vol.15(1): p. 38-48.

Abstrak

Asites merupakan problem umum yang terjadi pada ayam pedaging (broiler) yang terseleksi (laju pertumbuhannya tinggi). Kejadian ini sering dihubungkan dengan kegagalan jantung. Problem ini berawal dari ketidakmampuan paru-paru karena volumenya yang kecil dan kapasitas kapiler darah yang terbatas untuk pertukaran oksigen yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya. Akibatnya terjadi sindrom hipertensi pulmonum (pulmonary hypertension syndrome/PHS) yang disebabkan oleh peningkatan aliran darah di dalam kapiler paru-paru. Hal ini dapat menimbulkan hipertropi ventrikel kanan jantung, ketidak mampuan katup, jantung, peningkatan tekanan pada vena dan akibanya terjadi asites.

Abstract

Ascites in Broiler Chickens

Ascites is a common problem among rapidly growing broiler strains of chickens. This incidence is most often associated with heart failure. This problem is started from insufficient of lung volume or lung capillary capacity for oxygen exchange in very fast growing broiler chickens. Pulmonary hypertension syndrome (PUS) occurs due to the increased blood flow in the lung, causing a hypertrophy an the right ventricular a valvular insufficiency, an increased vena pressure and finally a ascites. Genetically, the percentage of lung volume to the body weight in broiler chickens which is too small is a predisposition factor in ascites cases. The air sac capacity which is decreasing due to the pressure form the intestine parts, the heavy breast and lives mass causes broilers are more sensitive to PHS. Some factors that contribute to PUS are management (high density, pelleted food, superior feed), environment (high altitude of location, cold, moderate, low oxygen) and physiology (increased of oxygen requirements, hyperthyroidism and respiratory disease). The ascites mechanism could be described as a circle of events between the cardiac, pulmonary and vascular system that satisfy the metabolic requirement of the bird. Lack of one of these systems triggers the pathological cascade that results in ascites cases.

24.

Tarmudji (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Penyakit pernafasan pada ayam, ditinjau dari aspek klinik dan patologik serta kejadiannya di Indonesia. Wartazoa. 2005, Vol.15(2): p.72-83.

Abstrak

Beberapa penyakit pernafasan pada ayam disebabkan oleh virus. bakteri. mikoplasma. fungi atau kombinasi dapi berbagai agen. Jenis-jenis penyakit pernafasan yang dapat dijumpai atau pernah terjadi pada peternakan ayam (broiler atau layer) di Indonesia antara lain: Avian Influenza (Al-H5N1), Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Infectious Latyngotracheitis (ILT)„Swollen Head Syndrome (SHS), Chronic Respiratory Disease (CRD) atau CRD Komplek (CRDK). Infectious Coryza. Kolera unggas, Koliseptisemia dan Aspergillosis. Spora kapang Aspergillus sp. dan virus ND/IB (dalam vaksin hidup) kadangkala dapat menyebabkan penyakit / gangguan pernafasan pada anak ayam (0-2 minggu). Sedangkan, penyakit pernafasan yang lain dapat terjadi setelah ayam berumur Iebih dari dua minggu dan umumnya disebabkan oleh interaksi dari berbagai agen penyakit (infeksi campuran). Infeksi dua atau Iebih agen penyakit pada ayam akan menimbulkan gejala klinik yang Iebih parah dan kelainan patologik yang Iebih komplek dibanding dengan infeksi tunggal. Beberapa penyakit pernafasan mempunyai kemiripan/kesamaan gejala klinik (keluar eksudat dari hidung, lakrimasi, batuk-batuk dan sesak nafas) antara penyakit yang satu dengan yang lainnya. Namun, dengan menganalisa kejadian penyakit, sifat-sifat agen penyebabnya, umur ayam yang terserang, karakteristik epidemiologik dan kliniknya. maka dapat dilakukan diagnosa penyakitnya. Dalam manajemen kesehatan pendekatan "patologi diagnostik" merupakan suatu tindakan yang biasa dilakukan di suatu peternakan ayam. Dengan menemukan kelainan jaringan atau organ tubuh yang mcnciri (patognomonis) akibat suatu penyakit dapat memberikan ketepatan diagnosa yang tinggi. Di Indonesia, penyakit pernafasan pada ayam yang paling penting pada saat ini adalah Al (High Pathogenic Avian InfluenzalHPAI), karena sangat menular pada unggas lain sehingga berdampak buruk pada usaha perunggasan nasional dan dapat menular kepada manusia (zoonosis).

Abstract

Respiratory Diseases in Poultry: Clinical and Pathological Aspects and Their Occurrence in Indonesia

Some of respiratory diseases in poultry arc caused by virus, bacteria, mycoplasma, fungi or combination of various agents. Respiratory diseases in commercial poultry farms (broiler or layer) that are commonly found in Indonesia arc: Avian Influenza (Al-I I5N I). Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Infectious Laryngotracheitis (ILT). Swollen Head Syndrome (SHS), Chronic Respiratory Disease (CRD), Infectious Coryza, Fowl cholera, Colliseptichemia. and Aspergillosis. Spore of Aspergillus sp. and ND/IB viruses (in live vaccine) occasionally exhibited respiratory disorder in chickens (0-2 weeks). Other respiratory diseases can occur in chickens after two weeks of age and are caused by various infectious agents (mixed infection). Two or more infection agents resulted in more severe respiratory' disease (in clinical signs and pathological lesions) than a single infection agent. Some of respiratory diseases have similar clinical signs (nasal discharge, lacrimation, coughing and gasping). However, by more thoroughly observation on the outbreak occurrence, causal agents, age of chickens, characteristics of epidemiology and clinical signs. the diagnose of the disease could be defined. Pathological diagnostic approach is commonly used in animal health management of commercial poultry farms. Pathognomonic lesions of organs caused by the diseases could give an accurate diagnose. High Pathogenic Avian Influenza (AUHPAI) is the most important of the poultry diseases in Indonesia, since it is very contagious to other birds and human resulted in a negative impact on the National Poultry industry and human health (zoonosis).

PATHOLOGY; VIROLOGY

25.

Damayanti, Rini; Dharmayanti, N.L.P. Indi; Indriani, Risa; Wiyono, Agus; Adjid, R.M. Abdul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Monitoring kasus penyakit Avian Influenza berdasarkan deteksi antigen virus subtipe H5N1 secara imunohistokimiawi. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(4): p.322-330.

Abstrak

Monitoring kasus AI pada penelitian ini dilakukan dengan cara mendeteksi antigen virus AI subtipe H5N1 secara imunohistokimiawi. Sampel berupa organ unggas yang berasal dari daerah-daerah yang pernah terjadi wabah AI dan juga daerah yang baru tertular AI. Sejumlah 212 sampel yang berasal dari Propinsi Jawa Barat (Kabupaten Bogor, Bekasi, Cianjur dan Sukabumi), Propinsi Banten (Kabupaten Tangerang), Propinsi DKI Jakarta dan Propinsi Jawa Timur (Kabupaten Madiun, Tulung Agung, Blitar dan Kediri) telah dikoleksi pada bulan Juni 2004, September 2004, Oktober 2004, dan Januari-Pebruari 2005. Seluruh sampel diwarnai dengan teknik imunohistokimiawi. Hasil pewarnaan imunohistokimia menunjukkan bahwa antigen dapat dideteksi dengan jelas pada kulit pial dan jengger, otak, trakhea, jantung, paru-paru, proventrikulus, hati, limpa, ginjal dan ovarium. Antigen tersebut terdapat pada organ-organ di atas dengan lokasi dan distribusi spesifik, sebagian berkumpul atau soliter. Hasil monitoring kasus AI berdasarkan deteksi antigen secara imunohistokimiawi di Propinsi Jawa Barat, Banten, Jawa Timur dan DKI Jakarta antara bulan Juni 2004 hingga Pebruari 2005 menunjukkan bahwa dari jumlah total sebanyak 212 sampel unggas, 39 sampel (18,4%) dinyatakan positif mengandung antigen virus AI subtipe H5N1. Monitoring penyakit HPAI pada bulan Juni dan September 2004 di Propinsi Jawa Barat, Banten dan Jawa Timur, pada seluruh sampel tidak terdeteksi virus AI. Sedangkan pada monitoring bulan September 2004 dari sampel yang berasal dari Propinsi DKI Jakarta dapat dideteksi virus AI. Demikian pula pada monitoring yang dilaksanakan antara bulan Oktober 2004 hingga Pebruari 2005 berhasil dideteksi antigen virus AI pada organ dari beberapa unggas yang berasal dari Propinsi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta. Berdasarkan hasil pelaksanaan monitoring terhadap penyakit HPAI dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pada bulan Juni dan September 2004 kasus AI tidak lagi ditemukan pada daerah-daerah yang pernah terjadi wabah AI pada tahun 2003 di Jawa Timur, Jawa Barat dan Banten, namun pada bulan September 2004-Pebruari 2005, kasus HPAI mulai menyebar ke Propinsi DKI Jakarta dan selanjutnya juga ditemukan kembali di beberapa kabupaten di Jawa Barat dan Banten. Selain itu, untuk mengantisipasi pola penyebaran penyakit, maka kewaspadaan di daerah yang sebelumnya belum pernah ditemukan kasus AI perlu ditingkatkan.

Abstract

Monitoring of avian influenza cases based on the detection of viral antigen subtype H5N1 by immunohistochemical technique

Monitoring on the cases of Avian Influenza virus was conducted by detecting viral antigen subtype H5N1 using immunohistochemical technique. A total of 212 sampels of various avian tissues were collected from the Provinces of East Java (Districts of Madiun, Tulung Agung, Blitar and Kediri), West Java (Districts of Bogor, Bekasi, Cianjur and Sukabumi), Banten (Districts of Pandeglang and Tangerang) and DKI Jakarta. The sampels were collected four times i.e. June 2004, September 2004, October 2004 and between January and February 2005. All sampels were stained using immunohistochemical technique. The antigen could be visualized clearly both in the intra-nuclear and intra-cytoplasmic areas of brain, comb, wattle, trachea, lung, heart, breast and thigh muscle, proventriculus, liver, spleen, kidney, intestine and ovary. A number of 39 of 212 cases (18.4%) have been catagorized as positives. The results show that monitoring of HPAI cases conducted in June and September 2004 in the Provinces of West Java, Banten and East Java, none of the sampels were positive. However, monitoring of the disease in September 2004 in the Province of Jakarta showed that AI virus antigen were detected in various organs of chicken from Jakarta. Furthermore, monitoring of the disease conducted between October 2004 and February 2005 revealed that AI virus antigen were also detected in chicken not only from Jakarta Provinces but also from Provinces of Banten and West Java. Based on these results, it is concluded that between June and September 2004, HPAI infection were not found in areas where previous outbreaks occured in the Provinces of Banten, West Java and East Java. However, the disease was spread in Jakarta Province in September 2004 and subsequently to some districts in the Provinces of Banten and West Java. A part from this, anticipation of disease spread to currently AI-free areas should be considered as part of disease monitoring system.

26.

Damayanti, Rini; Sudarisman (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Patogenitas isolat lokal virus BHV-1 sebagai penyebab Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) pada sapi Bali. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(3): p.227-235.

Abstrak

Penyakit IBR merupakan penyakit pada sapi dengan gangguan pernapasan, reproduksi dan syaraf. Suatu penelitian untuk mengetahui patogenitas isolat lapang BHV-1 telah dilakukan. Empat belas ekor sapi Bali yang bebas dari infeksi virus BHV-1 dibagi atas empat kelompok perlakuan (tiap grup terdiri dari tiga ekor sapi), masing-masing kelompok diinfeksi dengan isolat I, II, III dan IV dengan dosis rataan 108TCID50/10 ml secara intravena sedangkan dua ekor sapi dipergunakan sebagai hewan kontrol. Isolat I dan III masing-masing berasal dari semen sapi jantan G 867 dan G 148 yang positif terinfeksi IBR sedangkan isolat II berasal dari mukosa vagina dan isolat IV berasal dari mukosa hidung sapi yang positif terinfeksi IBR dan dibuat dalam kondisi stres dengan cara pemberian deksametason. Respon klinis, gambaran pasca mati dan kelainan histopatologis diamati. Selain itu pewarnaan imunohistokimia juga dilakukan untuk mendeteksi antigen BHV-1 pada organ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat BHV-1 dapat menimbulkan respon klinis IBR berupa demam, gangguan respirasi dan reproduksi walaupun manifestasinya menghilang 21 hari PI. Secara patologi anatomis, sapi yang tidak diberi deksametason tersebut mengalami hiperemis pada mukosa nasal concha dan mukosa vagina serta pneumonia dan secara histopatologis sapi menderita rhinitis, trakheitis, pneumonia dan vulvovaginitis yang bersifat non supuratif. Dengan teknik pewarnaan imunohistokimia antigen dapat dideteksi pada nasal concha dan trakea. Pemberian deksametason pada 60-64 hari PI ternyata dapat menimbulkan gejala klinis dan patologis IBR namun dengan derajat keparahan yang lebih ringan. Dari hasil pengamatan terlihat bahwa urutan patogensitas isolat lapang BHV-1 adalah sebagai berikut: isolat I, II, IV dan III.

Abstract

Pathogenicity of local isolate virus BHV-1 as the aetiological agent of Infectious

Bovine Rhinotracheitis in Bali Cattle

Infectious Bovine Rhinotracheitis is a disease of cattle characterised by clinical signs of the upper respiratory tract, reproductive tract and nervous system. A study to define the pathogenicity of four BHV-1 local isolates has been conducted. Fourteen Bali cattle that were free of BHV-1 has been selected and divided into four treatment groups. Each group of three was infected with virus isolate I, II, III and IV respectively with approximately a dose of 108TCID50 /10 ml and two cattle were used as control animals. Isolate I and III were originated from semen from IBR positive bulls number G 867 and G 148 respectively whereas isolate II was collected from vaginal mucosa and isolate IV was from nasal mucosa of IBR positive cattle treated with dexamethasone. Clinical response, gross-pathological and histopathological changes were observed. Immunohistochemical staining was applied to detect the antigen in tissue section. The results show that the BHV-1 local isolates could produce IBR syndrome namely fever and changes in the respiratory and reproductive tracts even though the clinical responses seemed to be disappeared by 21 days PI. Grossly there were hyperaemic nasal and vaginal mucosa and pneumonia whereas histologically there were non suppurative rhinitis, tracheitis, pneumonia and vulvovaginitis. Immunohistochemically the antigen was detected in the nasal concha and trachea. Dexamethasone treatment at 60-64 days PI could produce less severe clinical features and the second necroppsy at 69 days PI also results in less severe pathological responses. The findings also suggest that the pathogenicity of BHV-1 local isolates were as follows: isolates I, II, IV and III.

27.

Wahyuwardani, Sutiastuti; Parede, Lies (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia) Huminto, Hernomoadi (Fakultas Kedokteran Hewan IPB). Perubahan patologi secara makroskopi dan mikroskopi pada ayam pedaging yang diinfeksi Reovirus isolat lokal. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(1): p.63-70.

Abstrak

Salah satu virus yang berhasil diisolasi dari kasus runting dan stunting yang mewabah belakangan ini adalah reovirus. Untuk mengetahui kemampuannya menimbulkan sindroma runting dan stunting dilakukan infeksi ulang pada ayam pedaging secara oral. Sebanyak 40 ekor ayam anak pedaging umur sehari dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama (20 ekor) diinfeksi plus minus 2 x 10 pangkat 3 partikel reovirus isolat lokal secara oral sebagai kelompok perlakuan. Sementara itu kelompok kontrol tidak diberi perlakukan. Perubahan klinis, makroskopis dan mikroskopis diamati pada umur 1,2, dan 3 minggu pasca inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reovirus isolat lokal dapat menyebabkan wet dropping, stunting, enteritis, pankreatitis, malabsorpsi, atropi bursal fabrius dan hipertropi limpa, mirip dengan runting and stunting syndrome (RSS) penyakit pada ayam. Hambatan pertumbuhan bobot badan mencapai 14,7 persen pada kelompok ayam perlakuan pada umur 4 minggu pasca inokulasi.

Abstract

The macroscopic and microscopic patology changes on broiler infected with local reovirus isolate

Local reovirus isolate is the virus which could be isolated from runting and stunting syndrome. The ability of local reovirus isolate to induce runting and stunting syndrome in broilers chicken was investigated. The day old chicks (doc) were infected with local reovirus isolate assessed clinically and pathologically at 1, 2 and 3 weeks post inoculation. A total of 40 DOC were divided into two groups. The first group (20 doc) was orally infected with ± 2 x 103 local reovirus isolate particle and the other used as negative control group. The results showed that the isolate caused wet droppings, stunting, enteritis, pancreatitis, malabsorbtion, bursal atrophy and spleenic hypertrophy, which similar to runting and stunting syndrome (RSS) disease in chicken. The body weight was reduced to 14.7% on the inoculated group at 4 weeks post inoculation.

28.

Wahyuwardani, Sutiastuti; Syafriati, Tatty (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Infeksi Chicken Anaemia Virus (CAV): etiologi, epidemiologi, gejala klinis, gambaran patologi dan pengendaliannya. Wartazoa. 2005, Vol.15(3): p.155-163.

Abstrak

Chicken anaemia virus (CAV) pada awalnya dikenal sebagai chicken anaemia agent (CAA), yang pertama kali diisolasi di Jepang pada tahun 1976. Virus tersebut tidak mempunyai amplop, berdiameter 19,1-20,7 nm yang termasuk dalam famili Circoviridae, genus Gyrovirus. Penyakit CAV mencuat pada saat terjadi Nvabah kekerdilan pada ayam di Indonesia tahun 1996, merupakan pcnyakit pada ayam yang ditandai dengan angka kematian 5-15%, bahkan dapat mencapai 60%. Gejala klinis berupa anemia, perdarahan pada kulit dan atropi organ limfoid. Infeksi CAV terjadi pada ayam semua umur, dapat ditularkan baik secant vcrtikal maupun horizontal. Pada ayam muda umur 2-3 minggu dapat menimbulkan gejala klinis berupa hambatan pertumbuhan. anemia, muka. pial dan jengger pucat, scdangkan pada ayam tua bersifat subklinis. Gejala patologi anatomi yang scring ditemukan yaitu kepucatan pada karkas, sumsum tulang berwarna kilning, atrofi times dan bursa fabrisius, secara histopatologi terlihat nekrosis pada bagian korteks dan medula limns. deplesi limfosit pada timus, bursa dan sumsum tulang. Diagnosa ditentukan berdasarkan perubahan patologi yang dilanjutkan dengan mengisolasi virus CAV pada sel limfoblastoid seperti MDCC-MSB1 kemudian diidentifikasi dengan virus netralisasi. Keberadaan virus juga dapat dideteksi dengan pewarnaan immutuyluorescent (tan immunoperoxidase, tcknik insitu hybridization dan PCR. Deteksi antibodi dalam darah ayarn digunakan uji ELISA. Gcjala yang ditimbulkan oleh infeksi CAV juga ditemukan pada penyakit osteoporosis, reovirus, infectious bursa( disease (1BD) dan Marek. l'encegahan dilakukan dengan melaksanakan vaksinasi pada induk bibit untuk membentuk antibodi maternal sebagai upaya untuk mencegah transmisi secara vcrtikal. Makalah ini mengulas tentang penyakit CAV secara mum dan kejadian penyakit CAV di Indonesia.

Abstract

Infection of Chicken Anaemia Virus: Etiology, Epidemiology, Clinical Sign,

Pathological Changes and Disease Control

Initially, Chicken anaemia virus (CAV) is known as CAA, which was first isolated by Yuasa in Japan in 1976. CAV particles are non enveloped with a diameter of 19.1-20.7nm, belonging to the family Circoviridae, genus Gyrovirus. CAV infection was first appeared in Indonesia at the same time as the outbreak of stunting and nutting syndrome in 1996 with a mortality rate of 5-15% but it may reach to 60%. CAV can be transmitted vertically or horizontally. Chicken all ages is susceptible to infection. Infection of CAV occurred in young chicken flock at 2-3 weeks growth of age, causing clinical signs while in old chicken flock which is sub clinical. The signs of infectious of CAV are retarded, anaemia, anorexia, pale of face and pial. The pathology anatomy changes are pale carcases, yellowish bone marrow, atrophy of thymus and bursa fabricius. Whereas, histophatological changes are thymic necrosis of cortex and medulla, lymphocyte depletion of thymus, bursa fabricius and bone marrow. Diagnose of CAV is based on pathological changes and followed by the isolation of certain lymphoblastoid chicken cell MDCC-MSB I and then, is identified by virus neutralization. The presence of virus can also be identified by immunofluorescent and immunoperoxidase staining, in situ hybridization technique or PCR. For antibody detection, ELISA technique can be used. The syndromes of CAV infection are closely associated with those of osteopetrosis. reovirus, infectious bursal disease (IBD) and Marek. Vaccination programme in breeding farm is needed to induce maternal antibody. This paper describes the CAV disease and its occurrence in Indonesia.

TOXICOLOGY

29.

Bahri, Sjamsul; Maryam, Romsyah; Widiastuti, Raphaela (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Cemaran Aflatoksin pada bahan pakan dan pakan di beberapa daerah Propinsi Lampung dan Jawa Timur. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(3): p.236-241.

Abstrak

Beberapa tahun terakhir ini industri peternakan ayam ras (broiler dan layer) di Indonesia dihadapkan pada berbagai permasalahan penyakit, antara lain terjadinya kegagalan vaksinasi yang diduga ada hubungannya dengan tingginya cemaran aflatoksin pada pakan ayam di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melengkapi informasi terkini mengenai cemaran aflatoksin pada bahan pakan dan pakan yang berasal dari beberapa daerah di Propinsi Lampung dan Jawa Timur. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa persentase cemaran aflatoksin B1 pada jagung, pakan komersial, dan kacang tanah di Propinsi Lampung masing-masing 86,7; 70,0 dan 80,0%, sedangkan kadar rata-rata AFB1 masing-masing 31,5; 13,5 dan 32,2 μg/kg. Kandungan aflatoksin lainnya (B2, G1 dan G2) lebih rendah, demikian juga persentase kejadiannya. Berdasarkan asal sampel dari Lampung, persentase kejadian cemaran AFB1 berturut-turut pada pedagang pengumpul (100%), pasar tradisional (91,7%), poultry shop (76,9%), dan pabrik pakan (33,3%) dengan kadar rata-rata 58,8; 34,3; 17,8 dan 2,9 μg/kg. Persentase cemaran aflatoksin B1 pada jagung, dedak, konsentrat dan pakan komersial dari sampel asal Jawa Timur masing-masing 100% (semua positif mengandung AFB1) dengan kadar rata-rata 25,4; 69,7; 134,2; dan 30,7 μg/kg. Sampel asal Jawa Timur memperlihatkan kandungan AFG1 yang lebih tinggi daripada sampel asal Lampung, demikian juga persentase kejadiannya.

Abstract

Aflatoxin contamination in feeds and feed ingredients from Lampung and East Java provinces

In the last few years, poultry industries (broiler and laying hens) in Indonesia are faced on several problems, vaccination for instance, which suspected relate to highly-contaminated aflatoxins in feeds. The aim of this study is to give recent information on aflatoxin contamination in feeds, feed ingredients, and foods originated from some districts in Lampung and East Java provinces. The results of the study indicated that the percentage of aflatoxin B1 contamination in corn, commercial feeds, and peanuts in Lampung were 86.7, 70.0 and 80.0% with the average levels of 31.5, 13.5 and 32.2 μg/kg, respectively. Low levels of the other aflatoxins (AFB2, AFG1, and AFG2) were also detected in the samples. The highest percentage of aflatoxin contamination was found in samples from retailer (100%), followed by samples from traditional markets (91.7%), poultry shops (76.9), and a feed company (33.3%). The average levels of aflatoxin found were 58.8, 34.3, 17.8 and 2.9 μg/kg, respectively. In East Java, AFB1 was detected in all samples (corn, rice bran, concentrate and commercial feeds) on the average levels of 25.4, 69.7, 134.2 and 30.7 μg/kg respectively. The levels of AFG1 on the samples from East Java were much more higher than those of from Lampung, as well as the percentage.

30.

Bahri, Sjamsul; Widiastuti, Raphaela (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Mustikaningsih, Y. (Universitas Nasional, Jakarta). Efek Aflatoksin B1 (AFB1) pada embrio ayam. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(2): p. 160-168.

Abstrak

Aflatoksin merupakan senyawa toksik yang bersifat mutagenik, teratogenik, dan karsiogenik umumnya banyak dijupai pada baahn pangan berasal dari biji-bijian seprti jagng, beras dan kacang-kacangan yang kualitasnya kurang baik. Keberadaanya pada bahan pangan termasuk pangan asal ternak di Indonesia telah banyak diungkapkan oleh berbagai penelitian, tetapi penelitian toksisitasnya masih sangat terbatas. Penelitian efek aflatoksin B1 pada embrio ayam ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh berbagai dosis AFB1 terhadap perkembangan embrio ayam, kematian dan daya tetas embrio tersebut, sekaligus juga untuk melengkapi informasi sebelumnya. Pada penelitian ini doisis AFB1 yang digunakan adalah 0;15;6;31;2;62;5;125 dan 250 ng AFB1 per telur berembrio yang diberikan melalui kantong hawa kepada masing-masing 25 telur bertunas umur 5 hari. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa daya tetas embrio sampai hari ke-21 adalah 66,28,26,16,0 dan 0 persen masing-maisng untuk 0;15;6;31;2;62;5;125; dan 250 ng AFB1. Pemberian AFB1 juga telah menyebabkan kelainan embrio berupa pendarahan, malabsorbsi kuning telur, kekerdilan, lemah, dan cacat kaki ringan. Berat anak ayam yang berhasil menetas tidak berbeda nyata antara perlakuan walauoun ada kecenderungan lebih rendah pada pemberian AFB1 dosis tinggi.

Abstract

The effect of aflatoxins B1 (AFB1) on chick embryo

Aflatoxins are toxic compounds which occurred in cereals especially low qualities corn and peanuts. Aflatoxins are mutagenic, teratogenic and carcinogenic. The presence of aflatoxin in food including derived food in Indonesia had been observed, however, the observation on its toxicity effect is still limited. This research was conducted to study the effect of innoculation of aflatoxin B1 (AFB1) on the development of embryonic chicken egg, mortality and hatchability. The AFB1 was innoculated 10 μl in each 5 days age embryonic egg through air sacs dosaged 0; 15,6; 31,2; 62,5; 125 and 250 ng. The results showed that hatchability of those embryos were 66, 28, 26, 16, 0 and 0% respectively for 0; 15,6; 31,2; 62,5; 125 and 250 ng innoculation of AFB1. Innoculation of AFB1 caused malformation of the embryos, malabsorbtion of the yolk egg. The weight of hatched eggs was not significantly different in each group, eventhough there was a tendency that high AFB1 innoculation will decreased the live weight.

31.

Rachmawati, Sri (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Aflatoksin dalam pakan ternak di Indonesia : persyaratan kadar dan pengembangan teknik deteksi-nya. Wartazoa. 2005, Vol.15(1) : p.26-37.

Abstrak

Kontaminasi aflatoksin pada pakan ternak di Indonesia sangat mungkin terjadi dan dapat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak. Untuk mengurangi akibat yang merugikan, makan peraturan yang berkaitan dengan mutu pakan telah dikeluarkan pemerintah. Selain itu kontrol kualitas pakan secara kontinyu menjadi penting, dan memerlukan metoda analisis yang sederhana, cepat, sensitif dan murah. Pada makalah ini disajikan keadaan, situasi cemaran aflatoksin pada pakan dan bahan pakan jagung di Indonesia, perundang-undangan yang berkaitan dengan mutu pakan terutama aflatoksin, dan teknik deteksi yang dikembangkan Balai Penelitian Veteriner (Balitvet). Dari hasil penelitian, uji banding antar laboratorium, kerjasama penelitian yang pernah dilakukan di Indonesia, maka terbukti pakan ayam yang dikumpulkan dari berbagau daerah, umumnya tercemar aflatoksin. Hasil uji banding antar laboratorium dan hasil penelitian kerjasama dengan Balai Pengujian Mutu Pakan Ternak Direktorat Jendral Peternakan (BPMPT), menunjukkan bahwa 14 persen pakan ayam dari 270 sampel yang berasal dari berbagai sumber mengandung aflatoksin melebihi standar mutu berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Peraturan mutu pakan yang berkaitan dengan batas maksimum aflatoksin yang masih aman untuk dikonsumsi ternak tertuang dalam revisi SNI (1995), Persyaratan Teknis Minimal pakan konsentrat non ruminansia dan ruminansia serta SK Dirjen Peternakan Nomor 524/TN.250/Kpts/DJP/Deptan/1997. Teknik deteksi aflatoksin yang dikembangkan Balitvet adalah secara Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA), yang dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu sintesa hapten, imunisasi dan produksi antibodi, pengembangan format, pengujian performa, perakitan Kit ELISA. Pelatihan serta uji coba lapang dilakukan untuk validitas teknik ELISA ini. Telah dihasilkan kit ELISA "rapid assay" dengan waktu inkubasi konjugat 5 menit dan substrat 10 menit. Respon antibodi spesifik terhadap AFB1 (100 persen), dengan reaksi silang terhadap AFB2 0,9 persen, AFG1 3,5 persen dan AFG2 1,6 persen. Limit deteksi 0,3 ppb, dan analisis dapat dilakukan sampai 30 ppb. Komposis kit ELISA terdiri dari 7 botol AFB1 standar (30, 10, 3,3 ,1,2, 0,4, 0,12 dan 0 ppb), konjugat, substart dan larutan penghenti, plat pencampuran dan plat yang terlapis antibodi, kit ELISA stabil disimpan dalam suhu 4 derajat celcius selama 2 bulan. Uji coba lapang, pengujian antar laboratorium menunjukkan hasil cukup akurat, perbandingan hasil analisa sampel pakan dan jagung secara ELISA dan HPLC menunjukkan hasil yang konsisten. Dengan disajikannya informasi di atas diharapkan potensi tercemarnya pakan dan bahan dasar pakan oleh aflatoksin serta bahayanya bagi kesehatan ternak dan manusia dapat lebih diwaspadai. Dengan tersediannya teknik deteksi yang dikembangkan, kontrol kualitas pakan dan jagung diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan berkesinambungan.

Abstract

Aflatoxin in Animal Feed in Indonesia: The Regulation on The Toxic Content and

The Development of Detection Technique

Aflatoxin contamination of agricultural commodities including feedstuff potentially, occurs in Indonesia, and can cause problem to animal health and productivity. To minimize the impact of such contamination to both human and animal health, regulations regarding feed quality have been issued by the government. A continuous monitoring of the contamination using a simple. sensitive, rapid and cost-effixtive method is greatly needed. This paper contains some information about the current situation of antitoxin contamination in feed and its ingredient (corn), the regulation related to aflatoxin contamination and the development of detection technique for analysis aflatoxin B1 in feedstuff conducted by Research Institute for Veterinary Science (RIVS). From research results, inter laboratory studies and collaboration research conducted in Indonesia, they indicate that poultry feed collected from different areas of Indonesia is contaminated by aflatoxins. Results of inter laboratory study and collaborative research with Feed Lab. Directorate General for Livestock Services (DGLS) showed that 14.0% of 207 feed samples from different sources contain aflatoxin above the standard determined by Standar Nasional Indonesia (SNI). Regulations related to aflatoxin content in feed are compiled in the SNI (revised formed). the Minimum Technical Requirement of feed concentrate for ruminant and non ruminant, and the regulation from DGLS. letter No 524/TN.250/Kpts/DJP/Deptan/1997. RIVS developed an ELISA technique for analysis aflatoxin in feed and corn. which was involving some steps of activities include AF13, was 0.3 ppb. The range of analysis is from 0.3 ppb up to 30 ppb. An ELISA kit composed of seven bottles of AFB, standards solution of 30. 10, 3.3, 1.2, 0.4, and 0.12 ppb and blank (0 ppb AFB,), a conjugate of AFBI—HRPO. a substrate, a stopping solution, an antibody coated plate, and one mixing plate. The kit was stable at 4°C for two months. The field trial of ELISA kit showed an accurate result and when comparing the ELISA method with the standard method of HPLC, a consistent result was also found. With the information given above, people or farmers should be aware of the danger of aflatoxin and should take precaution to prevent atlatoxin contamination. RIVS ELISA kit is a uselbl technique to detect aflatoxin in feedstuff and, hence, controlling the aflatoxin contamination.

TOXICOLOGY; PESTICIDE RESIDUES

32.

Sani, Yulvian; Indraningsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kasus keracunan pestisida golongan Organofosfat pada sapi peranakan Ongole di Sukamandi Jawa Barat. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(3): p.242-251.

Abstrak

Kegiatan usaha pertanian terpadu antara padi dan ternak telah dimulai sejak tahun 2000 di Sukamandi, Jawa Barat. Namun, pada tahun 2002, muncul gangguan kesehatan pada sapi potong Peranakan Ongole (PO) yang dipelihara di dalam kawasan tersebut dengan gejala klinis berupa kekejangan, kerusakan bola mata dan beberapa diantaranya mengakibatkan kematian. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa 6 dari 12 ekor sapi PO dewasa mengalami gangguan mata berupa hiperlakrimasi cairan sereous, keburaman kornea mata (opasitas) dan kebutaan; serta dua ekor diantaranya menderita cachexia (kekurusan), lemah, sulit berdiri dan gangguan mata yang parah. Namun, gejala syaraf tidak ditemukan pada saat kunjungan ke lokasi. Analisis pakan jerami padi terdeteksi kedua jenis residu pestisida golongan organoklorin (OC) dan organofosfat (OP). Residu pestisida OC lebih tinggi dibandingkan dengan OP yaitu 14,41 vs 2,84 ppm (belum diolah) untuk OC dan 1,80 vs 0,0003 ppm (diolah) untuk OP yang terdiri dari aldrin, lindan, dieldrin, endosulfan dan klorpirifos metil. Sementara itu hanya golongan OC yang terdeteksi pada serum sapi yang terdiri dari lindan (0,6–37,6 ppb); heptaklor (0,03–4,4 ppb); dan aldrin (0,8–20,4 ppb) dengan total rataan residu mencapai 21,4 ppb. Gangguan syaraf dan kerusakan mata akibat mengkonsumsi jerami padi yang terkontaminasi oleh pestisida golongan organofosfat (OP) maupun faktor lain seperti defisiensi vitamin A dan defisiensi magnesium serta kalsium. Gangguan mata yang sama dapat ditimbulkan kembali secara laboratorik pada tikus putih Wistar yang diinjeksi dengan klorpirifos metil secara intraperitoneal. Gejala klinis pada tikus terlihat berupa sempoyongan, kekurusan, kerusakan mata dan warna putih pada kornea mata. Secara patologis anatomis terlihat kerusakan organ hati (nekrosis, mottling pada permukaan jaringan dan kepucatan); kepucatan ginjal, pembengkakan limpa serta hiperemia otak. Secara mikroskopis terjadi kerusakan pada jaringan otak, hati dan bola mata. Hati terlihat mengalami hemoragi, nekrosis centrolobular dan fokal nekrosis koagulatif. Otak terlihat mengalami fokal nekrosis, hemoragi, vakuolisasi, nekrosis sel neuron, kromatolisis dan nukleolisis. Selanjutnya pada bola mata mengalami nekrosis lapisan otot mata, hemoragi dan infiltrasi sel eosinofil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pencemaran pestisida khususnya golongan organofosfat pada jerami sebagai pakan ternak merupakan penyebab timbulnya gangguan syaraf dan kelainan mata pada sapi PO di Sukamandi.

Abstract

Organophosphate poisoning in Ongole cattle in Sukamandi, West Java

An integrated farming system between rice and beef cattle was initiated in 2000 in Sukamandi, West Java. However, since 2002 some cattle were suffering from neurological and ophthamological signs, and some of them were found dead after consuming rice straws. Field studies showed that 6 out of 12 cattle were suffered from eye disorders such as blindness, corneal opacity and sereous lacrimation. Two of 6 cattle were severely affected. But, neurological signs were not found during field observation. Pesticide analysis in rice straws shows that both groups of pesticide, organochlorines (OP) and organophosphates (OP) were detected. Residues of OC were higher than OP as shown as 14.41 vs 2.84 ppm (before processing) for OC and 1.80 vs 0.0003 ppm (processed) for OP consisting aldrin, lindane, dieldrin, endosulfan and chlorpyrifos methyl. There was only OC detected in sera consisting lindane (0.6–37.6 ppb); heptachlor (0.03–4.4 ppb); and aldrin (0.8–20.4 ppb) with an average total of 21,4 ppb. The neurological and ophthalmological signs were suspected to be due to organophosphates (OPs) contaminated-rice straws and any other factors such as insufficient vitamin A, magnesium and calcium. Feed replacement with fresh grasses for two cattle reduced corneal changes. Similar symptoms were also reproduced in Wistar rats dosed intraperitoneally with chlorpyriphos methyl. Clinical signs included incoordination, cachexia, eye disorder and corneal opacity. Necropsy showed hepatic injury (hepatic necrosis, mottling of hepatic surface and pale); pale kidneys; swollen of spleen and hyperaemic brain. Microscopic changes were found in brain, liver and eyes. Hepatic changes included haemorrhages, centrolobular hepatic necrosis and focal coagulative necrosis. Brains were showing focal necrosis, haemorrhages, vacuolisation, neuronal necrosis, chromatolysis and nucleolysis. Eyes appeared to have necrosis of tunica muscularis, haemorrhages and eosinophilic infiltration. The study indicates that organophosphates contamination in rice straws as animal feed may lead chronic neurological and ophthalmological symptoms.

33.

Yuningsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pengaruh cemaran beberapa senyawa toksik dalam air minum terhadap ternak. Wartazoa. 2005, Vol.15(2): p. 95-101.

Abstrak

Kualitas air yang balk merupakan batasan yang luas dan hams memenuhi beberapa persyaratan mencakup rasa, kandungan mineral. bahan organik, salinitas, berbagai padatan, berbagai mikroba dan kontaminan- kontaminan alam atau bahan kimia. Pesatnya perkembangan kawasan industri tanpa dilengkapi analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang balk, akan menyebabkan tercernarnya air yang umumnya digunakan sebagai sumber air minum industri peternakan di sekitarnya. Sumber air minum sangat berperan dalam kesehatan ternak sehingga air hams bebas dari cemaran senyawa toksik secara kualitatif maupun kuantitatif. Tulisan ini mengulas keberadaan berbagai senyawa toksik dalam air minum, pengaruh negatif dan pemeriksaannya untuk rneneetahui konsentrasi ambang batas yang dapat berpengaruh pada ternak.

Kata kunci: Kualitas air, senyawa toksik, ternak

Abstract

Effects of Toxic Compounds in Contaminated Drinking Water for Livestock

Good water quality is a broad term, which encompasses taste, mineral and organic content, salinity, solids. microbes and potential natural or chemical contaminants in the safety level. Due to the rapid development of industrial companies without a proper waste water treatment, the source of drinking water for animal can be contaminated by toxic compounds. Water resources for livestock must be free from the contamination qualitatively as well as quantitatively. This paper describes some contaminants in the drinking water, their effects on livestock, and methods to measure their level.

34.

Yuningsih; Yuliastuti, Sri (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Analisis cepat residu pestisida lindan (Insektisida Organoklorin) dalam produk ternak (daging dan susu) dengan teknik ekstraksi fase padat dan khromatografi gas. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(1): p.79-84.

Abstrak

Penggunaan pestisida yang tidak beraturan pada masa tanam dan pasca panen (produk pertanian), merupakan salah satu sumber pencemaran bahan baku pakan ternak, yang dapat menyebabkan residu dalam produk ternak (daging dan susu). Kandungan residu yang melewati batas maksimum residu (BMR) merupakan masalah dalam keamanan pangan asal ternak. Upaya mengetahui sejauhmana kandungan residu pestisida dalam produk ternak, telah dicoba pengembangan metode analisis residu yang cepat dan efektif (jumlah kecil dalam pemakaian bahan kimia organik sehingga mengurangi bahaya limbahnya). Metode yang digunakan adalah teknik ekstraksi fase padat (solid phase extraction, SPE) dari sampel yang telah dihomogenkan dengan asetonitril melalui cartridge C18. Kemudian dimurnikan (clean-up) melalui kolom florisil dengan elusi 2% eterpetroleum untuk sampel daging, sedangkan untuk sampel susu, elusi dengan asetonitril dan masing-masing eluate dideteksi dengan khromatografi gas dengan electron capture detector. Hasil uji validasi dari pengembangan metode untuk sampel daging, rata-rata recovery adalah 85,10 dan 103,00% dari 2 ulangan yang masing-masing ditambahkan standar pestisida lindan 0,50 dan 1,00 μg, sedangkan untuk sampel susu, rata-rata recovery menunjukkan 83,80; 88,69 dan 91,24% dari 3 ulangan yang masing-masing ditambahkan 0,50, 1,00 dan 1,50 μg standar pestisida lindan. Hasil ini mendekati kisaran uji validasi (70-110%) yang merupakan kriteria uji validasi residu pestisida menurut FAO/IAEA. Dengan demikian pengembangan metode residu pestisida lindan dalam daging dan susu ini cukup baik.

Abstract

A rapid, solid phase extraction (SPE) technique for the extraction and

gas chromatographic determination lindane pesticide residue in tissue and milk.

Organochlorine pesticide contamination in feed can cause residue in animal product (tissue and milk), so its become a problem in food safety. Solid phase extraction (SPE) has been carried out for determination organochlorine pesticide residues in food animal production. The technique was rapid, not costly and produce limited amount of hazardous-waste. Samples were homogenized with acetonitrile trough cartridge C18, eluted in fluorocyl column with 2% ether-petroleum or acetonitrile for tissue and milk samples respectively. The recoveries of tissue sample by addition lindane standard solution: 0.50 and 1.00 μg are 85.10 and 103.10% respectively, while that of milk with the addition of 0.50, 1.00 and 1.50 μg are 83.80, 88.69 and 91.24% respectively. Three replicates were carried out for every sample. According of validation criteria of FAO/IAEA the recovery for analysis of pesticide residues was 70-110%. Therefore, the method is applicable.

VACCINES

35.

Bahri, Sjamsul; Kusumaningsih, Anni (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Potensi, peluang, dan strategi pengembangan vaksin hewan di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005, Vol.24(3): p.113-121.

Abstrak

Pembangunan peternakan perlu ditunjang oleh program peningkatan kesehatan hewan, karena dampak yang diakibatkannya dapat bersifat fatal dan sangat merugikan. Sampai saat ini kebutuhan obat hewan, terutama vaksin masih belum mencukupi baik jenis maupun jumlahnya. Sekitar 76,34% kebutuhan vaksin masih dipenuhi dari impor, sehingga dikhawatirkan akan muncul wabah penyakit karena pengendalian penyakit menjadi kurang efektif serta membuka peluang masuknya penyakit dari luar negeri. Sekitar 80% kebutuhan vaksin hewan di Indonesia berupa vaksin unggas (ayam). Dari delapan jenis vaksin ayam yang umum dipergunakan, yaitu newcastle disease (ND), infectious bronchitis (IB), infectious bursal disease (IBD), snot (coryza), pox, swallon head syndrome (SHS), egg drop syndrome (EDS), dan infectious laryngotracheitis (ILT), 93,36% merupakan vaksin ND, IB, dan IBD dan sekitar 80% dipenuhi dari impor. Berdasarkan hasil kajian, Indonesia memiliki potensi dan peluang untuk mengembangkan vaksin hewan karena telah tersedia teknologi pembuatan vaksin, sumber daya manusia, produsen vaksin, serta sumber daya plasma nutfah berupa mikroorganisme lokal yang sesuai untuk mengatasi penyakit. Strategi yang perlu dilakukan untuk pengembangan vaksin hewan di dalam negeri adalah: 1) melakukan penelitian dan pengembangan vaksin hewan yang berorientasi pasar (terutama vaksin unggas), 2) memanfaatkan sumber daya secara terpadu antarinstitusi, 3) optimalisasi peningkatan kapasitas produksi vaksin yang telah dikuasai, dan 4) membentuk unit produksi vaksin pada perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Kata kunci: Vaksin hewan, potensi, peluang, strategi pengembangan, Indonesia

Abstract

Potency, opportunity, and strategy of livestock vaccines development in Indonesia

Potency, opportunity, and strategy of livestock vaccines development in Indonesia A program for animal health is needed in development of animal husbandry, because the impacts of animal diseases outbreaks were significant in economic loss. The demand for veterinary medicine, especially vaccine has not been covered. So far, 76.34% of the vaccine supply is imported, so it is concerned to cause an outbreak of animal diseases due to ineffectiveness in disease control program and open chances to import of animal disease agents. The demand for livestock vaccines in Indonesia is more than 80% for poultry vaccine, consisting of eight poultry vaccines: vaccines for newcastle disease (ND), infectious bronchitis (IB), infectious bursal disease (IBD), snot (coryza), pox, swallon head syndrome (SHS), egg drop syndrome (EDS), and infectious laryngotracheitis (ILT). Out of 93.36% of the total poultry vaccines in Indonesia are vaccines for ND, IB, and IBD and 80% of them are imported. A field study showed that Indonesia has potency and opportunity to develop livestock vaccines for a better animal health program since it has technologies for vaccine production, human resources and local microorganisms as natural resources. The strategies in developing livestock vaccine program cover: 1) doing the research and development of livestock vaccines based on consumer needs (mainly poultry vaccine), 2) integrating the use of natural resources among institutions, 3) optimising the vaccine production, and 4) setting up vaccine production units in universities and research institutes.

VIROLOGY

36.

Adjid, R.M. Abdul; Sarosa, Antonius; Syafriati, Tatty; Yuningsih (Balai Penelitian Veteriner Bogor). Penyakit rabies di Indonesia dan pengembangan teknik diagnosisnya. Wartazoa. 2005, Vol.15(4) : p.165-172.

Abstrak

Penyakit rabies merupakan penyakit zoonosis yang sangat penting artinya bagi kesehatan masyrakat, karena dapat mengakibatkan kematian pada penderitanya. Penyakit rabies tersebar di berbagai negara termsuk Indonesia. Upaya pemberantasan rabies yang dilakukan masih banyak mengalami kendala. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan di Balai Penelitian Veteriner dapat menunjang pemberantasan rabies di Indonesia, terutama dalam hal teknik diagnosis. Berbagai aspek penelitian rabies yang dilakukan yaitu penggunaan zat pengawet spesimen, cara pengirimannya serta pengambilan otak anjing dengan metode straw; penggunaan preparat sentuh kornea mata sebagai spesimen intra vitam; teknik neutralization peroxidase linked assay (NPLA) atau modifikasi uji fluorescent antibody virus neutralization test (FAVN) pada multispot slide, aplikasinya di lapang; deteksi antigen dengan penggunaan rapid rabies enzyme immunodiagnostic (RREID); serta pembuatan konjugat fluorescent isothiocyanate (FITC). Uji enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) untuk deteksi antibodi rabies telah dikembangkan, namun masih dijumpai adanya reaksi tidak spesifik. Teknik reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) telah diteliti, namun aplikasinya sulit dilaksanakan pada spesimen intra vitam. Demikian halnya dengan racun ekstrak biji kemalakian dan ekstrak biji picung juga diteliti sebagai pengganti strychnine untuk eliminasi anjing di lapang, namun masih diperlukan penelitian lanjutan.

Abstract

Rabies in Indonesia and The Development of Its Diagnostic Techniques

Rabies is a zoonotic disease which is crucial for public health, as it can infect human beings and causes death. Rabies has spread across the world including Indonesia. Control to erradicate rabies still faces many obstacles. Rabies research at Research Institute for Veterinary Science emphasizes on rabies erradication focussing on some aspects of diagnostic techniques. Studies on the spcsimen preservation, the shipment to the laboratory and the collection of brain specimens by straw method as Well as the use of cornea touch preparat as intra vitam specimens have been conducted. Rabies diagnostic techniques by NPLA or modified FAVN on multispot slides and their applications in the field have also been studied. This paper also describes the preparation of FITC conjugate. ELISA technique was developed for serological test but still need to be improved to reduce non specific reaction, while RREID was used for antigen detection. Rabies diagnostic was conducted by using RT-PCR but its application was very difficult to be done for infra vitam. Research on Crown tiglium and Pangium edule extracts as an alternative for the strychnine poison used for dog elimination in the field has also been conducted but further research is needed in the future.

37.

Indriani, Risa; Dharmayanti, N.L.P. Indi; Syafriati, Taty; Wiyono, Agus; Adjid, R.M. Abdul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pengembangan prototipe vaksin inaktif Avian Influenza (AI) H5N1 isolat lokal dan aplikasinya pada hewan coba di tingkat laboratorium. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(4): p.315-321

Abstrak

Suatu studi awal yang berhubungan dengan aspek vaksin dan vaksinasi untuk mengendalikan penyakit Avian influenza (AI) subtipe H5N1 telah dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Veteriner, Bogor. Prototipe vaksin inaktif AI subtipe H5N1 ini dibuat dari virus AI H5N1 isolat lokal dengan identitas A/Chicken/West Java/67-2/2003. Setelah vaksin dibuat, vaksin tersebut diuji pada ayam petelur sebagai hewan coba. Parameter yang diamati, yaitu tingkat keamanan dan daya proteksi vaksin (respon antibodi, proteksi, dan ekskresi/shedding virus tantang). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa vaksin yang dibuat bersifat aman dan protektif terhadap uji tantang virus AI virulen. Vaksinasi yang dilakukan pada ayam umur 3 minggu saat antibodi maternal sangat rendah menghasilkan respon antibodi tertinggi. Titer antibodi meningkat terus mencapai puncaknya pada saat 8 minggu setelah vaksinasi. Pada saat 4 dan 8 minggu setelah vaksinasi ayam memiliki proteksi (90%) terhadap infeksi virus AI virulen. Disamping itu lama sekresi virus tantang dari tubuh ayam menurun dan tidak terdeteksi lagi mulai hari ke-7 setelah uji tantang. Berdasarkan studi di tingkat laboratorium ini disimpulkan bahwa prototipe vaksin AI yang dibuat hasilnya sangat baik.

Abstract

Development inactivated vaccine prototype of avian influenza (AI) H5N1 local isolate and

its application at laboratory level

A preliminary study related on vaccine safety and vaccination effectivity for controlling avian influenza (AI) subtype H5N1 was carried out at Virology Laboratorium, Indonesian Veteriner Institute, Bogor. A Prototype of inactivated vaccine was made using AI H5N1 local isolate (A/Chicken/West Java/67-2/2003). The vaccine was then tested for safety and protection in DOC of layers. Antibody response, protection and shedding virus challenge were observed in the experiment. Result showed that the vaccine was saved and protected against virulent viral challenge. Efective vaccination was achieved at 3 weeks chicken old started with low level of antibody. Antibody titre increased gradually and reached the top at 8 weeks post vaccination. Challenge test using AI virulent at the age of 4 and 8 weeks post vaccination showed that the vaccine gave high protection (90%). Viral shedding was not longer expressed than 7 days after challenge. It is concluded that this prototype is a satisfied AI vaccine in laboratory level.

38.

Damayanti, Rini; Wiyono, Agus (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Infeksi alami Malignant Catarrhal Fever pada sapi Bali: Sebuah studi kasus. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(2): p. 150-159.

Abstrak

Penyakit Malignant catarrhal fever (MCF) di Indonesia disebabkan oleh Ovine herpes virus-2 dan merupakan penyakit yang ditandai dengan angka kematian yang tinggi dan menimbulkan kerusakan yang bersifat degeneratif and limfoproliferatif pada

sapi, kerbau dan ruminansia lainnya. Hewan percobaan MCF merupakan 15 ekor sapi yang juga dipakai pada penelitian penyakit Infectious bovine rhinotracheitis (IBR), Septicaemia epizootica (SE), dan brucellosis. Sapi-sapi tersebut menunjukkan gejala klinis berupa demam tinggi, depresi, anoreksia, kekeruhan kornea mata, eksudat mukopurulen dari mata dan hidung serta diare. Enam ekor di antaranya ditemukan mati dan sisanya dilakukan nekropsi dalam keadaan sekarat. Gejala klinis, patologi anatomi (PA) dan histopatologi (HP) dari kelima belas ekor sapi tersebut sangat konsisten dan patognomonik untuk penyakit MCF. Rangkaian kasus MCF ini dapat dianggap sebagai wabah MCF yang terjadi pada sapi Bali dan terjadi pada musim hujan di suatu daerah endemik. Pada saat yang bersamaan terdapat sekelompok ternak domba yang sedang bunting dan beranak dipelihara berada satu lokasi yang berdekatan dengan kandang sapi tersebut. Hasil ini menegaskan kembali bahwa sapi Bali merupakan ternak yang sangat peka terhadap MCF dan diduga keras domba tersebut yang menyebarkan virus penyebab MCF.

Abstract

Natural infection of malignant catarrhal fever in Bali cattle: A case study

Malignant catarrhal fever in Indonesia is caused by Ovine herpes virus 2 and considered as a disease with high mortality rate causing degeneratif and lymphoproliferative disease in cattle, buffalo and other ruminants. A total number of fifteen Bali cattle were naturally infected by Malignant Catarrhal Fever (MCF). Those cattle were meant to be experimental animals of research on infectious bovine rhinotracheitis (IBR), Septicaemia epizootica (SE), and bovine brucellosis. The clinical signs of those animals were sudden high fever, depression, anorexia, corneal opacity, mucopurulent oculo-nasal discharges and diarrhoea. Six of them were dead and the remaining cattle were slaughtered at extremis. On the basis of clinical, gross-pathological and histopathological findings, all cases were shown to be consistent and pathognomonic of MCF cases. These cases were regarded as an outbreak of MCF affecting Bali cattle which occurred during wet season and while in other paddock in that area there were a number of lambing sheep. This result confirms that Bali cattle is a very susceptible animal of MCF and the cases were very likely due to the spread of MCF virus from lambing sheep.

39.

Dharmayanti, N.L.P. Indi (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Analisis fragmen gen HA1 virus Avian Influenza yang menginfeksi sebuah breeding farm pada awal tahun 2004 dan 2005 di kabupaten Sukabumi. Jurnal Mikrobiologi Indonesia. 2005, Vol.10(2) : p.86-90.

Abstract

In early 2004 and 2005, H5N1 influenza viruses emerged among chickens in breeding farm in Sukabumi. Breeding farm is one of area target to eradiacte of AI in Indonesia. Therefore, we isolated the virus in the field and conducted the homology of the viruses that infected this breeding in fragment HA1 gene. Homology and phylogenetic analyses showed that isolate from breeding farm in 2004 (A/Chicken?West Java/Smi-BF/2004) has homology 92 percent and there were defferences if compared with isolete from 2005 that infected the breeding farm (A/Chicken/West Java/Smi-27M/2005)

40.

Dharmayanti, N.L.P. Indi; Damayanti, Rini; Indriani, Risa; Wiyono, Agus; Adjid, R.M. Abdul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Karakterisasi molekuler virus Avian Influenza isolat Indonesia. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(2): p.127-133.

Abstrak

Wabah avian influenza di Indonesia telah terjadi sejak bulan Oktober 2005. Balitvet mempunyai beberapa isolat virus avian influenza yang dikoleksi mulai bulan Oktober 2003 sampai Oktober 2004. Sebanyak 14 isolat selanjutnya dikarakterisasi secara molekuler untuk mengetahui kedekatan genetik dengan isolat avian influenza lainnya dan untuk mengetahui dasar molekular patogenitasnya. Hasil phylogenetic tree menunjukkan bahwa semua isolat Indonesia mempunyai kedekatan yang tinggi dengan isolat A/Duck/China/E319-2/03(H5N1) dan mempunyai kedekatan genetik satu sama lain. Patogenitas isolat Indonesia yang dikoleksi alitvet dan diteliti berdasarkan sekuen di daerah cleavage site gen Hemaglutinin (HA) virus avian influenza mempunyai multiple basic amino acid di daerah cleavage site (B-X-B-R) yang menunjukkan bahwa semua isolat yang diisolasi sampai bulan Oktober 2004 merupakan virus avian influenza virulen atau virus avian influenza highly pathogenic.

Abstract

Molecular characterization of Indonesia avian influenza virus

Avian influenza outbreaks in poultry have been reported in Java island since August 2003. A total of 14 isolates of avian influenza virus has been isolated from October 2003 to October 2004. The viruses have been identified as HPAI H5N1 subtype. All of them were characterized further at genetic level and also for their pathogenicity. Phylogenetic analysis showed all of the avian influenza virus isolates were closely related to avian influenza virus from China (A/Duck/China/E319-2/03(H5N1). Molecular basis of pathogenicity in HA cleavage site indicated that the isolates of avian influenza virus have multiple basic amino acid (B-X-B-R) indicating that all of the isolates representing virulent avian influenza virus (highly pathogenic avian influenza virus).

41.

Dharmayanti, N.L.P. Indi; Indriani, Risa; Damayanti, Rini; Wiyono, Agus; Adjid, R.M. Abdul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Karakter virus Avian Influenza isolat Indonesia pada wabah gelombang ke dua. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(3): p.217-226.

Abstrak

Wabah avian infeluenza gelombang ke dua terjadi mulai bulan Desember 2004 sampai bulan April 2005. Pada bulan Maret 2005, avian influenza telah menginfeksi beberapa peternakan di daerah Sulawesi Selatan yaitu Kabupaten Wajo dan Sopeng. Lebih dari 21 isolat telah dikoleksi sejak Desember 2004 sampai Maret 205 dan diidentifikasi sebagai virus avian influenza subtipe H5N1. Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi lebih lanjut terhadap 14 isolat avian influenza yang dikoleksi pada periode tersebut dengan metode RT-PCR-sekuensing pada gen Hemaglutinin (HA) kemudan dilanjutkan dengan analisis gentiknya untuk mengetahui apakah telah terjadi mutasi pada isolat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat Indonesia yang diisolasi pada wabah gelombang ke dua umumnya mempunyai kelompok yang berbeda dengan kelompok isolat tahun 2003 dan 2004. Mutasi titik terjadi pada isolat yang diisolasi pada Agustus 2004-Maret 2005 yaitu basa Guanine menggantikan Adenine pada urutan nukleotida ke-195.

Abstract

Indonesian avian influenza viruses character in second wave epidemic

Second wave of epidemic avian influenza occurred from December 2004 until April 2005. In March 2005, the disease had infected some districts in South Sulawesi such as Wajo and Sopeng. More than 21 field isolates have been collected and identified as avian influenza virus subtype H5N1. In this study further characterized was undertaken for 14 isolates of avian influenza using Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) and sequencing in region of HA1 gene. It was then followed by genetic analysis to identify the mutation and phylogenetic relationship of the isolates. The study indicates that the Indonesia isolates collected in second wave epidemic are generally having a different group to the isolates group in 2003 and 2004. There is point mutation in the nucleotide sequence of the isolate collected at August 2004-March 2005, that is the replacement of adenine by guanine in the position of 195.

42.

Saepulloh, Muharam; Darminto (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kajian Newcastle disease pada itik dan upaya pengendaliannya. Wartazoa. 2005, Vol.15(2): p.84-94.

Abstrak

Suatu studi tentang infeksi Newcastle disease (ND) pada itik telah dilakukan di beberapa daerah baik di Indonesia maupun di negara lain dengan menggunakan metode serologi dan isolasi virus. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa virus ND dapat menginfeksi itik, merangsang pembentukan antibodi, serta ada yang menimbulkan gejala klinis pada itik dan ada juga yang tidak. Virus ND pada itik yang paling banyak ditemukan termasuk galur virus ND yang ganas (Velogenic straid), sehingga sangat berbahaya bagi peternakan ayam yang berada si sekitar lokasi yang banyak populasi itiknya. Hal tersebut dikarenakan sejumlah itik yang terinfeksi dapat mengekskreasikan virus ND melalui feses sehingga menyebar ke lingkungan. Oleh sebab itu, itik memiliki peran penting dalam penyebaran penyakit tetelo, sehingga perlu kewaspadaan keberadaan itik di lingkungan peternakan ayam.

Abstract

Study and Control of Newcastle Disease in Ducks

A study on the infection of Newcastle disease (ND) in ducks has been conducted at some areas in Indonesia and other countries by serology method and viral isolation. The result indicated that ND virus was capable of infecting ducks, stimulated immune response, with or without manifestation of the clinical signs of ND. Based on the pathotyping tests, viral isolates were considered as velogenic strains. Some infected ducks could spread the virus to the environment through faeces, so that it will be very dangerous for chicken breeder residing in the same location with many duck populations. On that account, ducks have an important role in spreading the ND virus, thus care should be taken on the presence of ducks in the poultry farms.

43.

Sendow, Indrawati (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Studi patogenitas isolat lokal virus Bluetongue pada domba lokal dan impor. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(1): p.51-62.

Abstrak

Bluetongue merupakan salah satu penyakit arbovirus yang menimbulkan kerugian pada peternak domba. Enam isolat lokal virus bluetongue (BT), telah diperoleh dari darah sapi yang diamati secara berkala (sentinel) di Jawa Barat dan Irian Jaya (Papua), namun patogenitasnya masih belum diketahui. Propagasi inokulum 3 serotipe BT telah dilakukan pada domba impor Merino (1, 9 dan 21), yang akan digunakan untuk uji patogenitas. Uji ini terdiri dari 3 kelompok, yaitu kelompok BT 1, BT 9 dan BT 21. Masing-masing kelompok terdiri dari domba lokal dan impor kontrol serta domba lokal dan impor terinfeksi, yang sebelumnya telah diuji tidak mengandung antibodi terhadap virus BT. Pengamatan terhadap gejala klinis dilakukan 2 kali sehari selama 28 hari pengamatan. Darah dalam heparin dan serum diambil setiap hari untuk mengetahui waktu viremia dengan uji Ag-C-ELISA dan respon antibodi dengan uji C-ELISA. Hasil penelitian menunjukkan gejala klinis yang ditimbulkan adalah ringan pada domba impor dan sangat ringan pada domba lokal. Gejala klinis paling ringan tampak pada kelompok BT 9, disusul dengan kelompok BT 1 dan BT 21. Kematian domba tidak ditemukan pada semua domba pada uji ini. Viremia pada domba impor umumnya terjadi antara 3-5 hari pasca infeksi (PI), sedangkan viremia pada domba lokal terjadi antara 4-7 hari PI. Respon antibodi mulai terbentuk paling cepat pada hari ke-9 PI pada domba impor dan hari ke 10 PI pada domba lokal serta bertahan sampai masa percobaan berakhir. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa isolat BT lokal tidak patogen dan tidak menimbulkan gejala klinis yang klasik, baik pada domba lokal dan impor.

Abstract

Pathogenicity study of local bluetongue virus isolates in local and imported sheep

Bluetongue is one of arboviruses that caused economical impact to sheep farmers. Six local bluetongue virus (BT) serotypes isolates were obtained from sentinel cattle blood in West Java and Irian Jaya (Papua), but its pathogenicity has not been identified. Propagation of viraemic blood inoculum from 3 local BT serotypes such as serotypes 1,9 and 21, that had been conducted in Merino sheep, will be used for pathogenicity study. The study was devided into 3 groups, each group contained local and imported sheep as control and infected sheep. All sheep had been tested as negative BT antibodies. Observation on clinical signs had been conducted twice daily for 28 days. Heparinised blood and sera were collected everyday to obtain the viraemia period by Ag-C-ELISA test and antibody respons by C-ELISA test. The clinical signs produced were varied from normal to very mild in local sheep and very mild to mild-moderate in Merino sheep.The lowest severe degree of clinical signs was BT 9 followed by BT 1 and BT 21. No dead, neither local and Merino sheep occurred. Viraemia in Merino sheep occurred between 3-5 days and in local sheep between 4-7 days post inoculation (DPI). Antibody respons occurred as quick as 10 DPI in Merino sheep and 9 DPI in local sheep, and stayed until the end of experiment. This study showed that local BT isolates were not pathogen and not producing clasical BT infection.

44.

Sendow, Indrawati; Adjid, R.M. Abdul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Penyakit Nipah dan situasinya di Indonesia. Wartazoa. 2005, Vol.15(2): p.66-71.

Abstrak

Kejadian penyakit zoonosis di dunia cenderung meningkat karena adanya kemajuan teknologi, perubahan aktivitas manusia dan ekosistem. Salah satu penyakit yang akhir-akhir ini muncul adalah penyakit Nipah di negara tetangga, Malaysia, yang telah menewaskan 105 orang dan lebih dari satu juta ekor babi dimusnahkan. Mengingat lokasi geografis Indonesia sangat berdekatan dengan Malaysia, maka dapat terjadi kemungkinan berpindahnya penyakit tersebut ke Indonesia melalui berbagai cara seperti importasi ternak babi dan produknya, serta melalui perpindahan satwa liar, dalam hal ini kelelawar. Oleh karena penyakit Nipah sangat berbahaya bagi manusia serta merupakan penyakit emerging, maka penyakit ini perlu mendapat perhatian yang serius. 1-Iasi) penelitian pendahuluan yang telah dilakukan Balai Penelitian Veteriner Bogor menunjukkan bahwa sejumlah ternak babi di wilayah Riau, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Jawa Barat masih negatif terhadap infeksi Nipah secara serologis. Sementara itu hewan reservoir, kelelawar pemakan buah, yang berasal dari Sumatera Utara, Jawa Barat dan Jawa Timur terbukti mengandung antibodi terhadap infeksi Nipah baik dengan uji ELISA maupun serum netralisasi. Kondisi ini meminta berbagai pihak terkait dengan kesehatan manusia dan hewan untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya infeksi Nipah di Indonesia. Makalah ini merupakan ulasan yang memhahas berbagai aspek penyakit Nipah, meliputi etiologi, epidemiologi, situasi di Indonesia serta saran pencegahan dan pengendaliannya. Diharapkan, tulisan ini dapat rnemberikan masukan bagi sernua pihak dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat veteriner di Indonesia.

Abstract

Nipah and Its Current Situation in Indonesia

Recently, the incidence of zoonotic disease in the world increases, due to technology development, human activities and ecosystem changes. One of these diseases is an outbreak of Nipah in the neighbouring country, Malaysia, which caused 105 people died and more than one million pig were culled. Malaysia is the adjacent country to Indonesia, hence, it is possible that Nipah will be transferred to Indonesia through imported pigs and their products, and the migration of wild animal such as fruit bat. Because of Nipah is one of emerging diseases and hazardous to human. it needs a serious attention. Preliminary results on Nipah serology at the Research Institute for Veterinary Science, Bogor, indicated that pigs in Riau. North Sumatera, North Sulawesi and West Jawa areas were negative to Nipah virus infection. However, the reservoir host, fruit bats from North Sumatera, West Java and East Java areas had been proven to have antibodies against Nipah virus using both ELISA and serum neutralization tests. With this condition, human and animal health departments should anticipate a possible occurrence of Nipah viral infection in Indonesia. This paper reviewes many aspects of Nipah included aetiology, epidemiology, the situation in Indonesia, prevention and controlling recommendation, that can be used as an input in order to improve veterinary public health in Indonesia.

45.

Sendow, Indrawati; Bahri, Sjamsul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Penyakit bluetongue pada ruminansia, distribusi dan usaha pencegahannya di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005, Vol.24(2): p.56-62.

Abstrak

Tulisan ini merupakan ulasan dari serangkaian penelitian penyakit bluetongue pada ternak di Indonesia dan bertujuan untuk memberikan gambaran tentang situasi penyakit tersebut di Indonesia dan antisipasi pencegahannya mengingat penyakit ini tergolong penyakit strategis yang berada dalam kelopok A pada Office International Epizootica/Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Data serologi menunjukkan bahwa ternak ruminansia besar memiliki prevalensi yang lebih tinggi sebagai reaktor daripada ternak ruminansia kecil. Serotipe BTV 1,3,6,7,9,12,16,21 dan 23 berhasil diisolasi dari darah sapi yang tampak sehat, sedangkan serotipe 1,6, dan 21 juga dapat diisolasi dari serangga Cukicoides app. Uji patogenitas virus BT (serotipe 1,9, dan 21) pada domba lokal dan impor menunjukkan hasil yang tidak patogen. Teknik polymerase chain reaction (PCR) telah digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus BT pada biakan jaringan. Sifat-sifat molekular dari isolat BT ini menunjukkan adanya hubungan dengan isolat BT Asean, Australia, dan Malaysia. Untuk mencegah terjadinya wabah BT, disarankan melakukan vaksinasi terhadap domba impor. Selain itu penempatan domba impor atau domba yang peka terhadap BT sebaiknya tidak berdekatan dengan peternakan sapi. Penularan melalui vektor serangga dapat diperkecil dengan cara peningkatan sanitasi kandang dan penyemprotan serangga.

Abstract

Bluetongue disease on ruminants, its distribution and prevention in Indonesia

The aim of the review on several bluetongue researches in Indonesia was to give a feature on bluetongue virus infection situation and the anticipation to prevent an outbreak because bluetongue is a strategic disease in list A of Office International Epizootica (OIE). Serological surveys for bluetongue viruses (BTV) indicated that large ruminants had a higher prevalence of reactors than small ruminants. BTV serotypes 1, 3, 6, 7, 9, 12, 16, 21, and 23 were successfully isolated from blood from apparently healthy cattle, and BTV serotypes 1, 6, and 21 were also isolated from pools of Culicoides spp. The pathogenicity of BTV isolates was determined in local and imported sheep. The polymerase chain reaction (PCR) technique was adopted to detect bluetongue virus in cell culture. The nucleotide sequences of amplification products of Indonesian isolates indicated that there was a relationship with Asean, Australian, and Malaysian BTV. It was suggested that to prevent bluetongue out break, vaccination must be conducted in imported sheep and the place of imported sheep or sensitive breed preferable not be close to the cattle farm. BT transmission through vector can be minimized by increasing the sanitation and insecticide fogging.

46.

Sendow, Indrawati; Bahri, Sjamsul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Perkembangan Japanese encephalitis di Indonesia. Wartazoa. 2005, Vol.15(3): p. 111-118.

Abstrak

Japanese enecephalitis (JE) adalah penyakit viral yang bersifat zoonosis dan menyebabkan peradangan otak pada manusia usia muda (5-9 tahun) yang ditularkan melalui vektor nyamuk. Keberadaan virus penyebab JE, vektor dan hewan reservoar di berbagai wilayah Indonesia, menyebabkan perlunya kewaspadaan terhadap kemungkinan mewabahnya penyakit ini. Keberasaan JE pada manusia di Indonesia telah diungkapkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan serologis, dan perkembangan terakhir kejadian JE di Bali telah menjadi hiperendemik (yang biasanya sporadik). Pada hewan kejadian JE hanya ditemukan berdasarkan serologis dan isolasi virus penyebabnya, sedangkan keberadaan vektor berupa nyamuk telah ditemukan berbagai spesies nyamuk yang potensial menularkan JE karena virus penyebab JE berhasil diisolasi dari nyamuk. Upaya pencegahan dan pengendalian JE dapat dilakukan dengan melakukan sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat untuk melakukan pemutusan rantai penularan (antara virus JE, vektor nyamuk dan induk semang/reservoar) termasuk merelokasi peternakan terutama babi ke wilayah yang tidak padat penduduk dan pembcrantasan vektor. Perlu dilakukan pengembangan laboratorium regional (fasilitas dan SDM) untuk mempercepat diagnosa JE dan pembangunan laboratorium BSL 3 di tingkat pusat untuk melakukan kegiatan isolasi virus dan penelitian lebih mendalam terutama peranan hewan dalam penularan JE kepada manusia.

Abstract

The Development of Japanese Encephalitis in Indonesia

Japanese encephalitis (JE) is a zoonotic viral disease which causes encephalitis in children (5-9 years old). The disease is transmitted by mosquitoes. The presence of JE virus, vector and reservoir host in Indonesia, will increase the concern of the possibility of JE outbreak in Indonesia. JE infection in human was reported by clinical and serological findings. Recently, JE case in Bali was declared as hypercndemic (usually sporadic). In animals, JE infection has been confirmed by serology and viral isolation, while JE vector had been found in different species of mosquitoes by successful viral isolation from those mosquitoes. The prevention and control of JE are conducted by socialization about JE to the society, by cutting the JE transmission cycle (virus, vector and host). including pig farm relocation. The development of regional laboratories (facilities and human resources) to diagnose JE and the establishment BSI- of 3 laboratory in the central laboratory institute to isolate the JE virus and to conduct further JE research on the role of animal in transmitting JE to human, must be conducted.

47.

Sendow, Indrawati (Balai Penelitian Veteriner, Bogor). Isolasi Virus Palyam dari Sapi Sentinel di Timor Barat, Indonesia. Jurnal Mikrobiologi Indonesia. 2005, Vol. 10(1): p. 33-36

Abstract

Isolation of a Palyam Group Viruses from Sentinel Cattle in West Timor, Indonesia

Palyam is one of arboviral disease which infected pregnant cow and caused abortion. To obtain the Palyam virus isolate, a group of sentinel cattle was established at Kupang, West Timor. A weekly hepariniscd blood was collected from Versa jugular for viral isolation. A total of 486 heparinesed blood were inoculated into baby hamster kidney (BIIK21) monolayer in roller tubes. Three times blind passages in BHK-21 was carried out and cythopathic effect (CPE) was observed daily before considered as negative and discarded. When CPE was observed, the inoculum considered containing viral isolate. Six isolates produced CPE, and further identification using agar gel immunodiffusion test against Palyam antisera was conducted. The result indicated that two isolates reacted with Palyam antisera. The isolates were further confirmed at Onderstepoort Laboratory, South Africa.

48.

Gholib, Djaenudin (Balai Penelitian Veteriner). Pengembangan Teknik Serologi untuk Pemeriksaan Aspergillosis Ayam. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2005, Vol.10(2): p.51-62.

Abstrak

Penelitian metode serologi untuk aspergillosis pada ayam belum pernah dilaporkan di Indonesia. Oleh karena itu suatu penelitian dilakukan dengan menggunakan ekstrak miselium dari A. fumigatus sebagai antigen. Kelinci dan ayam disuntik untuk memperoleh serum positif (antiserum). Antigen dan antiserum kemudian diuji secara serologis dengan uji Immunodiffusi Agar/Agar Gel Precipitation (AGP), ELISA dan Imunoblot. Serum lapang ayam pedaging dan petelur, disertakan dalam pengujian ini. Semua serum positif dari hewan percobaan memberikan hasil reaksi positif dengan semua uji serologis. Tidak terbentuk garis reaksi presipitasi dengan uji AGP pada serum ayam lapang yang diuji. Serum hewan percobaan dengan uji ELISA menunjukkan nilai densitas optik (OD) yang tinggi, sedangkan serum ayam pedaging dari lapang umumnya mempunyai nilai OD lebih rendah dari petelur. Uji imunoblot menggunakan serum ayam positif, menunjukkan adanya garis/pita sebagai reaksi antiserum dengan antigen pada membran nitroselulosa, di sekitar 33, 38, 44, 52, 70, 77, 97, dan 110 kDa. Sedangkan serum ayam lapang yang memiliki nilai OD tinggi dengan ELISA menunjukkan garis/pita pada 16, 18, 33, 38, 44, 47, 52, 70, 77, 84, 97, dan 110 kDa. Hal ini menunjukkan bahwa serum lapang tersebut mengandung molekul imunoglobulin sebagai antibody spesifik terhadap antigen aspergillus. Disimpulkan bahwa Uji ELISA dapat digunakan sebagai uji skreening untuk aspergillosis pada ayam secara serologis.

Abstract

Development of serological technique for examination of aspergillosis in chicken.

Aspergillosis detection by using serological method has not been reported in Indonesia. In this case, a study was conducted, by using mycelium extract of A. fumigatus as the antigen. Rabbits and chickens were injected with the antigen to produce positive serum (antiserum). The antigen and antiserum were tested serologicaly by Immunodiffusion/Agar Gel Precipitation (AGP), ELISA and Immunoblot. Chicken serum of broiler and layer collected from field were also included in the test. All positive serum of the experimentally animals gave positive results with all methods of serological tests. No bands of precipitation reaction in AGP test with chicken serum from the field. Both chicken and rabbit positive serum with ELISA test showed high Optical Density (OD), while field chicken serum from broiler commonly gave lower OD compared to layer. Immunoblot test of chicken positive serum showed bands of reaction with the antigen in nitrocellulose membrane, approximately on 33, 38, 44, 52, 70, 77, 97, and 110 kDa, meanwhile field chicken serum with high OD in ELISA test, showed bands approximately on 16, 18, 33, 38, 44, 47, 52, 70, 77, 84, 97, and 110 kDa. It means that the field chicken serum contain immunoglobulin molecules has spesific antibody of aspergillus antigen. It is concluded that the ELISA test can be used for screening on chicken aspergillosis in serological methode.

49.

Indraningsih; Sani, Yulvian; Widiastuti, Raphaella (Indonesian Veterinary Research Institute, Jalan R.E. Martadinata 30 Bogor 16114, Indonesia). Evaluation Of Farmers Appreciation In Reducing Pesticide By Organic Farming Practice. Indonesian Journal of Agricultural Science. 2005, Vol. 6(2): p. 59-68

Abstract

Vegetables and dairy milk are important commodities in Pangalengan and Lembang, West Java. However, agrochemicals are used intensively and excessively in production system. Therefore, pesticide residues and contamination commonly occurred in agricultural products and environments. The study aimed to assess farmers’ attitudes on pesticide toxicity and reducing pesticide residues in animal and food crops products, and investigate the attitude changes of farmers on pesticide use. It was an on-farm research and farmers were directly involved in the study. The attitude change was analyzed on questionnaire and interview base for over 99 respondents in Pangalengan and Lembang between 2001 and 2003. Samples of soils, weeds, cabbages and milk were collected for pesticide residue analysis. Results showed that farmers did not aware on toxicity effects of pesticides in both animal and human health. There was misinterpretation among the farmers where pesticides were regarded as drugs rather than toxic compound to increase productivity. The organochlorines/OCs (lindane and heptachlor) were common pesticide contaminants found in soils of 7.9-11.4 ppb, but no organophospates (OPs) were detected. Both OCs and OPs were also detected in soils of Lembang at a range of 11.53-65.63 ppb and 0.6-2.6 ppb, respectively. There were pesticide residues detected in weeds collected from Pangalengan (8.93 ppb lindane, 2.05 ppb heptachlor, and 33.27 ppb chlorpyriphos methyl/CPM and Lembang (6.45 ppb lindane, 2.65 ppb endosulfan, 6.85 ppb diazinon, and 0.5 ppb CPM). Only endosulfan with least residue level (0.1 ppb) was detected in organic cabbages, whereas lindane was detected much higher (3.7 ppb) in non-organic cabbages. Pesticide residues were not detected in milk of dairy cattle fed on by-products of organic cabbages, but lindane was still present in milk of dairy cattle fed on non-organic cabbages for 7 days subsequently. The present study indicates that the organic farming practice may reduce pesticide residues in animal and agricultural products. Farmers appreciated that pesticides may cause residual effects on their products (95.2%) and affected public health and environment (92.9%). Therefore, they were willing to convert their agricultural practices to organic farming (69.1%).

INTERNATIONAL JOURNAL

PARASITOLOGY

50.

Tarigan, Simson (Balai Penelitian Veteriner)Huntley, John F.(Moredun Research Institute, UK). Failure to protect goats following vaccination with soluble proteins of Sarcoptes scabiei: Evindence for a role for IgE antibody in protection. Veterinary Parasitology. 2005, Vol.133 : p.101-109.

Abstract

Developing an anti-scabies vaccine is thought to be a feasible alternative to chemical control, since animals which have recovered from sarcoptic mange become resistant against mite reinfestation. The purpose of this study was to evaluate the protective value of immune responses developed in animals after immunisation with soluble mite proteins. Soluble proteins from Sarcoptes scabiei were extracted then subjected to ion exchange chromatography, and proteins from the column were eluted step-wise with 0 percen, 10 percen, 25 percen and 50 percen of 1 M solution of NaCl in a Tris buffer. Each protein fraction was concentrated and dialysed against PBS. To evaluate the immunogenicity of the fractions, 36 goats were allocated into six groups, gropu 1 goats were unvaccinated, group 2 were vaccinated with intact soluble mite proteins, and groups 3-6 were vaccinated respectively with the fractioned proteins. Vaccinations were conducted four times with 1 mg protein/dose and 4-week intervals between vaccination. One week after the last vaccination, all goats were challenged with approximately 2000 live mites on the auricles and infestations were allowed to progress for 6 weeks. The severity of lesions caused by the infestation was assessed throughout the study. The challenge caused mange or encrustation dermatitis in all animals and no differences in severity of lesions were observed between vaccinated and unvaccinated control goats. Vaccination with each fraction of the mite proteins invoked high levels of scabies-specific IgG in the serum of all animals but failed to induce specific IgE as determined by Elisa. In contrast, goats challenged exprimentally with a primary or repeated mite challenge developed strong serum IgE and IgG antibody responses to Sarcoptes antigens. The latter animals were shown in a previous study to be resistant to reinfestation. The lack of immune protection in the vaccinated animals may be attributed to the absence of protective levels of IgE antibody, and the present finding indicate that allergens and IgI antibody is important in immunity to S.scabiei infection.

LOCAL PROCEEDINGS

BACTERIOLOGY

51.

Adji, Rahmat Setya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Gambaran titer antibodi pascavaksinasi Antraks pada ternak ruminansia di Kabupaten Bogor. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.985-988.

Abstrak

Antraks merupakan penyakit bakterial pada hewan herbivora, walaupun demikian dapat menyerang pada semua mamalia termasuk manusia dan beberapa spesies unggas. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Bacillus anthracis. Pengendalian penyakit pada daerah endemik dilakukan dengan program vaksinasi. Vaksinasi dengan menggunakan vaksin spora aktif dapat menginduksi terbentuknya respon imun humoral (antibodi anti-PA). Uji serologi untuk mengetahui titer antibodi dilakukan dengan menggunakan teknik enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil uji ELISA sebanyak 291 sampel serum dari beberapa daerah endemik antrak, menunjukkan 196 sampel positif dan 95 sampel negatif . Efektifitas dan keberhasilan vaksinasi antraks di beberapa daerah endemik mencapai 65,9 persen.

Abstract

Antibody Titers Description of Vacctination in Ruminant in Bogor Regency

Anthrax was a bacterial disease of herbivorous animals, it could attact all mamals including humans, and some avian species. This disease is caused by Bacillus anthracis bacteria. Disease control in endemic areas has been done through vaccination program. Vaccination by using live spora vaccine can induced humoral immun respons (antibody anti–PA). Serological tests have been done by using enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) technique to investigate antibody titers. As many as 291 serum samples resulted from ELISA tests in endemic areas, showed 196 positives and 95 negatives. Both success and efectiveness of anthrax vaccination in some endemic areas reached upto 65,9%.

52.

Adji, Rahmat Setya; Natalia, Lily (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Deteksi plasmid dan toksin dari isolat lokal Bacillus anthracis. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1085-1091.

Abstrak

Bacillus anthracis, yang merupakan penyebab penyakit antraks mempunyai dua plasmid besar yaitu pX01 yang dibutuhkan untuk dapat menghasilkan toksin dan pX02 untuk sintesis dari kapsul poli-D-asam dlutamat. Virulensi kuman antraks tergantung dari produksi kapsul poly-D-asam glutamat dan ketiga kelompok eksotoksin (protective antigen/PA, lethal factor/LF and edema factor/EF). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi plasmid, toksin dan protein yang dihasilkan oleh isolat lokal Bacillus anthracis. Dalam penelitian ini, plasmid pX01 dan pX02 diisolasi dari isolat lokal dan dideteksi dengan elektroforesis menggunakan 0,7 persen agarose gel. Toksin yang ada dalam supernatan media kultur juga diperlihatkan dengan menggunakan SDS PAGE electrophoresis. Konsentrasi protein dari supernatan kultur yang dihasilkan berbagai isolat juga diukur dan dibandingkan. Ternyata semua isolat lokal yang dianalisa mempunyai 2 plasmid dan menghasilkan toksin. Konsentrasi protein yang ada dalam supernatan kultur tidak berkorelasi dengan konsentrasi toksin yang dihasilkan suatu isolat.

Abstract

Plasmid and Toxin Detection from Field Isolate of Bacillus antrachis

Bacillus anthracis, which causes anthrax contains two large plasmids, pX01 and pX02 which are required for toxin production and the synthesis of the poly-D-glutamic acid capsule, respectively. The virulence of anthrax bacilli is due to the production of a poly-D-glutamic acid capsule and the three component exotoxin (protective antigen/PA, lethal factor/LF and edema factor/EF). The aim of this study was to identify plasmids, toxins and protein produced by local isolates. In this study, the plasmid pX01 and pX02 were isolated from Bacillus anthracis local isolates and detected by electrophoresis using 0,7% agarose gel. The toxin from the culture supernatant were also demonstrated by using SDS PAGE electrophoresis. The protein concentration of culture supernatant produced by different local isolates were also measured and compared. All of local isolates analysed have the two plasmids, and produce toxins. The protein concentrations in the culture supernatant did not correlate with toxin concentrations produced by the isolates.

53.

Ariyanti, Tati; Supar (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Problematika Salmonellosis pada manusia. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor.15 Spetember 2005: p. 161-171.

Abstrak

Salmonellosis merupakan salah satu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri patogen Salmonella spp. Rantai penularan salmonellosis berkaitan dengan sumber penularan ternak dan produknya atau food-borne disease. Pada manusia dikenal adanya salmonellosis-tifoid (demam tifoid yang discbabkan olch S.typhi dan demam paratifoid yang discbabkan oleh S. paratyphi A dan B) serta salmonellosis-non tifoid (disebabkan oleh Salmonella spp. terutama S. enteritidis dan S. typhimurium). Salmonellosis-tifoid dan salmonellosis-non tifoid masih menjadi problem utama di bcberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit ini bersifat endemis hampir di semua kota besar di wilayah Indonesia dan tcrjadi tcrus meningkat sepanjang tahun. Diperkirakan demam tifoid terjadi sebanyak 60.000 hingga 1.300.000 kasus dengan sedikitnya 20.000 kematian per tahun. Strategi pcncegahan penyakit yang efektif adalah detcksi kasus, perbaikan sanitasi lingkungan, pencegahan kontaminasi dalam industri makanan, menekan angka rcaktor salmonellosis pada pengawasan ternak, pendidikan keschatan rnasyarakat scrta eliminasi sumber infcksi. Vaksin oral yang dilemahkan, dikemas dalam kapsul enteric coated dan vaksin parenteral Vi polisakarida kapsul (Typhim ViR) dapat diaplikasikan dengan efektif pada dacrah endemik.

54.

Ariyanti, Tati; Supar; Djaenuri; Iskandar (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pengembangan Enzyme Linked Immunosorbent Assay untuk evaluasi respon antibodi pada eggyolk dari ayam yang diimunisasi antigen sel utuh inaktif S. enteritidis phage tipe 4. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1056-1069.

Abstrak

Salmonellosis banyak terjadi pada ayam baik pada tingkat peternakan maupun produk ayam seperti telur. S. enteritidis phage tipe 4 merupakan salah satu patogen penyebab penyakit baik pada ayam maupun manusia. Infeksi S. enteritidis phage tipe 4 pada ayam dapat ditularkan secara vertikal dan atau horizontal. Deteksi S. enteritidis phage tipe 4 atau antibodinya pada telur menjadi sangat penting dalam upaya program penurunan dan pencegahan egg-borne disesase transmission. Pada kesempatan ini dikembangkan enzyme linked immunosorbent assay untuk mengetahui adanya respon antibodi pada telur dari ayam percobaan terhadap antigen somatik, ekstraseluler toksin dan flagella H:g,m dari S. enteritidis phage tipe 4. Pembuatan antigen sel utuh inaktif S. enteritidis berasal dari isolat lokal (Sukabumi). S. enteritidis phage tipe 4 diperbanyak menggunakan media nutrien agar dalam botol Roux. Setelah inaktivasi diemulsikan dengan gel alluminium hidroksida. Ayam petelur umur 14 minggu sebanyak 15 ekor (kelompok I) diimmunisasi dengan dosis 0,5 ml, aplikasi subkutan. Ayam diinjeksi ulang (booster) 4 minggu berikutnya dengan dosis dan aplikasi seperti sebelumnya. Satu kelompok ayam umur 14 minggu (kelompok II) dipakai sebagai kontrol, tidak diimunisasi. Tiap kelompok ayam tersebut dibagi menjadi 3 subkelompok (IA, IB, IC; IIA, IIB, IIC). Dua minggu sesudah booster subkelompok IB dan IIB ditantang dengan S. enteritidis phage tipe 4 hidup, subkelompok IC dan IIC ditantang 12 minggu setelah booster, sedang subkelompok IA dan IIA tidak ditantang. Telur dari ayam percobaan dikoleksi, diberi tanda secara individu. Antigen untuk ELISA whole cell sonicated extract (WS), heated sonicated extract (ES), ekstrakseluler toksin (ET) dan flagella H:g,m disiapkan dari stok sel S. enteritidis sama seperti yang digunakan untuk imunisasi. Respon antibodi pada telur ayam percobaan diperiksa secara ELISA masing-masing terhadap keempat jenis antigen tersebut di atas. Sejumlah telur dari 30 ekor ayam petelur yang diinokulasi dengan antigen aktif S. enteritidis, S. pullorum dan S. typhi dan telur ayam petelur dari lapangan (Sukabumi, Tangerang, Ciputat dan Citayam) diperiksa respon antibodinya terhadap antigen whole cell sonicated extract (WS) dan flagella H: g, m S. enteritidis. Hasil pembacaan ELISA berupa optical density reading (OD), dikonversi menjadi ELISA Unit berdasar nilai OD dari kontrol positif standar dan dibuat grafik atau gambar. Respon anti somatik (O) antibodi, antitoksin dapat dideteksi pada telur ayam yang disuntik dengan antigen sel utuh. Anti flagella H:g,m dapat dideteksi lebih awal (14 hari) setelah imunisasi. Dari keempat jenis ELISA tersebut, ELISA antibodi dengan antigen flagella (H:g,m) sangat sensitif dan bersifat spesifik untuk deteksi S. enteritidis. Antibodi dengan antigen somatik O (grup D) dapat untuk mendeteksi infeksi yang disebabkan oleh Salmonella spesies lain dalam grup D. Aspek diagnosa Salmonellosis pada ayam petelur dalam penelitian ini dapat dikembangkan menjadi kit diagnosis.

Abstract

The Development Enzyme Linked Immunosorbent Assay for Evaluating Antibody Response of Egg Yolk from Chicken Immunized with Killed Whole Cell Antigen of Salmonella enteritidis Phage Type 4

Salmonellosis is an important diasese in poultry industries that may occur in the animal level at farms as well as in the laying eggs or egg product. S. enteritidis phage type 4 is one of the most important serotype causing disease in chicken could spread vertically through the eggs as well as horizontally by direct contact. Detection S. enteritidis phage type 4 infections or its antibodies in eggs are important and appropriate for reducing egg-borne disease transmission. In this opportunity we developed enzyme-linked immunosorbent assay to detect the presence of S. enteritidis phage type 4 antibody responses in egg derived from experimental chicken againsted somatic (O), extracellular toksin and H: g, m flagella antigen. A group of 14 weeks old of layer chicken (group I) were immunized with killed whole cell antigen of S. enteritidis phage type 4 isolated from Sukabumi. A group of the same age of other chicken (group II) were left unimmunized used as control. Each of that group were divided into 3 sub group designated as IA, IB, IC and IIA, IIB, IIC respectively. Two weeks post boostered subgroup IB and IIB were challenged with life homologous of S. enteritidis phage type 4 whereas subgroup IC and IIC were challenged 12 weeks post boostered, Subgroup IA, IIA were left unchallenged. ELISA antigen of whole sonicated extract, heated whole sonicated extract, extracellular toxins and H: g, m flagella antigen were prepared from homologous S. enteritidis phage type 4 serotype. The enzyme substract reaction of the ELISA were determined by optical density reading (OD), then converted to ELISA unit based on the positive control. The somatic (O) antibody responses and anti-toksin antibody responses were detected from egg yolk of chicken immunized with killed whole cell antigen. Anti H:g,m flagella antibody responses could be detected earlier at 14 days affer immunization. From four types of the ELISAs developed, the H:g,m flagella antigen coating ELISA microplates demonstrated specific for detecting anti H:g,m flagella antibody responses from eggs yolk, whereas somatic (O) antigen coating ELISA microplates detected anti-somatic (O) antibody from eggs, produced from chicken injected with other Salmonella serotype of group D. From this study concluded, the use of H:g,m flagella for coating ELISA microplate could be used for differentiation Salmonellosis infection status due to the S. enteritidis or other group D Salmonella.

55.

Soeripto (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Soejoedono, R.D.; Murtini, S. (Fakultas Kedokteran Hewan IPB). Seroprevalensi swine enzootic pneumonia pada babi di Indonesia. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.950-955.

Abstrak

Penyakit mikoplasma pneumonia pada babi atau sering disebut swine enzootic pneumonia merupakan penyakit yang secara ekonomis merugikan industri peternakan babi. Enzootic pneumonia merupakan penyakit yang mudah menular. Morbiditas penyakit ini tinggi, tetapi mortalitasnya rendah kecuali disertai dengan penyakit sekunder. Gejala klinis penyakit ini yaitu batuk non produktif dan kondisi badan menurun atau tidak mencapai berat maksimal. Untuk mengetahui keberadaan penyakit ini telah dilakukan survai dengan mengalami serum dari peternakan babi dan rumah potong hewan babi di beberapa tempat di Indonesia antara lain dari daerah Jakarta, Solo, Surabaya, Bali, Pontianak dan Menado. Sebanyak 460 serum babi yang diperoleh diuji untuk menentukan adanya infeksi Mycoplasma pada babi di Indonesia dengan menggunakan ELISA Kit yang diperoleh dari IDEXX Laboratorium, USA. Hasil pengujian menunjukkan bahwa prevalensi infeksi mycoplasma pada babi di daerah Jakarta, Solo, Surabaya, Bali, Pontianak dan Manado masing-masing adalah 41,6; 31,2; 22,1; 32,5; 35,5 dan 56,5 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa dengan uji serologik infeksi Mycoplasma pneumonia sudah terjadi di Indonesia dan konfirmasi lebih lanjut harus dilakukan dengan isolasi organismenya. Sekalipun demikian, pencegahan dini perlu dilakukan dengan vaksinasi di daerah sumber ternak babi agar tidak menular ke daerah lainnya di Indonesia.

Abstract

Seroprevalence of Enzootic Pneumoniae of Pigs in Indonesia

Mycoplasma pneumonia of pig or Enzootic pneumonia is a disease that easily to spread out among the piggeries and caused economic losses in pig industries. Morbidity rate is high but mortality is low unless accompanied by a secondary infection or complicating infection. Clinical symptoms of the disease is manifested by non productive cough, poor health condition and decrease growth rate. To determine the existence of the disease in Indonesia, a survey was conducted in several areas such as in Jakarta, Solo, Surabaya, Bali, Pontianak and Manado. A number of 460 blood samples were collected from pig in pig abattoirs and pig farms. Serological test was done by ELISA using ELISA Kit obtained from IDEXX Laboratory, USA. The result showed that the prevalence of Mycoplasma infection in Jakarta, Solo, Surabaya, Bali, Pontianak and Manado was 41.6 ; 31.2; 22.1; 32.5; 35.5 and 56.5%, respectively. This result indicated that serologically Mycoplasma infection occurred in Indonesia, however further confirmation for this diseases should be confirmed by isolation of the Mycoplasma organism. A recommendation for vaccination should be given to all pigs in Central production pig areas to prevent the transmission of the disease.

BACTERIOLOGY; MEDICINAL PLANTS

56.

Poeloengan, Masniari; Noor, Susan Maphilindawati; Andriani (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efektivitas ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) terhadap Mastitis subklinis. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1015-1019.

Abstrak

Kandungan minyak atsiri daun siri (Piper betle Linn) dilaporkan mempunyai daya antibakteri. Pada penelitian ini ekstrak daun siri diuji efektivitasnya sebagai antibakteri terhadap mastitis subklinis. Secara in vitro ekstrak daun siri diuji efektivitasnya sebagai antibakteri dengan metode difusi kertas cakram pada 4 konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu : 50; 25; 12.5 dan 6,25 persen dengan bakteri uji yang diisolasi dari susu sapi penderita mastitis subklinis yaitu Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih mempunyai efektivitas sebagai antibakterial terhadap ketiga bakteri uji tersebut. Efektivitas ekstrak daun sirih secara in vivo dilakukan dengan cara pencelupan/dipping puting dari ambing sapi penderita mastitis subklinis. Parameter yang diamati berupa jumlah total mikroba dalam susu sebelum dan setelah perlakuan. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih efektif menurunkan jumlah kuman dalam susu sapi penderita mastitis subklinis.

Abstract

Efficacy of Piper betle Linn Toward Subclinical Mastitis

Piper betle Linn with volatile oil present in the plant has an antibacterial effect. In this study, the efficacy of Piper betle extract was determined toward subclinical mastitis. The in vitro study was done by diffusion disc method to Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis isolated from milk of mastitis suffered cows. The in vitro study showed that Piper betle leaves in concentration of 50; 25; 12.5 and 6.25% have an antibacterial effect for those bacteria. Whereas, the in vivo study was conducted by dipping the teat of mastitis suffered cows. The total number of bacteria in milk was measured before and after dipping. The result showed that Piper betle leaves have ability to reduce the number of bacteria in milk of mastitis suffered cows.

BACTERIOLOGY; ZOONOSES

57.

Andriani (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Escherichia coli 0157 H:7 sebagai penyebab penyakit zoonosis. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 : p.173-177.

Abstrak

Escherichia coli O157 H:7 adalah salah satu bakteri pathogen yang dapat menyebabkan gastroenteritis dengan gejala mulai diare ringan sampai hemolytic uremic syndrome, gagal ginjal dan kematian. Shiga toxin yang dihasilkan oleh Escherichia coli (STEC) adlah faktor virulen E.coli O157 H:7. Beberapa jenis bahan makanan dapat berperan sebagai sumber penularanpenyakit yang disebabkan oleh E. coli O157:H 7, dimana 52 persen bahan makanan tersebut adalah yang berasal dari ternak sapi. Kejadian outbreak penyakit pada manusia biasanya berhubungan dengan terjadinya kontaminasi E. coli O157 H:7 pada daging sapi. Penyebaran penyakit dapat terjadi secara zoonosis dari hewan (sapi) ke manusia, namun demikian dapat juga terjadi dari manusia ke manusia.

58.

Poeloengan, Masniari (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Komala, Iyep (Fakultas Peternakan IPB). Mewaspadai Leptospirosis di Indonesia sebagai penyakit zoonosis. Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 Spetember 2005 : p.154-160.

Abstract is unavailable

Abstrak tidak tersedia

59.

Poeloengan, Masniari; Komala, Iyep; Noor, Susan Maphilindawati (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Bahaya dan penanganan Tuberculosis. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 : p.207-215.

Abstract is unavailable

Abstrak tidak tersedia

60.

Poeloengan, Masniari; Komala, Iyep; Noor, Susan Maphilindawati (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Dalam: Bahaya Salmonella terhadap kesehatan. Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 Spetember 2005 : p.216-223.

Abstract is unavailable

Abstrak tidak tersedia

61.

Priadi, Adin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Infeksi Brucella suis sebagai penyakit zoonosis. Dalam: Prosiding Loakakrya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 : p. 186-196.

Abstrak

Brucellosis pada babi yang disebabkan oleh B. suis merupakan penyakit penting secara ekonomi amupun dari segi kesehatan masyarakat. Pada babi, infeksi Brucella suis menyebabkan orchitis pada babi pejantan, abortus pada induk babi dan pada manusia penyakit ini menyebabkan demam yang hilang timbul. Di Indonesia, brucellosis pada manusia yang disebabkan oleh B. suis telah dilaporkan dan merupakan penyakit yang timbul dad resiko pekerjaan. Dari basil survey serologis diperoleh persentase infeksi yang relatif tinggi pada pekerja di peternakan babi atau rumah potong babi di pulau Jawa. Dari data epidemiologis dan bakteriologis terlihat bahwa kasus pada manusia disebabkan oleh penanganan babi gang terinfeksi. Gejala klinis umumnya tidak menciri. Infeksi biasanya tidak dikenali dan tidak bergejala karena pekerja biasanya haws tetap aktif. Data serologi tahun 2002 dan 2003 rnemperlihatkan bahwa tingkat infeksi brucellosis pada babi di peternakan masih tinggi. Tingginya tingkat infeksi brucella pada babi ini harus menjadi perhatian serius karena penyakit ini berdampak ekonomis dan kesehatan manusia.

62.

Wahyuwardani, Sutiastuti (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Infeksi Mycobacterium Avium pada unggas dan penularannya pada manusia. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 : p.179-184.

Abstrak

Infeksi Mycobacterium avium pada unggas menyebabkan pcnyakit yang dikenal sebagai Avian Tuberculosis. Selain unggas, Mycobacterium avium dapat menginfeksi manusia, sebagian bcsar ternak serta mamalia. Mycobacterium avium dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan unggas yang teinfeksi, pakan dan air minum yang tercemar serta kontak dengan peralatan kandang yang tercemar. Infeksi biasanya bersifat kronis yang ditandai dengan gejala klinis yang tidak spesifik berupa, tubuh unggas yang kurus, letnah dan lesu. Pada pemcriksaan patologi anatomi ditemukan nodul-nodul yang berwarna putih, kekuningan atau abu-abu pada organ hati, limpa, paru-paru dan usus. Diagnosa ditegakkan berdasarkan lesi yang ditimbulkan diperkuat dengan isolasi dan identifikasi kuman penyebab. Manusia dapat tertular Mycobacterium avium melalui inhalasi atau saluran pencernaan. Infeksi pada manusia dewasa menyebabkan kelainan pada paru-paru serta dapat mengakibatkan kernatian terutama pada penderita AIDS, scdangkan pada anak-anak menyebabkan limfadenitis. Kasus infeksi Mycobacterium avium pada manusia mcningkat seiring dengan meningkatnya kasus tuberculosis pada penderita HIV atau pasien yang menerima terapi dcngan steroid.

MYCOLOGY

63.

Gholib, Djaenudin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Penyakit kulit oleh kapang Dermatofit (Ringworm) pada kelinci. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Potensi dan Pengembangan Usaha Kelinci. Bandung. 30 September 2005 : p. 176-179.

Abstrak

Pemeliharaan kelinci yang berubah kepada domestikasi berpeluang untuk terserang penyakit menular seperti infeksi kulit oleh cendawan dari jenis kapang dermatofit. Indonesia yang beriklim tropis amat cocok bagi perkembangan berbagai jenis cendawan termasuk kelompok kapang. Sehingga peternakan kelinci berpeluang terkena penyakit kulitoleh dermatofit. Penyakit ini akan merugikan, karena akibat dari kerusakan kulit dan bulu. Pengenalan penyakit, cara identifikasi agen penyebabnya, serta pencegahan dan pengobatannya diterangkan dalam pembahasan ini.

64.

Gholib, Djaenudin; Arifin, Zainal (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Nurmarlina (Universitas Islam As-Syafi'iyah, Jakarta). Populasi kapang pada sampel jagung pipil dan giling yang diambil dari tiga pasar burung di Jakarta. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1032-1035.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan populasi kapang pada sampel jagung pipil dan giling yang diambil dari 3 pasar burung dengan lokasi yang berbeda, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Hasil pemeriksaan digunakan sebagai dasar untuk melihat adanya perbedaan antara bentuk dan lokasi asal oengambilan sampel terhadap populasi dan jenis kapang yang mencemari. Cara peneneman sempel menggunakan metoda pengenceran seri (kelipatan 10). Hasilnya menunjukkan bahwa kapang yang tumbuh sebagian besar adalah dari jenis Aspergillus sp. ( 80 persen), diikuti Penicillium sp.(7 persen), sedangkan yang lainnya dalam persentase yang rendah, yaitu Fusarium, Rhizopus, Mucor dan Miselia sterilia. Aspergillus terdiri dari A.flavus, A.niger, A.glaucus dan A. amstelodami. Dari perhitungan jumlah koloni kapang per gram sampel, hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan nyata antara jagung pipil dan giling ( P 0.05 persen), dan juga antara ketiga lokasi pengambilan sampel, kecuali daerah Jakarta Pusat menunjukkan populasi paling tinggi dan berbeda nyata ( P 0.05) dibandingkan dengan dua lokasi lainya. Demikian juga dengan uji interaksi antara bentuk sampel dan lokasi asal sampel, Jakarta Pusat menunjukkan yang tertinggi populasinya.

Abstract

Mould Population in Samples of Unground and Ground Corn Collected from Three Bird Markets in Jakarta

The aim of the research was to detect mould population in samples of unground and ground corns collected from 3 bird markets at South, Centre and East Jakarta. The results of examination was used as standard to see the present of the differences between types and locations of collected samples, and population of moulds which contaminated the samples. The samples were inoculated by means of serial dilutions (10 x). The results showed that moulds which were grown was dominated by Aspergillus sp.(>80%), followed by Penicillium sp.(7%), while the other moulds with lower percentage were represented by Fusarium sp., Rhizopus sp., Mucor sp. and Miselia sterilia. The aspergillus consisted of A. flavus, A. niger, A. glaucus and A. amstelodami. There was no significant different in colonies number of moulds in unground and ground corn samples (P>0,05 ), and also among 3 collected sample locations, except Centre Jakarta, showed the highest population, and gave significant difference (P<0,05) compared to other 2 locations, Centre Jakarta showed the highest population.

65.

Kusumaningtyas, Eni; Widiastuti, Raphaela; Istiana; Maryam, Romsyah; Tarmudji (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Viabilitas Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oligosporus dan campurannya dalam tepung beras. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1117- 1122.

Abstrak

Saccharomyces cerevisiae (Sc) dan Rhizopus oligosporus (Ro) dapat digunakan sebagai probiotik dan dapat menurunkan kontaminasi aflatoksin pada pakan. Tepung beras di[akai sebagai media untuk memudahkan da;am [enggunaannya. Untuk itu perlu diketahui viabilitas Sc, Ro dan ScRo dalam tepung beras tersebut Sc Ro dan campuran ScRo sebanyak 10 ml yang berisi 10 pangkat 6 sel/spora pel ml masing-masing diinokulasikan ke dalam 250 g tepung beras dan diinkubasi dalam suhu 20 deg C selama lima hari. Setelah lima hari, campuran diinkubasi pada suhu 40 deg C selama 24 jam. Tepung beras yang sudah mengandung inokulum disimpan pada suhu 28 deg C dan 4 deg C sampel diambil pada hari ke 0, 15, 30 dan 60 untuk uji viabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulum Sc, Ro dan ScRo dengan penyimpan pada suhu 28 deg C dapat tumbuh hingga dua bulan tetapi jumlah sel atau spora mulai menurun setekah umur satu bulan. Penyimpanan pada suhu 4 deg C menunjukkan bahea inokulum masih mampu untuk berkembang sampai dua bulan.

Abstract

Viability of Saccharomyces cerevisiae, Rhizopus oligosporus and Their Mixture in Rice Powder

Saccharomyces cerevisiae (Sc) and Rhizopus oligosporus (Ro) are commonly used as probiotic and are able to decrease aflatoxins contamination in feed. It is important to study the viability of Sc, Ro in rice powder as a media in order to make them applicable. Ten ml suspension containing 106 spores/cells/ ml of Sc, Ro or ScRo was inoculated in rice powder and incubated at 28oC for 5 days. After 5 days, the mixtures were incubated at 40oC for 24 h. Rice powder containing inocula were preserved at 28oC and 4oC. Samples were collected at day 0, 15, 30, 60 for viability assay. The results showed that Sc, Ro and ScRo were able to grow at 28oC until 2 months but cells or spores decreased after 1 month. Meanwhile, the inocula were still able to grow well up to 2 months at 4oC.

MYCOLOGY; PARASITOLOGY

66.

Ahmad, Riza Zainuddin; Beriajaya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Daya reduksi kapang Arthrobotrys oligospora terhadap larva Haemonchus contortus di padang gembalaan. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.995-1000.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya reduksi pemberian konidia Arthrobotrys oligospora terhadap larva infektif cacing Haemonchus contortus secara langsung dalam tinja yang disebabkan dalam petak rumput. Pada penelitian ini domba yang sudah terinfeksi cacing H.contortus diambil tinjanya, kemudian dicampur dengan konidia A. oligospora yang disebar ke dalam petak rumput. Setelah satu minggu, rumput dalam petak diambil dan diproses untuk mendapatkan larva H. contortus dan dihitung. Hasil penelitian nenunjukkan bahwa pemberian 6 x 10 pangkat 6 konidia A. oligospora, yang diberikan secara langsung dicampur tinja menyebabkan penurunan jumlah larva dalam petak rumput mendekati nilai beda nyata ( P= 0.076) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil ini menyimpulkan bahwa kapang A. oligospora dapat digunakan secara langsung untuk mengurangi pencemaran padang gembalaan oleh larva cacing nematoda saluran pencernaan.

Abstract

The Reduction of Arthrobortys oligospora Mould to Haemonchus contortus Larvae in Grass Plot

The purpose of this study was to determine the reduction capacity of fungi Arthrobotrys oligospora against infective larvae of Haemonchus contortus directly in faeces distributed on grass plots. In the trial faeces from sheep infected with H. contortus was collected and mixed with spores of A. oligospora; distributed on grass plots. One week after that, grass was collected and larvae recovered from grass were counted. The results showed that 6 x 106 spore of A oligospora given directly in the sheep faeces caused the decrease of larvae of H. contortus on grass plots near significantly (p = 0,076) compared to there in the control group. Conclusion of this study is A. oligospora can be directly used to decrease the contamination of gastro-intestinal nematode larvae on grass.

PARASITOLOGY

67.

Haryuningtyas, Dyah (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Artama, W.T.; Asmara, Widya (PAU Bioteknologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta). Optimasi Polymerase Chain Reaction gen tubulin isotipe-1 cacing Haemonchus contortus isoalt lokal Indonesia. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.963-967.

Abstract

Polymerase Chain Reaction Optmatization on Tubulin β Isotipe-1 Gene

Haemonchus contortus Worm Indonesian Isolate

Resistance to antelminthic especially benzimidazoles groups on Haemonchus contortus is a serious problem need to handle immediately. Studi on H. contortus showed that genetics mechanism to benzimidazoles resistance related to changed on tubulin isotipe-1 gene. The aim of this research is to get optimatization tubulin isotipe-1 gene fagment. Seven H. contortus worms were isolated from four sheep from two government farms that resistance to benzimidazole have been occurred (SPTD Trijaya, Kuningan, West Java and UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan, Bantul, Yogyakarta) and one sheep that susceptible from Cicurug, Sukabumi, West Java. DNA was extracted from each worm and a fragment of central part isotype1 - tubulin gene was amplified using 2 pairs of primer Pn1, Pn2 and Phc1,Phc2, forward and reverse respectively. The results showed that the Pn1,Pn2 primer cannot amplified tubulin isotipe-1 gene. PCR using Phc1 and Phc2 amplified 520 bp fragment from that gene. PCR was performed for 36 cycles and the program are same to all isolate. The first denaturation step at 95oC for 5 minutes (1 cycle) follow with 95oC denaturation for 2 minutes, hibridisation at 58oC for 40 second and extension 72oC for 1 minutes (36 cycle). The final extension for 7 minutes at 72oC.

Abstrak

Kasus resistensi terhadap antelmentika golongan benzimidazole pada H.contortus merupakan problem serius yang perlu segera ditanggulangi. Studi pada nematoda gastrointestinal ini menunjukkan bahwa mekanisme genetik terjadinya resistensi terhadap benzimidazole berhubungan dengan perubahan pada gen tubulin B isotipe-1. Penelitian ini bertujuan mencari optimasi untuk mengaplifikasi fragmen gen tubulin B isotipe-1. Tujuh sampel cacing H.contortus berasal dari 4 ekor domba dari peternakan milik pemerintah yang telah diketahui terjadi resistensi terhadap benzimidazole yaitu SPTD Trijaya, Kuningan , Jawa Barat dan UPTD Pelayanan Kesehatan Hewan, Bantul, Yogyakarta serta 1 ekor domba dari peternakan di Cicurug, Bogor Jawa Barat sebagai kontrol. Masing-masing sampel cacing tersebut selanjutnya diisolasi DNAnya dan diamplifikasi menggunakan dua pasang primer ( forward dan reverse) yaitu Pn1, Pn2 dan Phc1, Phc2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa primer Pn1 dan Pn2 tidak dapat mengamplifikasi fragmen gen tubulin B isotipe-1. Polymerase Chain Reaction dengan primer Phc1-Phc2 diperoleh hasil amplifikasi fragmen gen tersebut sebasar 520 bp dengan optimasi yang sama untuk semua isolat yaitu terdiri dari denaturasi 95 der.C selama 5 menit sebanyak 1 siklus, diikuti denaturasi 95 der.C selama 2 menit, hibridisasi pada suhu 58 der.C selama 40 detik dan annealing pada 72 der.C selama 1 menit sebanyak 36 siklus. Annealing terakhir pada 72 der.C selama 7 menit.

68.

Iskandar, Tolibin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pengaruh pemberian vitamin A terhadap nilai perlakuan sekum waktu sporulasi dan produksi ookista Eimeria tenella pada ayam Arab. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1041-1047.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui efek pemberian vitamin A dengan dosis 25.000 IU yang pemberiannya setelah diberi Coxalin pada ayam Arab yang diinokulsi oleh Eimeria tenella. Empat puluh lima ekor ayam Arab jantan dibagi tiga kelompok yaitu K1, K2, dan K3. Semua hewan percobaan diinokulasi masing-masing 10.000 ookista E.tenella pada ayam umur 4 minggu yang bebas koksidia. Ayam-ayam K1 diberi ookista dan ayama-ayam K2 diberi ookista dan Coxalin sedangkan ayam-ayam K3 diberi ookista dan Coxalin juga + vitamin A 25.000 IU. Hasil pengamatan pada skor kerusakan sekum sangat berbeda antara yang diberi Coxalin + vitamin A dengan kelompok yang lainnya (P 0.01). Demikian pula jumlah produksi ookista berbeda nyata antara K3 dengan K1 dan K2 (P 0.05). Pada penelitian ini waktu sporulasi E.tenella adalah 20 jam.

Abstract

The Effect of Vitamin A on Caecum Lesion Score Sporulation Time and

Oocyst Production of Eimeria tenella on Arab Chicken

The aim of this experiment was identifield the effects of 25.000 IU Vitamin A mixed with Coxalin on Arab chickens that inoculated by Eimeria tenella. Forty five male Arab chickens were used as experimental animals and were divided into three groups (K1, K2, and K3). All of the animals were inoculated by 10.000 oocyst of four weeks old E. tenella. The control was K1, K2 was treated with Coxalin, and K3 was treated with Coxalin + 25.000 IU Vitamin A. The result of the experiment showed that caecum lesion score and oocyst production of E. tenella were decrease (P<0,01) by treated with Coxalin and or mixed with 25.000 IU of Vitamin A. However, the oocyst production on K2 and K3 were significant different (P<0,05). In this research it was indentitified that the average sporulation of the E. tenella is 20 hours.

69.

Iskandar, Tolibin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Tinjauan skistosomiasis pada hewan dan manusia di lembah Napu, lembah Besoa dan lembah Danau Lindu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005: p.228-234.

Abstrak

Skistosomiasis merupakan penyait prasite yang bersifat zoonosis, disebabkan oleh investasi cacing Schistosoma japonicum ditemukan di 3 daerah terpencil yaitu lembah Napu, lembah Besoa dan lembah Danau Lindu. Siput sebagai pejamu perantara sdangkan hewan sebagai pejamu yang bersifat reservoir yaitu rusa, sapi,kerbau, domba,babi, anjing,tikus dan celurut. Masalah kesehatan yang dihadapi pemerintah di Propinsi Sulawesi Tengah sejak lama, untuk menanggulangi penyakit ini dengan melihat aspek biologi, dinamika transmisi, aspek klinik, dan pengobatan masal menggunakan praziquantel. Walaupun sudah diadakan pengendalian secara intensif dimulai tahun 1980, tetapi penularan skistosomiasis masih terus berlangsung untuk itu, perlu dirancang suatu oendekatan baru untuk menanggulangu penyakit tersebut.

70.

Iskandar, Tolibin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Masalah koksidiosis pada kelinci serta penanggulangannya. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Potensi dan Pengembangan Usaha Kelinci. Bandung. 30 September 2005 : p.180-188.

Abstrak

Dari tahun ke tahun di masyrakat terjadi kecenderungan untuk mengurangi konsumsi produk-produk hewan. Hal ini karena masyrakat ketakutan akan lemak dan kolesterol. Kelinci merupakan salah satu komoditi peternakan yang potensi sebagai penyedia daging. Kelinci juga mempunyai kualitas daging yang baik dengan kadar protein tinggi (20,8 persen), namun kadar lemak rendah (10,2 persen) dan kolesterol rendah dibanding daging ternak lain. Selain itu kelinci juga sebagai hewan percobaan. Salah satu kendala beternak kelinci yaitu penyakit koksidiosis, merupakan penyakit yang menyerang kelinci terutama umur muda (5-8 minggu) sedang kelinci dewasa cenderung karier.

71.

Iskandar, Tolibin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Pencegahan Toksoplasmosis melalui pola makan dan cara hidup sehat. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005:. p. 235-241.

Abstrak

Toksoplasmosis adalah penyakit menular zoonotik yang disebabkan Toxoplasma gondii, dilaporkan bersifat endemik di hampir seluruh kepulauan di Indonesia. Angka prevalensi penyakit pada domba berkisar 8-84 persen, kambing 21-67 persen, kucing 10-49 persen, babi 24-38 persen, sapi 24-41 persen, kerbau 14-32 persen, ayam 16-34 persen, itik 6 persen, anjing 10-18 persen dan manusia 14-82 persen. Penyakit ini dapat menyebabkan gejala abortus, kelhiran prematur, ensefalitis pada janin dan mumifikasi pada kambing dan domba. Penyakit ini dapat menyebabkan keguguran pada wanita hamil. Makalah ini membahas mengenai distribusi, angka prevalensi, siklus hidup, cara penularan, gejala klinis, pencegahan toksoplasmosis melalui pola amkan dan hidup sehat dan pengobatannya.

72.

Iskandar, Tolibin; Subekti, Didik Tulus; Suhardono (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Isolasi antigen sistisekrosis pada babi dan sapi. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.989-994.

Abstrak

Penyakit taeniasis dan sistisekrosis penyakit yang bersifat zoonosis di Indonesia mempunyai daerah penyebaran geografis yang terbatas lokasinya seperti Papua, Sumatera Utara (Samosir), Bali, Lampung, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Penyakit tersebut disebabkan oleh cacing pita dari genus Taenia spp yaitu Taenia solium dan T.Saginata yang menyerang babi, sapi dan manusia. Ternak babi yang dipelihara secara ektensif pada masyrakat yang sanitasinya jelek dan kurang memadainya pemeriksaan daging dari hewan yang dipotong oleh petugas, maka perlu isolasi dan perbanyakan antigen untuk pengembangan deteksi penyakit ini secara uji serologi. Telah diperiksa otot lidah, otot masseter, otot sapi Bali pada tanggal 7 s/d 9 Oktober 2004 di Bali. Hasil pemeriksaan dari semua hewan di atas tidak menemukan sistiserkus. Dilakukan inokulasi dengan telur cacing pita asal manusia pada 4 ekor babi lokal dengan dosis 10.000 telur per ekor setelah dilakukan pemeriksaan antara 5-10 bulan pasca inokulasi telur hasilnya negatif terhadap sistiserkosis.

Abstract

Isolation Cysticercosis Antigen Form Pig and Cow

Taeniasis and cysticercosic are zoonotic diseases. These diseases had certain geographic distribution areas in Indonesia, there are; Papua, North Sumatra (Samosir), Bali, Lampung, West Sumatra, South Sulawesi, and Nusa Tenggara Timur. Taeniasis and cysticercosic are caused by tapeworms from Taenia sp. T. solium and T. saginata that also attack pigs, cows and human. Pigs that raise extensively with bad sanitation, and had less meat examination from veterinarian will need isolation and multiply antigen in order to detect the disease. One of the ways to identify the disease is doing a serologic test. The examination of animals from slaughter hause of Denpasar, Bali; 69 Landrace pigs and 36 Bali cows are resulted negative. The inoculation of eggs of Taeniasis sp from human to 4 local pigs with dosage of 10,000 egg each animals has been done and the result is negative to cysticercosis.

73.

Martindah, Eny; Suhardono (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Aplikasi pendekatan partisipatif untuk meningkatkan adopsi pengendalian Fasciolosis secara strategis pada sapi. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1123- 1130.

Abstrak

Fasciolosis telah menyebar luas di Indonesia, dan merupakan penyakit parasiter yang penting pada sapi terutama yang dipelihara di sekitar lahan sawah irigasi. Gejala klinis penyakit ini tidak nampak jelas (subklinis), sehingga penyuluh maupun peternak kurang menyadari ketika ternak terserang fasciolosis. Upaya untuk mengenalkan pengendalian fasciolosis secara strategis telah dilakukan melalui pendekatan model alih teknologi (transfer of technology/TOT model) dengan menggunakan berbagai merode penyuluhan seperti media elektronik (kaset/radio) dan cetak (liflet, poster) juga pertemuan kelompok. Pendekatan dengan TOT dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan peternak tentang penyakit fasciolosis. Namun 4 tahun kemdian, ternyata praktek pengendalian fasciolosis tidak berkelanjutan. Pertukaran informasi dengan cara tersebut ditandai dengan pendekatan top-down, dimana peternak kurang merasa berkepenringan (memiliki) terhadao orogram itu sendiri dan proses pembelanjaran pun tidak terjadi. Karena TOT kurang efektif, maka pendekatan secara partisipatif, yaitu partisipasi dalam melakukan suatu tindakan biasa dikenal dengan metodologi Partisipatory Action Research (PAR), diusulkan.

Abstract

The Application of Participative Approaches to Enhance Adoption of Fasciolosis Control Strategies in Cattle

Fasciolosis is widespread and a significant problem in cattle raised in rice growing areas of Indonesia. Its effect is usually sub-clinical, so it remains largely unrecognised by farmers and extensionist. Initial attempts to promote the fasciolosis control strategies through Transfer of Technology (TOT) model using several methods of extension such as print (leaflets, poster), electronic media (cassette, radio) as well as farmer meetings achieved increased awareness, but little lasting change in farmer practices was evident 4 years later. The exchange information in this model was characterised as a top-down approach. It was decreased farmers’ sense of ownership of the program itself and learning did not take place. In light of ineffectiveness of TOT, Participatory Action Research (PAR) is proposed. This paper reports on the process and early promising results from an initiative to trial a Participatory Action Research (PAR) methodology in 4 farmer groups in Yogyakarta Special Province. This approach is to promote an extension process whose outcome is effective, sustainable fasciolosis control in Yogyakarta Special Province. In Participatory Action Research, groups of farmers, extension agents and researcher work closely in a cooperative and flexible process, to resolve commonly identified problematic issue. The Participatory Action Research approach appears to have considerable potential for stimulating the adoption of fasciolosis control strategies in cattle as recommended.

74.

Suhardono; Manurung, J. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Batubara, Aron P. (Loka Penelitian Pengembangan Kambing, Sei Putih, Sumatera Utara); Wasito (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara); Harahap, Hasnan (Dinas Peternakan dan Kehewanan, Deli Serdang, Sumatera Utara). Pengendalian penyakit kudis pada kambing di Kabupaten Deli Serdang. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1001-1014.

Abstrak

Masalah kudis pada kambing umumnya terlihat pada musim kemarau dan yang digembalakan. Penyakit ini mengakibatkan rendahnya harga jual ternak penderita, kematian.dan dapat menular ke manusia. Hasil penelitian di Balai Penelitian Veteriner (BALITVET) Bogor, oli bekas dan belerang dapat mengobati kudis. Bahan-bahan ini lebih murah, mudah didapat dan pengobatannya dapat dilakukan sendiri oleh para peternak dibandingkan dengan obat scabies paten. Karena itu obat murah ini perlu didiseminasikan ke peternak untuk melihat potensinya di lapang dan sekaligus melihat daya serap peternak terhadap teknologi yang diperkenalkan. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kehewanan Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ada tiga kelompok peternak yang dilibatkan dalam kegiatan ini, yaitu Kelompok I diberikan 3 kali penyuluhan (pengenalan dan pengendalian) penyakit kudis, praktek pembuatan obat murah dan pengobatan kudis. Perwakilan kelompok berkunjung ke intansi pemerintah yang memiliki fasilitas untuk pengembangan kambing. Kelompok II, diberikan penyuluhan penyakit kudis 3 kali, memperkenalkan dan memberi obat anti kudis. Kelompok III, diberikan sekali penyuluhan tanpa diberi obat kudis. Daya serap alih teknologi ini diketahui dari hasil uji praktek pengobatan kudis, berkurangnya kasus kudis pada kambing di kelompok peternak hingga pertengahan Desember 2004 dan tanggapan Dinas Peternakan setempat terhadap kegiatan ini. Tingkat kejadian skabies di 3 kelompok sebelum kegiatan alih teknologi bervariasi antara 12,5–20%. Potensi oli dan belerang secara klinis cukup efektif mengontrol kudis seperti obat paten (ivermectine dan coumaphos), namun salep belerang kurang disukai karena menimbulkan ketombe. Serapan teknologi oleh peternak ternyata lebih baik pada kelompok I dan II (kasus kudis menjadi0%) dibandingkan dengan kelompok III (kasus kudis tidak berkurang). Dinas Peternakan setempat akan meneruskan kegiatan ini di seluruh tempat di kabupaten Deli Serdang dengan cara akan mengusahakan biaya 40% dan sisanya swadaya masyarakat.

Abstract

Control of Scabies in Goats in The District of Deli Serdang

Scabies is common occurence amongst goast especially during the dry season. The disease beside reduces the price of infected animal, also cause dead and infects human. These constraints inhibit the development of goat population in Indonesia. Result of study on traditional remedies against scabies, namely used engine oil 50 persen and sulphur ointment 2.5 persen effective controlling scabies. Transfer of technology for controling scabies. Transfer of technology for controllinf scabies by using such remedies besides to confirm the effectiveness of the remedies compared with industrial acaricides (ivermectine and coumaphos) at the field situations is also the effectiveness of the remedies compared with industrial of the technology into farmers. This transfer of technology was undertaken in the province of North Sumatera, district of Deli Serdang and the result was that there were no different in effectiveness of those traditional remedies compared with industrial acaricides applied at a recommended dose. However, farmers did not like using sulphur ointment due to emergence applied at a recommended dose. However, farmers practice, transfer technology was more effective that by once extension service. Furthermore, the livestock services at Deli Serdang is very keen to spread and containue this program by supporting 40 persen of fund and the rest (60 persen) shall be provided by farmers.

75.

Wardhana, April H.; Muharsini, Sri (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kasus Myasis yang disebabkan oleh Chrysomya bezziana di Pulau Jawa. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1078-1084.

Abstrak

Koleksi larva Chrysomya bezziana dan kasus myasis di Pulau Jawa dilakukan di Kediri, Blitar, Jember, Klaten, Gunung Kidul dan Pulau Madura. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat peta genetik populasi C. bezziana di Indonesia dan untuk mengetahui dinamika kasus myasis di peternakan rakyat di daerah Kabupaten Kediri. Larva dalam berbagai stadium (instar I, II dan III) dikoleksi dari luka myasis secara manual kemudian dimasukkan ke dalam etanol absolut 80%. Larva yang telah diidentifikasi selanjutnya disimpan pada suhu -20% untuk analisis molekuler. Pemantauan kasus myasis pada peternakan rakyat dilakukan dari tahun 2002–2004 dan bekerjasama dengan pos-pos Kesehatan Hewan Dinas Peternakan di enam kecamatan di Kabupaten Kediri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebab utama penyakit myasis di Pulau Jawa adalah larva C. bezziana. Larva-larva tersebut berhasil dikoleksi dari 14 ekor sapi potong, 4 sapi perah, 5 ekor pedet, 8 ekor kambing dan 1 ekor domba. Kasus myasis di Kabupaten Kediri cenderung meningkat dari tahun ke tahun, yaitu sebanyak 47 kasus pada tahun 2002, 63 kasus pada tahun 2003 (25,4%) dan 89 kasus pada 2004 (47,2%). Kasus myasis sering terjadi pada induk pasca partus yang ditandai dengan myasis vulva (40,70%) disertai myasis umbilikus pada anaknya (27,64%). Myasis lainnya diketahui sebagai akibat luka traumatik, yaitu di leher (6,53%); kaki (6,03%); teracak (5,03%); moncong (5,03%); ekor (3,02); preputium (2,01%) dan tanduk (2,01%). Sebanyak 0,5% luka traumatik terjadi di bagian kornea (mata), ambing, paha dan testis. Bulan Agustus hingga April tercatat sebagai bulan dengan angka kasus myasis tertinggi di Kediri sepanjang tahun 2002–2004. Tingginya kasus myasis di kediri cukup menarik karena terjadi pada ternak-ternak yang dipelihara secara intensif oleh penduduk sehingga berbeda dengan kasus lainnya yang banyak dilaporkan pada ternak-ternak yang dipelihara secara ekstensif, seperti di Sulawesi Selatan dan Sumba Timur.

Abstract

Myiasis Cases Caused by Chrysomya bezziana in Java Island

Larval and myasis cases collection in Java island was carried out in Kediri, Blitar, Jember, Klaten, Gunung Kidul and Madura island. The aim of this research was to make a genetic mapping of Chrysomya bezziana population (molecular work) including to know a cases dynamic of myiasis at traditional livestock in Kediri regency. Larval instars I, II and III were manually collected from myiasis wound and preserved in 80% ethanol p.a. Larval was identified and storage in –20°C. Dynamic study of myiasis cases was conducted from year 2002–2004 and collaborated with local veterinary services (POSKESWAN) in six districts in Kediri regency. The result showed that the agent of myiasis in Java Island is a Chrysomya bezziana larval. Those larvae were collected from 14 cattle, 4 diary, 5 calves, 8 goats, and 1 sheep. The myiasis cases are Kediri regency tends to increase e.g. 47 cases in year 2002, 63 cases in year 2003 (25.4%) and 89 cases in year 2004 (47.5%). The myiasis cases mostly occurred on cattle after partus with vulva myiasis (40.70%) following by umbilical myiasis in calf (27.64%). The other cases are caused by traumatic wound such as on neck (6.53%), leg (6.03%), hoof (5.03%), muzzle (5.03%), tail (3.02%), preputium (2.01%) and horn (2.01%). The numbers 0.5% of traumatic wound were found on cornea, mammal, tight and testical. The highest of myaisis cases occurred on August until April in Kediri regency during year 2002–2004. Those cases are interesting, because the livestock was reared intensively which was different with other cases on extensive farm in both South Sulawesi and East Sumba.

76.

Wardhana, April H.; Sukarsih (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Urech, R.; Green, P.E. (Queensland Department of Primary Industries, Animal Research Institute. Australia). Modifikasi Swormlure (SL2) untuk meningkatkan daya pikat terhadap lalat Old World Screw-worm, Chrysomya bezziana. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1097-1104.

Abstrak

Lalat Old world screw-worm, Chrysomya bezziana (OWS) adalah parasit obligat bagi hewan berdarah panas termasuk manusia. Swormlure-2 (SL2) merupakan pemikat sintetik yang dikembangkan untuk menangkap lalat Cochliomyia hominivorax dan dapat juga digunakan untuk lalat C. bezziana meskipun kurang efektif. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan daya pikat SL2 terhadap lalat C. Bezziana dengan cara memodifikasi komponen-komponen kimia penyusunnya. Dua bioassay dilakukan pada penelitian ini, untuk mengevaluasi respon lalat C. beziana terhadap beberapa formula pemikat yang telah dimodifikasi, yaitu uji pemikat pada sangkar (cage assay) menggunakan perangkap botol (jar trap) dan uji pada kondisi semi lapang (room assay) menggunakan perangkap perekat (sticky sheet trap). Uji sangkar dilakukan untuk mengetahui jumlah lalat yang masuk ke dalam perangkat botol dan menggunakan 2400 ekor lalat yang terbagi menjadi 12 ulangan. Uji semi lapang ditujukan untuk mengukur respon 2100 ekor lalat yang masuk ke dalam perangkat perekat, setelah dilepas di dalam ruangan. Lalat yang masuk ke dalam perangkap merupakan data respon lalat terhadap formula yang diuji. Data-data tersebut ditransformasikan ke dalam akar kwadrat + 0,5; selanjutnya di analisis dengan uji T (5%). Modifikasi formula pemikat SL2 dilakukan dengan cara menghilangkan atau mengganti konsentrasi komponen kimianya atau menambahkan dengan komponen kimia yang baru. Penghilangan semua komponen aromatik dari formula SL2 (fenol, kresol dan asam benzoik) tidak menurunkan respon lalat secara nyata pada uji sangkar (P>0,05), sebaliknya penghilangan semua komponen asam (asam asetat, asam butirat, asam valerat dan asam bensoik) menyebabkan respon lalat menurun lebih dari 90% dibandingkan dengan pemikat SL2. Penghilangan dimetil disulfida (DMDS) hanya menurunkan respon lalat sebesar 25-50% tetapi pengurangan konsentrasi DMDS hingga 10% tidak berbeda nyata dengan SL2 (P>0,05). Penambahan komponen baru, yaitu dimetil trisulfida (DMTS) mampu meningkatkan respon lalat pada uji sangkar. Hasil uji semi lapang menunjukkan bahwa terdapat dua formula pemikat yang mempunyai daya pikat lebih tinggi daripada SL2, yaitu formula dengan konsentrasi DMDS yang rendah dengan ditambah DMTS dan formula SL2 yang dihilangkan semua komponen aromatiknya. Kedua formula tersebut tidak hanya mempunyai daya pikat lebih tinggi tetapi juga kandungan komponen kimia penyusunnya lebih sedikit dibandingkan dengan SL2 dan secara ekonomis lebih murah. Daya pikat kedua formula ini terhadap C. bezziana akan dikonfirmasi dengan cara diuji di lapang.

Abstract

Modification of Swormlure (SL2) to Improve Its Attractiveness to

The Old World Screw-worm Fly, Chrysomya bezzziana

The Old World screw-worm fly, Chrysomya bezziana (OWS), is an obligate parasite of warm-blooded animals including human. Swormlure (SL2), a synthetic attractant developed for the New World screw-worm fly, Cochliomyia hominivorax, is also used to attract the OWS. The objective of this study was to develop a better attractant for C. bezziana. Two bioassays were developed to evaluate OWS responses to various attractant mixtures: The cage assay determined the numbers of flies in a cage entering through a cone into one of two glass jars containing attractants, using 2400 flies for 12 replicates. The room assay measured the responses of a total of 2100 flies moving freely in an insect-proof room to attractants and traps. The jar/trap catches were transformed (square root) and analyzed by one-way ANOVA (cage assay) and a T-test for paired samples (room assay). Modifications to SL2 included the removal, or changing concentrations, of existing components and the addition of new components. The omission of all aromatic components (phenol, cresol, benzoic acid) from SL2 did not significantly reduce the response of C. bezziana in the cage assay (P>0.05). On the other hand, removing all acids (acetic acid, butyric acid, valeric acid and benzoic acid) from SL2 resulted in loss of over 90% of the response to SL2. Removal of dimethyl disulfide (DMDS) reduced the SL2 attractancy by 25-50%, however a reduction of the DMDS concentration to 10% did not alter the response (P>0.05). The inclusion of dimethyl trisulfide (DMTS) also increased the response in the cage assay. Several attractant mixtures were tested in the room assay using sticky traps. Two modified mixtures were more attractive than SL2, both with lower DMDS concentration and including DMTS, and one mixture lacking all aromatic compounds. These mixtures were not only more attractive than SL2 to OWS, but they also contain fewer components and are cheaper to produce. These mixtures were subsequently tested in field trials and their improved OWS attractancy confirmed.

PARASITOLOGY; BACTERIOLOGY

77.

Muharsini, Sri; Wardhana, April H. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Uji efikasi isolat lokal Bacillus thuringiensis yang mempunyai gen cry terhadap lalat Chrysomya bezziana secara in vitro. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1131- 1136.

Abstrak

Bacillus thuringiensis adalah bakteri berbentuk batang yang mampu menghasilkan protein kristal toksik yang diharapkan dapat digunakan sebagai kontrol biologis terhadap parasit. Tujuan penelitian adalah menguji secara in vitro isolat-isolat lokal Bacillus thuringiensis yang telah dikoleksi dari daerah Jawa Barat, Yogyakarta dan Sulawesi Selatan yang mempunyai gen cry untuk kontrol lalat Chrysomya bezziana. Sebanyak 83 isolat telah diisolasi protein kristalnya dengan menggunakan medium T3 dan diuji secara in vitro dengan dua metoda yang berbeda. Hasil uji menunjukkan bahwa tujuh isolat (I4, 108.3, 177.42, 31R, 31S, 104.3A dan 104.4B) mempunyai toksisitas tinggi, sepuluh isolat (31B, 31L, 31M, 31N, 31O, 31Q, 31T, 103.3A, 187.33 dan 227.41) mempunyai toksisitas moderat dan sisanya 66 isolat tidak patogen. Isolat-isolat yang patogen dan moderat tersebut berasal dari Kabupaten Bogor, Sukabumi, Majalengka, Sidedeng Rappang dan DI Yogyakarta. Perlu dilakukan skrening terhadap isolat yang paling patogen untuk dipilih pada waktu uji in vivo. Uji secara in vivo perlu dilakukan untuk tahap penelitian selanjutnya.

Abstract

In Vitro Trial of Local Isolates of Bacillus Thuringiensis which Contain Cry Gene Against Chrysomya Bezziana

Bacillus thuringiensis is a species of bacteria which produces toxic crystal protein and has potential use for biological control of parasite. The aim of the study is to test in vitro of sisolates have been collected from West Java, Yogyakarta and South Sulawesi for control of myiasis fly, Chrysomya bezziana. Eighty three isolate have been tested in vitro. The results showed that seven isolates ( 14,108.3, 177.42, 31R, 31S, 104.3A and 104.4B) have high toxicity, while ten isolates (31B, 31L, 31M, 31N, 31O, 31T, 103.3A, 187.33 and 227.41) have moderate toxicity and 66 isolates have no toxicity. Those pathogen and moderate isolates were collected from Bogor, Sukabumi, Majalengka, Sidedeng Rappang and DI. Yogyakarta. However, more screening are needed to choose the most pathigen isolate for in vino trial. In vivo trial is needed fro further experiment.

PARASITOLOGY; MEDICINAL PLANTS

78.

Beriajaya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Hadiwirawan, Eko (PUSLITBANGNAK, Bogor). Efikasi serbuk daun nanas terhadap infeksi cacing saluran pencernaan pada domba di stasiun pembibitan domba Nanggung Bogor. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.973-978.

Abstrak

Cacing nematoda saluran pencernaan sering menyerang ternak domba terutama yang digembalakan. Pemberian obat cacing yang terus menerus menyebabkan resistensi obat dan residu dalam jaringan tubuh hewan. Salah satu alternatif pengobatan adalah dengan menggunakan obat cacing berasal dari ekstrak daun nanas (Ananas comosus). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efikasi ekstraksi air serbuk daun nanas terhadap infeksi cacing saluran pencernaan pada domba. Potongan daun nanas dianginkan dan setelah kering dibuat serbuk. Penelitian ini dilakukan di Stasiun Pembibitan Domba, Nanggung, Kabupaten Bogor. Sebanyak 20 ekor domba yang terinfeksi cacing secara alami, berumur dibawah 2 tahun dibagi secara acak menjadi 2 kelompok masing-masing 10 ekor berdasarkan jumlah telur cacingnya. Kelompok I diberi ekstraksi air serbuk daun nanas dengan dosis 300 mg/kg berat badan per oral satu kali pada hari ke 0. Kelompok II merupakan kelompok kontrol tanpa pemberian ekstraksi air serbuk daun nanas. Pengambilan sampel tinja dilakukan pada hari ke 0 (saat pemberian ekstraksi air serbuk daun nanas), 3 dan 10 (setelah pemberian serbuk daun nanas) pada setiap individu hewan percobaan. Sampel tinja diperiksa terhadap jumlah telur cacingnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek pemberian ekstraksi air serbuk daun nanas terlihat pada hari ke 3 dimana rata-rata jumlah telur cacing menurun sebesar 30,2% pada kelompok pengobatan dibandingkan rata-rata telur cacing pada kelompok control, yang mana penurunannya hanya 3%. Oleh karena efek pemberian ekstraksi air serbuk daun nanas hanya terlihat 3 hari setelah pengobatan maka kemungkinan perlu dilakukan pengobatan ulang dan peningkatan dosis.

Abstract

Efficacy of Pineapple Leaf Exract Against Gastrointestinal Nematode Infection on Sheep in

Stasiun Pembibitan Domba Nanggung Bogor

Gastrointestinal nematode are most found in grazing sheep. Regular treatments with anthelmintic lead to anthelmintic resistance and residue in tissue. One of alternative treatments in to use herbal medicine from extract of pineapple leaf (Ananas comosus).The purpose of this study is to determine the efficacy of pineapple leave extract on sheep naturally infected with gastrointestinal nematodes. Slices of pineapple leave were dried on room temperature and ground in to make powder A number of 20 head of sheep age less than 2 years were randomly divided into 2 groups of 10 based on egg counts. Group 1 was given extract of pineapple leaves orally at dose of 300 mg/kg body weight on day 0 while group II was untreated and served as control group. Collection of faecal samples were carried out on day 0, 3 and 10 on each sheep. Faecal samples were processed for egg counts. The results showed the effect of pineapple leave extract were seen on day 3 which mean of egg counts reduced 30,2% on treated group compared to control group. Based on this data it is recommended to further study with repeated treatments and increasing doses.

79.

Beriajaya; Haryuningtyas, Dyah (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Siagian, P.H. (Fakultas Peternakan, IPB); Purba, Anny Victoria (Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Jakarta). Pemberian ekstrak daun Legundi (Vitex trifolia L) dan Mungsi Arab (Artemisia cina Berg) sebagai antelmentika pada babi. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1020-1026.

Abstrak

Tujuan penelitian in adalah untuk mempelajari efikasi pemberian ekstrak daun legundi (Vitex trifolia L.) dan mungsi Arab (Artemisia cina Berg) terhadap babi yang terinfeksi cacing. Sebanyak 24 ekor babi lepas sapih dengan rataan bobot badan 15.6 +- 4.18 kg dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1 (e9 ekor) diberi ekstrak daun legundi (Vitex trifolia L) dengan tiga tingkat dosis 16.65; 33.30 dan 66.60 g/kg bobot badan masing-masing tiga ekor. Kelompok 2 (9 ekor) diberi ekstrak Mungsi Arab dengan tiga tingkatan dosis 11.71; 23.42 dan 46.84 g/kg bobot badan masing-masing tiga ekor. Kelompok 3 ( 3 ekor) diberi obat cacing komersial (kontrol negatif) dan kelompok 4 (3 ekor) tidak mendapat obat cacing (kontrol positif). Pemberian ekstrak daun Legundi dan Mungsi Arab dilakukan pada hari ke 1, 2 dan 3. Parameter yang diukur adalah jumlah telur cacing selama 4 bulan dan junlah cacing yang keluar dalam tinja. Hasil penelitiab menunjukkan bahwa pemberian obat cacing ekstrak daun Legundi pada hari ke 1, 2 dan 3 cukup efektif untuk mengeluarkan cacing A.suum (9 cacing) dan Mungsi Arab (1 ekor) sampai hari ke 10 bersama dengan tinja. Selain itu pemberian ekstrak dapat menurunkan jumlah telur cacing A.suum secara nyata. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik kemungkinan selang oemberian perlu ditambah harinya.

Abstract

Extract of Legundi (Vitex trifolia L) Leaves Mungsi Arab (Artemisia cina berg) as anthelmintic on pig

The purpose of this study is to determine the efficacy extract of Legundi (Vitex trifolia L.) and Mungsi Arab (Artemisia cina Berg) leaves on pigs naturally infected with nematodes. A number of 24 weaned pigs with average of body weight of 15.6 + 4.18 kg were divided into 4 groups. Group 1 (9 head) was orally given extract of Legundi leaves at a dose rate of 16.65; 33.30 and 66.60 g/kg b.w. respectively on each of sub-group of 3 heads. Group 2 (9 head) was orally given extract of Mungsi Arab leaves at a dose rate of 11.71; 23.42 and 46.84 g/kg b.w. respectively on each of sub-group of 3 heads. Group 3 (3 head) was negative control which treated with commercial anthelmintic and group 4 (3 head) was positive control without treated with anthelmintic. Treatments with extract of Legundi and Mungsi Arab leaves were carried out on day 1, 2 and 3. Parameter was observed on egg counts and adult worms drop out in the faeces. The results indicated that extract of Legundi and Mungsi Arab given on day 1, 2 and 3 was effective to eliminate 9 and 1 worms of A. suum respectively until 10 days and reduced the egg counts of A. suum. It is recommended to extent of treatment day.

80.

Beriajaya; Manurung, J.; Haryuningtyas, Dyah (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efikasi cairan serbuk kulit buah nanas untuk pengendalian cacing Haemonchus contortus pada domba. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.934-940.

Abstrak

Penaggulangan infeksi cacing pada ternak domba dengan antelmentika sering menimbulkan resistensi dan residu dalam jaringan tubuh. Nanas (Ananas comosus) merupakan salah satu jenis tanaman yang kemungkinan dapat digunakan sebagai antelmentika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak kulit buah nanas (Ananas comosus) terhadap infeksi cacing Haemonchus contortus pada domba. Sebanyak 25 ekor domba yang diinfeksi secara buatan dengan cacing Haemonchus contortus dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing terdiri dari 5 ekor. Kelompok 1,2 dan 3 masing-masing diberi cairan perasan serbuk kulit buah nanas dengan dosis 250 mg/kg BB; 750 mg/kg BB dan 1250 mg/kg BB pada hari ke 1,3,7,20 dan 14 per oral; sedangkan kelompok 4 dan 5 masing-masing sebagian kelompok kontrol tanpa diobati dan kelompok kontrol diobati dengan ivermectin dengan dosis 200 mcg/kg BB. Parameter yang diukur adalah jumlah telur cacing, jumlah larva dan daya tetas telur. Sampel tinja diambil pada hari ke 1, 3, 7, 10 dan 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun efek pemberian cairan serbuk kulit nanas tidak langsung mengeliminasi telur cacing tetapi kelompok serbuk kulit buah nanas dosis 250 mg/kg berhasil menjaga stabilitas jumlah epg dan jumlah larva agar tidak bertambah banyak dan sedikit menghambat daya tetas telur (1,3 persen) dibanding kelompok kontrol.

Abstract

Efficacy of Pineaaple Skin Extract to control Haemonchus contortus on Sheep

Gastro-intestinal nematodes found in sheep and goats are causing of economic loss due to retardation of growth rate and causing of death. Regular control with anthelmintic treatment is leading to development of resistance and residue in the tissue. Pineapple (Ananas comosus) is one of herbal medicine probably to be used as anthelmintic. The purpose of these studies is to determine the efficacy the extract of pineapple skin against sheep experimentally infected only with Haemonchus contortus. A number of 25 male sheep aged 5-6 months was divided into 5 groups of 5 head. Groups 1, 2 and 3 were drenched with filtered fruit skin of pineapple 250 mg/kg, 750 mg/kg and 1250 mg/kg body weight respectively on days 1, 3, 7, 10 and 14; meanwhile groups 4 and 5 as a group of untreated and treated with ivermectin at a dose rate of 200 mcg/kg respectively. Parameters measured were egg and larvae counts; and egg hatch. Faeces were collected individually on day 1, 3, 7, 10 and 14. The results indicated that even water extract of skin of pineapple 250 mg/kg did not eliminate eggs, however the egg and larvae counts did not increase and hatchability of egg was 1.3% inhibited as compared to the control group.

81.

Eleser, Simon; Junjungan (Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih Sumatera Utara); Manurung, J. (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Suibu, Toni (CV Raja Benua Mas). Efektivitas pemberian monolaurin dan obat alternatif lainnya dalam memberantas penyakit Scabies pada kambing. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.941-949.

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian monolaurin dan obat alternative lainnya dalam menahan/memberantas penyakit scabies pada kambing telah dilaksanakan pada Stasiun Percobaan Lolit Kambing Potong Sungei Putih. Kegiatan penelitian menggunakan 25 ekor kambing dara yang telah terinfeksi penyakit scabies dibagi menjadi 5 kelompok perlakukan dengan 5 ekor ulangan. Kelompok T0 sebagai kontrol (Ktr) tanpa pemberian obat, Kelompok T1 diberikan monolaurin (Mo) 0.5 g/ekor/hari melalui pakan, Kelompok (T2) diberikan obat yang berasal dari Sulfur (Klt) dilarutkan dalam air dengan pengenceran 1 g : 25 ml air dan disapukan pada seluruh tubuh, Kelompok T3 diberikan obat yang berasal dari ekstrak daun tembakau (Edt) diencerkan dengan air 1 : 10 disapukan pada seluruh tubuh dan Kelompok T4 diberikan obat yang berasal dari ekstrak daun tumbuhan (Etb) diencerkan dengan air 1 : 10 disapukan pada seluruh tubuh. Hasil penelitian menunjukan bahwa luasan daerah yang terserang scabies mengalami penurunan paling tinggi pada perlakuan T4 (awal = 1219 mm menjadi 828 mm) kemudian perlakuan T3 (awal = 1282 mm menjadi 897 mm); perlakuan T1 (awal = 980 mm menjadi 830 mm) sedangkan perlakuan T0 dan perlakuan T2 Kandungan Eosinofil pada darah menunjukkan perbedaan nyata pada masing-masing perlakukan. Kandungan Eosinofil dalam darah paling tinggi dibanding sebelum pemberian obat (awal penelitian) dijumpai pada perlakuan T1 meningkat (280,55μl); perlakuan T3 meningkat (180,55μl); perlakuan T2 meningkat (161,15μl); perlakuan T0 meningkat (27,77μl) dan perlakuan T4 meningkat (24,92μl) demikian juga kandungan Neutrofil dalam darah pada perlakuan T3 meningkat (8%); perlakuan T1 meningkat (7,75%); perlakuan T4 meningkat (5,25%); perlakuan T2 meningkat (4,25%); dan perlakuan T0 menurun (-0,5%). Kandungan Lympocyt dalam darah pada perlakuan T1 meningkat (3%); perlakuan T3 meningkat (2,25%); perlakuan T4 meningkat (1,5%); perlakuan T0 dan perlakuan T2 mengalami penurunan sebesar (-1,25%) dan (-6,75%). Kandungan Monocyt dalam darah pada perlakuan T3 meningkat (1,25%); perlakuan T4 meningkat (0,75%); perlakuan T1 meningkat (0,5%); perlakuan T0 meningkat (0,25%); sedangkan perlakukan T2 mengalami penurunan sebesar (-0,25%). Hasil penelitian dapat disimpulkan sementara bahwa, pemberian ektrak daun tembakau dan daun tumbuh-tumbuhan memberikan harapan untuk pemberantasan penyakit scabies pada kambing,

Abstract

Effect of Monolaurin and Drug of Alternativ Other in Fighting Against Disease of Scabies at Goat

Research aim to know effectiveness gift of monolaurin and drug of alternative other in detaining against disease of scabies at goat have been executed at Station Attempt Lolit Kambing Potong Sungei Putih. Activity of research use 25 disease infection goat which have scabies divided to become 5 group treat by 5 restating tail. Group of T0 as control without gift of drug, Group of T1 given by monolaurin (Mo) 0.5 g/tail /day in concentrate, Group of T2 given by drug coming from Sulphur (Klt) dissolved in water with comparison 1 g : 25 ml irrigate and sweeped at all body, Group of T3 given by drug coming from tobacco leaf extract (Edt) thinned with water 1 : 10 sweeped at all body and Group of T4 given by drug coming from plant leaf extract (Etb) thinned with water 1 : 10 sweeped at entire/all body. Result of research of obtain that attacked by area is natural scabies of highest degradation at treatment of T4 ( early = 1219 mm become 828 mm) later;then treatment of T3 (early = 1282 mm become 897 mm); treatment of T1 (early = 980 mm become 830 mm) while treatment of T0 and treatment of natural T2 improvement (early = 784 mm become 2240 mm) and (early = 1045 mm become 4135 mm). Obstetrical of Eosinofil at blood show difference of reality at each treating. Content of Eosinofil in highest blood compared to before gift of drug (early research) met at treatment of T1 mount (280,55μl); treatment of T3 mount (180,55μl treatment of T2 mount (161,15μl); treatment of T0 mount (27,77μl) and treatment of T4 mount (24,92μl) obstetrical and so do Neutrofil in blood at treatment of T3 mount (8%); treatment of T1 mount (7,75%); treatment of T4 mount (5,25%); treatment of T2 mount (4,25%); and treatment of downhill T0 (- 0,5%). Content of Lympocyt in blood at treatment of T1 mount (3%); treatment of T3 mount (2,25%); treatment of T4 mount (1,5%); treatment of T0 and treatment of natural T2 degradation equal to (- 1,25%) and (- 6,75%). Content of Monocyt in blood at treatment of treatment of T3 mount (1,25%); treatment of T4 mount (0,75 %); treatment of T1 mount (0,5%); treatment of T0 mount (0,25%); while treating natural T2 of degradation equal to (- 0,25%). Result of research conclusion whereas that gift of tobacco leaf extract and flant leaf extract give expectation to fight against disease of scabies at goat.

82.

Wardhana, April H.; Husein, Amir (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efek larvasidal ekstrak air biji srikaya (Annona squamosa L) terhadap larva lalat Chrysomya bezziana. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1070-1076.

Abstrak

Penggunaan insektisida sintetik pada pengendalian hama peternakan berdampak negatif terhadap lingkungan dan produk asal ternak. Senyawa annonain dan skuamosin yang terkandung di dalam biji srikaya (Annona squamosa L) diduga bersifat sebagai insektisida. Chrysomya bezziana adalah lalat penyebab myasis yang masih perlu dikendalikan di dunia peternakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek larvasidal ekstrak air biji srikaya terhadap larva lalat C. bezziana. Penelitian dibagi menjadi dua tahap, yaitu uji efek racun perut pada larva instar II (L2) dan uji efek racun kontak pada larva instar III (L3). Sebanyak 750 L2 dan 750 L3 digunakan pada penelitian ini dan masing-masing dibagi menjadi lima perlakuan dengan lima ulangan, yaitu kontrol negatif (P 0); konsentrasi ekstrak air 5% (PI); 10% (PII); 20% (PIII) dan coumaphos 0,05% (kontrol positif; P IV). Uji efek racun perut dilakukan dengan cara mencampur ekstrak air biji srikaya ke dalam pakan L2 (media LRM) dan diamati hingga menjadi pupa. Uji efek racun kontak dilakukan dengan cara merendam L3 kedalam larutan ekstrak air biji srikaya selama 10 detik, kemudian diinkubasi ke dalam vermicullite dan diamati bobot pupa serta daya tetasnya menjadi imago. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji BNT (5%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mortalitas larva C. bezziana tidak berbeda nyata antara ekstrak air 5, 10, dan 20% dengan coumphos 0,05% pada hari pertama hingga ketiga (P>0,05). Ekstrak air 5% (PI) telah mampu menyebabkan mortalitas larva sebesar 95% pada hari pertama dan meningkat pada hari kedua selanjutnya mencapai 100% pada hari ketiga. Semua L2 gagal menjadi pupa kecuali kontrol (P0). Uji efek racun kontak ekstrak air 20% (PIII) pada L3 menghasilkan bobot pupa yang tidak normal dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan coumaphos 0,05% (PIV) (P>0,05). Perendaman L3 pada konsentrasi ekstrak air 5% (PI), 10% (PII) dan 20% (PIII), masing-masing menyebabkan penurunan daya tetas pupa menjadi imago sebesar 18,1; 49,14 dan 80,17%.

Abstract

Larvacidal Effect of Water Extract from Annona squamosa Seed Against Chrysomya bezziana Larvae

The usage of synthetic insecticide for pest of livestock control raised negative impact in both environment and livestock production. Annona squamosa seed contain of both annonain and squamosin compounds and had an insecticide property. Chrysomya bezziana is fly causing myiasis and should be controlled. The aim of this study was to know larvacidal effect of water extract from A. squamosa seed against C. bezziana larvae. This study was divided into two stages e.g. digested and contacted property assays for both second (L2) and third (L3) instars larvae, respectively. The number 750 (L2) and 750 (L3) of larvae were used in this study and divided into five treatments and five replications for each instars. The treatments were negative control (P 0), 5% (PI), 10% (P II) and 20% (PIII) of water extracts. Asuntol (0,05% coumaphos) was used as positive control (PIV). The water extract in certainly concentration was mixed to larval rearing media (LRM) for digested property assay and then reared until into pupae. The contacted property assay was tested by soaking the larvae to water extract for 10 seconds, then incubated in vermicullite and investigated both weight pupae and emerged rate into imago. The data was analyzed by ANOVA and continued by smallest significant different test (BNT 5%). The result showed that mortality of C. bezziana larvae were not significant different between 5, 10 and 20% of water extract compared with 0.05% coumaphos on the first until third days (P>0.05). Mortality of C. bezziana was 95% after treated by 5% water extract in the first day and increasing up to 100% in the third day. All of L2 failed into pupae except control group (P 0). Abnormal weight of pupae occurred at 20% of water extract for contacted property. It was not significant different with 0.05% coumaphos (PIV) (P>0.05). Soaked L3 at 5% (PI), 10% (PII) and 20% (PIII) of water extract able to reduce the emerged rate of C. bezziana e.g. 18.1; 49,14 and 80.17% respectively.

PARASITOLOGY; ZOONOSES

83.

Beriajaya (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Peranan vektor sebagai penularan penyakit Zoonosis. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 Septembr 2005 : p. 275-286.

Abstrak

Penyakit zoonosis adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Salah satu cara penularan penyakit ini dapat terjadi melalui vektor. Selain menyebabkan gangszuan pada hospesnya, vektor juga bertindak sebagai penular penyakit. Dalam tubuh vektor, agen penyakit secara biologic dapat berkembang menjadi stadium yang lebih lanjut atau secara mekanis tidak berkembang dan kemudian menularkan melalui gigitan ke manusia atau hewan. Berbagai macam vektor dapat kita temui, mulai dari vektor arthropoda seperti nyamuk, lalat tsetse, phlebotominae sand fly, black fly, caplak, tungau, pinjal dan tritominae bug serta induk semang antara seperti siput air. Penyakit parasit yang ditimbulkan karena vektor diantaranya malaria, schistomiasis, lymphatic filariasis, African trypanosomiasis (sleeping sickness), leishmaniasis, onchoccrciasis (river blindness), American trypanosomiasis (Chagas disease), sedangkan penyakit yang disebabkan oleh virus diantaranya dengue haemorhagic fever, yellow lever, Japanese encephalitis, tick borne encephalitis. Selain itu vektor juga menularkan penyakit oleh bakteri diantaranya karena Rickettsia dan Pasteurela pestis (Plaque). Perubahan lingkungan dan iklim banyak mempengaruhi dinamika populasi vektor sehingga hal ini harus menjadi laktor utama yang harus diperhatikan. Penanggulangan penyakit yang ditularkan vektor tidak hanya melalui pengohatan pada manusianya tetapi juga pemberantasan vektornya yang mana harus dilakukan secara terpadu antara pemerintah clan masyarakat dengan memperhatikan data epidemiologi baik penyakit tersebut maupun vektornya. [3anyak kasus penyakit yang ditularkan melalui vektor mewabah kcmbali saat ini dan kadang-kadang menjadi kejadian lua• biasa karena program ini tidak dijalankan secara tents menerus. Masyarakat perlu dibina agar hidup dalam lingkungan yang bersih sehingga kemungkinan vektornya tidak berkembang.

84.

Tarmudji (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Ekinokokosis/Hidatidosis, suatu Zoonosis parasit cestoda penting terhadap kesehatan masyarakat. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 :. p. 266-274.

Abstrak

Ekinokokosis/hidatidosis adalah suatu penyakit zoonosis cestoda yang disebabkan oleh infeksi stadium larva Echinococcosis granulosus. Parasit cacing pita ini berukuran kecil (panjangnya < I cm) dan mempunyai tiga segmen. Untuk melenakapi siklus hidupnya, E. granulosus memerlukan dua mamalia sebagai inangnya. Cacing dewasanya hidup di claim usus kecil hewan carnivora, terutama anjing (induk semang definitit) dan mcngliasilkim tclor yang mengandung larva inicktif. Sedangkan stadium larva, metacestodc berkembang di dalam organ internal hewan ungulata, misalnya, domba, sapi, babi dan onta (induk semang antara). Secant asidental E. granulosus dapat menginfeksi manusia (bila tertelan telur infektit) dan dalam perkembangan stadium larva (hidatid) dapat membcntuk kista pada organ tubuh inangnya (terutama hati dan paru-pare). Pcnyebaran penyakit hidatid secara kosmopolitan, terutama di daerah yang mempunyai populasi domba dan sapi yang sangat banyak. Penyakit ini merupakan problem utama di daerah Timur Tengah, Afrika utara dan sub sahara serta di Amerika Utara. E. granulosus kurang patogen pada anjing, tetapi bersifat patogen pada manusia clan menyebabkan hidatidosis (cystic hydatidosis). Penyakit ini, pada stadium awal tidak memperlihatkan gejala klinik (aymplomalic). Gejala klinis dapat terjadi setelah masa inkubasi yang cukup lama (diperkirakan beberapa bulan hingga tahunan). Dan, tergantung dari jumlah, besar dan lokasi kista, perkembangannya (aktif/inaktit) serta terjadinya penekanan kista terhadap jaringan di sekitarnya. Ukuran kista pada organ tubuh manusia sangat bervariasi, biasanya sekitar 1-15 cm, tetapi bisa juga lebih besar (diameter > 15 cm). Kista pada hati dapat menimbulkan rasa nyeri perut di bagian atas, hepatomegali dan berbagai macam gejala yang lain. Batuk kronik, sesak nafas dan hemoptysis dapat disebabkan oleh kista pada paru-paru. Pada induk semang antara, diagnosa tergantung ada/tidaknya kista pada organ, terutama pada hati dan paru-paru. Diagnosis pada anjing dengan ditemukannya cacing (dewasa) E. gratudosits. Sedang pada manusia diagnosis ekinokokosis didasarkan pada gejala klinik, ultrasonografi dan pemeriksaan dengan sinar X (X-Ray) dan metode lain yang dapat mendukung diagnosis yaitu dengan deteksi serum spesifik antibodi/uji imunodiagnostik. Di Indonesia, secara serologi pernah ditemukan pada penduduk di sekitar danau Lindu, Sulawesi Tengah, namun pada anjing tidak ditemukan cacing E. granulosus.

RABBIT DISEASES

85.

Iskandar, Tolibin (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Beberapa penyakit penting pada kelinci di Indonesia. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan Usaha Kelinci. Bandung. 30 September 2005 : p. 168-175.

Abstrak

Ternak kelinci merupakan salah satu aset petani yang sangat berharga. Di samping sebagai tabungan, kelinci juga sebagai penghasil daging yang tinggi kandungan protein dan rendah kolesterol dan trigeliscrida dan dapat dibuat dalam bcntuk produk olahan, seperti abon, dendeng, sosis, burger, dan bentuk cepat saji seperti sate. Selain itu sebagai penghasil kulit bulu (fur), juga menghasilkan wool, sebagai hewan coba dalam dunia kedokteran dan fannasi, menjadi idola atati kelinci kesayangan dengan litu-ga jual rela [if tinggi, kotoran dan urine sebagai pupuk organik yang bermulu tinggi untuk taitainan sayurtui clan bunga. 13erbagai jenis temak kelinci yang stidali dikeinbangkan di Indonesia seperti Lops, Fuzzy, Tan, jersey Wooly, New Zealand White, Netherland Dwarf, Yamamoto, Silver Fax, Dwarf Hotot, Rex, Satin, Angora, Tris Mini Rex. Keiinci inampu inclahirkan 10-11 kali per tahun dengan rataan 6-7 anak per kelahiran olch sebab itu kelinci mudah bcrkembang biak clan tumbuh dengan cepat. Salah satu kendala yaitu penyakit. Penyakit yang mcnycrang kelinci di Indonesia yaitu Kudis, Koksidiosis, Pasteurellosis, Mukoid Enteritis, Penyakit Tyzzer, Sitilis, Ring worm, Kecacingan, Mastitis, Radang mata. Kcberadaan penyakit eksotik perlu diwaspadai mengingat lebih banyak betemtlk kelinci impor daripada kelinci lokal. Kudis discbabkan Sarcopies scabiei perlu perhatian khusus karena menular ke manusia, seperti Pasteurellosis. Penyakit Koksidiosis, Mukoid Enteritis dan Penyakit Tyzzer sangat mudah menycbar ke koloni kelinci. I3eberapa penyakit kelinci dipaparkan mengenai diagnosis, gejala klinis, isolasi ternak sakit dan pengobatannya.

POULTRY DISEASES

86.

Parede, Lies (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Zainuddin, D. (Balai Penelitian Ternak, Ciawi Bogor); Huminto, Hernomoadi (Bagian Patologi FKH IPB). Penyakit menular pada intensifikasi unggas lokal dan cara penanggulangannya. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Semarang. 26 Agustus 2005 : p.314-319.

Abstrak

Penyakit menular pada unggas lokal (ayam kampung, ayam bangkok, ayam arab, ayam hutan, burung puyuh, burung dara, burung unta, itik, angsa) dalam pola pemeliharaan yang intensif perlu lebih diwaspadai. Faktor yang mempermudah penularan penyakit adalah kontak diantara unggas dalam kandang terjadi lebih erat, kontak dalam tempo yang lama, strees, dan kurangnya udara segar. Pemeliharaan unggas lakol bila tanpa disertai tindakan biosekuritis dan pengamanan melalui vaksinasi akan berisiko tertular penyakit. Diantara penyakit menular yang telah ditemukan pada unggas lokal di laboratorium diagnostik adalah Newcastle Disease (Tetelo), Flu burung, Marek, Gumboro, Pox, Infectious Coryza (Snot), Pullorum, Colibacillosis, Cholera ungggas, Anthrax, Aspergillosis, Candidiosis, Coccidiosis, Histomoniasis, Cryptosporidiosis, Trichomoniasis, infestasi ektoparasit dan cacing.

VETERINARY TECHNOLOGY

87.

Adjid, R.M. Abdul; Suhardono (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Hasil-hasil penelitian Balai Penelitian Veteriner (BALITVET) TA 2004 untuk mendukung kesehatan hewan dan masyarakat veteriner dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Dalam: Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p. 29-42.

Abstrak

Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) sebagai UPT Departemen Pertanian, berada langsung di bawah Puslitbang Peternakan, Badan Litbang Pertanian mengemban tugas pokok melaksanakan penelitian di bidang veteriner, dengan salah satu fungsinya sebagai laboratorium rujukan penyakit hewan. Untuk itu setiap tahunnya Balitvet melakukan penelitian-penelitian bidang veteriner, baik aspek untuk kesehatan hewan maupun untuk kesehatan masyarakat veteriner. Hasil-hasil penelitian dalam bidang tersebut dapat berupa informasi penyakit (epidemiologi), vaksin, obat hewan, teknologi diagnosis, serta plasma nutfah mikroba veteriner. Pada tahun anggaran 2004 Balitvet telah melakukan berbagai kegiatan penelitian, hasil penelitian yang menonjol yaitu: dihasilkan prototipe vaksin Avian Influenza (AI), vaksin kombinasi ND-IB-IBD inaktif, serta vaksin ORT. Untuk pengendalian penyakit telah dihasilkan teknologi pengendalian penyakit secara biologis menggunakan mikroba veteriner kapang nematophagus Arthrobotrys terhadap larva cacing nematoda; kapang Sachharomyces dan Rhizopus untuk mengendalikan cemaran kapang toksigenik dalam pakan unggas. Dalam hal keamanan pangan asal ternak, telah dikembangkan teknik deteksi cepat ELISA untuk kuman Salmonellae, serta deteksi residu antibiotik enrofloxazin dan cyprofloxazin dan deteksi bahan pengawet formalin pada daging ayam. Dua penyakit zoonosis Antraks dan Leptospirosis telah dikembangkan prototipe vaksinnya. Hasil penelitian berupa informasi yang sangat penting adalah terungkapnya kasus kematian manusia akibat kuman anthraks di Babakan Madang, Bogor; karakteristik molekuler dan filogenetik tree virus Avian Influenza (AI) penyebab wabah pada unggas; serta respon vaksin dan rekomendasi strategi vaksinasi Avian Influenza pada unggas. Diharapkan hasil-hasil penelitian yang telah diperoleh pada tahun anggaran 2004 ini dapat mewujudkan upaya ketahanan pangan nasional.

Abstract

Results of Research at The Research Institute for Veterinary Sciences (RIVS) The Year 2004 to Support Animal Health and Veterinary Public Health to Achieve National Food Security

Balai Penelitian Veteriner (Balitvet) or the Indonesian Research Institute for Veterinary Science is an implementing unit of Ministry of Agriculture, under the Indonesian Centre Research Institute for Animal Science of Agency for Agriculture Research and Development. The institute holds a mandate to do research on veterinary aspects, with one of the function as reference laboratory for animal health in Indonesia. The output of research covers animal health and veterinary public health aspects, in the forms of information (data epidemiology), products (vaccines, medicines), diagnostic technologies, and germplasms of veterinary microbes. In the finacial year of 2004, the institute has done a range of reasearch on veterinary aspect with substantial results: prototype of Avian Influenza, ND-IB-IBD inactive, and ORT vaccines. For disease control, it has been produced biological control for nematodes larvae using nematophagous fungus Arthrobotrys; the use of Saccharomyces and Rhizopus for controlling the growth of toxigenic fungus in chicken feed. For food savety, it has been developed ELISA for detecting Salmonella enteritidis, techniques for detecting antibiotics enrofloxazin and cyprofloxazin residues, and for the use of formaline in chicken meat. Prototype of a vaccine for anthrax and leptospirosis has also been developed. Important information resulted from researchs this year were: anthrax case in animal and humans in Babakan Madang, Bogor; molecular characteristic and filogenetic tree of Avian Influenza virus as causal agent of outberaks in poultry; and vaccine response and its vaccination strategy in chicken. These results of research program in 2004 may contribute to the achievement of national food security program in Indonesia.

TOXICOLOGY

88.

Arifin, Zainal; Murdiati, Tri Budhi; Firmansyah, Rahmat (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Deteksi formalin dalam ayam broiler di pasaran. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1036-1040.

Abstrak

Formalin adalah nama komersial sari senyawa formaldehida yang mengandung 35-40 dalam air formalin termasuk kelompok senyawa disinfektan kuat yang sering dipakai sebagai pengawer mayat tetapi dapat juga digunakan pengawet makanan, walaupun formalin tidak diizinkan untuk bahan pengawet makanan serta bahan tambahan. Tujuan penelitian ini adalah pengembangan metode deteksi formalin yang terkontaminasi pada daging ayam dengan teknik destilasi uap dan kemudian diukur dengan spektrophotometer pada panjang gelombang 415 nm, Hasil analisa formalin menunjukkan bahwa dari metode ini limit deteksi sebesar 0,25 ppm. Nilai prolehan kembali 99,46 +- 1,72 persen dan kurva kalibrasi standar sebesar R = 0.9962. Hasil penerimaan terhadap 46 sampel daging ayam dari pasar tradisional dan swalayan sari Tangerang, Sukabumi, Cianjur, Bogor tidak ditemukan adanya formalin. Namun sampel yang berasal dari Jakarta Selatan terdeteksi formalin antara 0.08 - 0.12 ppm.

Abstract

Formalin Detectin of Broiler Chicckens from the Market

Formalin is a commercial name of formaldehyde solution 35–40% solution in water. Formalin is classified as strong disinfectant, also is always used as cadaverous convervacy and has been used as food preservative although formalin is not permitted used as food preservative or food additive, since formalin is toxic for human consumption. A study was conducted to develop method to detect formalin contaminant in chicken meat by distillation followed by detection with spectrophotometer at 415 nm. The study suggested that the method was able to detect formalin in chicken with limit detection of 0,25 ppm. Recovery study showed 99,46 ± 1,72%, and standard curve gave R value 0,9962. Sampels of 46 chickens was collected from traditional market and supermarket in Tangerang, Sukabumi, Cianjur, and Bogor was not detected in all sampels collected. Formalin were detected in all sampels collected from South Jakarta, with concentration range from 0.08–0.12 ppm.

89.

Rachmawati, Sri (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kit ELISA (AFLAVET) untuk deteksi Aflatoksin pada produk pertanian. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1105 - 1110.

Abstrak

Aflatoksin merupakan suatu senyawa racun karsinogen yang berbahaya bagi kesehatan ternak dan manusia. Balitvet telah mengembangkan metoda analisis AFB1 secara Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) yaitu Aflavet yang telah divalidasi dengan hasil yang konsisten dengan metoda standar kromatografi. Pada makalah ini penggunaan kit ELISA tersebut diterapkan untuk analisis AFB1 pada kacang tanah, jagung sebagai bahan dasar pakan dan pakan unggas. Sebanyak 20 sampel kacang tanah berupa butiran dan selai kacang dikumpulkan dari pasar tradisional dan swalayan, 12 sampel jagung dan 20 pakan diperoleh dari toko pakan disekitar daerah Bogor. Sampel tersebut digiling, 25 g ditimbang, diektraksi dengan methanol, disentrifus dan supernatan dianalisis. Hasil analisis menunjukkan bahwa 6 dari 20 sampel kacang tanah mengandung AFB1 cukup tinggi melebihi nilai batas maksimum yang ditetapkan oleh Food and Drug Administration (FDA) yaitu 20 ng/g. 5 diantaranya mengandung AFB1 >3 kali nilai batas (>60 ng/g) dan 1 sampel kadar AFB1 nya sebesar 25,5 ng/g serta 14 sampel kacang lainnya mengandung AFB1 dalam kisaran 0.9–15,3 ng/g. Sampel jagung dan pakan unggas mengandung AFB1 yang tidak menghawatirkan, kadar AFB1 pada semua sampel tersebut berada dibawah baku mutu yang dipersyaratkan oleh Standar National Indonesia (SNI) yaitu masing-masing 50 ng/g untuk jagung sebagai bahan dasar pakan dan pakan unggas. Jagung mengandung AFB1 dalam kisaran 5,1–36.9 ng/g dan pakan mengandung AFB1 dalam kisaran tidak terdeteksi (<0,3 ng/g) sampai 23,9 ng/g. Kit ELISA (Aflavet) dapat digunakan untuk mendeteksi AFB1 secara cepat (15 menit), akurat, sensitive (limit deteksi 0,3 ng/g) dan ekonomis serta ektraksi sampel yang sederhana. Tersedianya teknologi deteksi cepat ini, diharapkan kontrol kualitas pangan dan pakan terhadap AFB1 dapat dilakukan dengan mudah, sehingga pakan aman dikonsumsi ternak dan manusia.

Abstract

Elisa Kit (Aflavet) for Detecting Aflatoxin in Agricultural Product

Aflatoxin is a carcinogenic toxic compound which is dangerous for animal and human health. Research Institute for Veterinary, Bogor has been developed an ELISA method for analysis AFB1 named Aflavet, which has been validated with an accurate and consistent results compared to standard method of chromatography. In this paper the used of that ELISA kit was applied for analysis AFB1 in peanut, corn as a feed ingredient and poultry feed. Twenty of peanut samples including peanut butter, 12 corn samples and 20 of feed samples were collected from tradisional market, supermarket and poultry shops around Bogor. Samples were ground, extracted with 60% methanol, centrifuged, and the supernatant were taken for analysis. Result of analysis indicated that 6 of 20 samples of peanut contained AFB1 quite high, exceeding the maximum limit determined by FDA which is 20 ng/g. 5 of these peanut samples contained AFB1 > 3rd times maximum limit (>60 ng/g), 1 peanut sample contained AFB1 25.5 ng/g and another 14 samples contained AFB1 in the range of 0.9–15.3 ng/gr. Corn and feed samples contained AFB1 quite low which the value of AFB1 below the standard determined by SNI (<50 ng/g). The AFB1 content in corn was in the range of 5.1– 36.9 ng/g whereas AFB1 content in feed samples were in the range of not detected (<0.3 ng/g) to 23.9 ng/g. ELISA kit (Aflavet) can be applied to detect the AFB1 content in samples with quick, accurate and sensitive results (detection limit of 0.3 ng/g), relatively cheap analysis with simple extraction procedure. It is hope that with this rapid assay technology available in the market, quality control of AFB1 in food and feed can be controlled easily, so that the food and feed are safe for human and animal consumptions.

90.

Widiastuti, Raphaela; Firmansyah, Rahmat (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Cemaran Zearalenon dan deoksinivalenol pada pakan sapi dan babi. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.968-972.

Abstrak

Zearalenon dan deoksinivalenol adalah mikotoksin yang dihasilkan terutama oleh kapang Fusarium graminiarum yang dapat membahayakan kesehatan ternak. Zearalenon bersifat estrogenik pada ternak sapi maupun babi dan dapat menyebabkan gangguan reproduksi, sedangkan deoksinivalenol walaupun toksisitasnya rendah namun dapat menyebabkan gejala penolakan pakan. Suatu penelitian untuk mengetahui keberadaan cemaran kedua mikotoksin tersebut telah dilakukan pada 34 sampel dari berbagai jenis pakan dan bahan pakan sapi serta babi (jagung, dedak dan berbagai jenis bungkil) yang dikoleksi dari daerah kabupaten Bandung, Subang dan Tangerang. Sampel diekstraksi menggunakan pelarut organik dan dianalisis terhadap cemaran zearelenon dan deoksinivalenol. Hasil analisis menunjukkan bahwa zearalenon ditemukan pada 30 sampel (88,23%) yang dianalisis dengan konsentrasi tertinggi yaitu 473,3 ppb, sedangkan deoksinivalenol ditemukan pada 13 sampel (38,23%) dengan konsentrasi tertinggi 1280 ppb. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedua jenis mikotoksin tersebut juga telah mencemari beberapa bahan pakan dan pakan yang dianalisis, walaupun tingkat cemarannya belum mencapai tingkat yang membahayakan kesehatan ternak babi maupun sapi.

Abstract

Contamination of Zearalenone and Deoxynivalenol in Cattle and Pig Feeds

Zearalenone and deoxynivalenol are mycotoxins which produced mainly by Fusarium graminearu which able to endanger to animal health. Zearalenone possesses estrogenic activity which cause reproduction disorder to cattle and pig, meanwhile deoxynivalenol even its toxicity is low, but able to cause feed refusal symptom. An investigation on the presence of those mycotoxins had been carried out on 34 samples from several types of cattle and pig feeds which were collected from Bandung, Subang and Tangerang districts. The samples were extracted by organic solvents and analysed for those mycotoxins. The results showed that zearalenone had been found in 30 samples (88,23%) and the highest concentration was 473,3 ppb, meanwhile deoxynivalenol had been found in 13 samples (38,23%) and the highest concentration was 1280 ppb. It can be concluded that contamination of zearalenone and deoxynivalenol had been occured, but those contamination levels were still safe for animal health.

91.

Yuningsih; Damayanti, Rini; Firmansyah, Rahmat (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Efektivitas ekstrak biji tanaman kemalakian (Croton tiglium) terhadap keong mas (Pomacea canaliculata) sebagai moluskisida botani dalam upaya penggantian moluskisida sintetik. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.979-984.

Abstrak

Salah satu jenis moluskisida sintetik mengandung metaldehida dan arsenik (tricalcium arsenate) yang dapat menyebabkan keracunan pada hewan, terutama pada anjing dan kucing yang mengkonsumsi bentuk pelet moluskisda. Sebagai upaya penggantian moluskisda sintetik ini adalah moluskisda botani, yaitu dengan mencoba efektivitas larutan ekstrak biji tanaman kemalakian (Croton tiglium) terhadap keong mas. Pada penelitian ini dilakukan percobaan perendaman keong mas dalam 2 bentuk ekstrak yaitu ekstrak air dan ekstrak petroleum eter biji tanaman kemalakian. Berdasarkan hasil percobaan menunjukkan bahwa konsentrasi larutan ekstrak air yang oaling efektif adalah 0,03 persen (letal konsentrasi 100 atau LC100) dari pecobaan perendaman dalam beberapa macam konsentrasi larutan ekstrak air: 0,01, 0,02, 0,03, 0,04 dan 0,05 persen terhadap 10 ekor keong mas (bobot hidup 3-5 g) untuk masing-masing konsentrasi dan lama waktu kematian dalam 2-3 jam. Sedangkan percobaan perendaman dalam larutan ekstrak petroleum eter biji kemalakian dengan perlakuan yang sama, menunjukkan konsentrasi larutan ekstrak yang paling efektif adalah 0,02 persen (LC100) dan lama waktu kematian rata-rata kurang dari 1 jam.

Abstract

The effectivity of croton tiglium extra to golden snail (Pomacea canaliculata)

as a botanical moluscisidee in order to subtitute the synthetic molusciside

One of synthetic moluscisiddde consists of methaldehyde and tri calcium arsenate which is toxic to animals, specially cats and dog which consumed pelleted molusciside. In order to substitute the synthetic molusciside, in this study we tried to use botanical molusciside, croton tiglium. The effectivity of the substance was tested to kill golden snail, Pomacea canaliculata. In this study, Croton tiglium was extracted with water and petroleum ether respectively. Ten groups of 10 snails were each treated with Croton tiglium extract diluted in water (0.01; 0.02; 0.03; 0.04 and 0.05%) and petroleum ether (0.01; 0.02; 0.03; 0.04 and 0.05%). The results showed that the lethal concentration (LC) 100 for water extract was 0.03% (death within 2-3 hours) and petroleum extract was 0.02% (death within less than 1 hour)

TOXICOLOGY; ANTIBIOTIC RESIDUES

92.

Yuningsih; Murdiati, Tri Budhi; Juariah, Siti (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Keberadaan residu antibiotika tilosin (golongan makrolida) dalam daging ayam asal daerah Sukabumi, Bogor dan Tangerang. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.921-295.

Abstrak

Antibiotika tilosin (golongan makrolida) merupakan antibiotika yang sudah umum ditambahkan dalam pakan (feed additives), disamping untuk pengobatan. Pemakaian yang tidak beraturan akan menyebabkan residu dalam produk hewani, disamping mempunyai efek toksik langsung juga menyebabkan reaksi alergi dan resistensi. Untuk mengetahui sejauhmana residu tilosin dalam daging, maka dicoba pengembangan metoda analisis residu antibiotika tilosin, yaitu mengekstraksi daging dengan asetonitril dan isoctane kemudian hasil ekstrak dimurnikan melalui catridge C18 (Sep-Pak C18) dan dielusi dengan campuran larutan amonium metanol dan deteksi dengan alat kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dengan kolom C-18 Bondapak, fase gerak : 0,05M NaHPO4: CH3CN= 65: 35 pada p.H= 2,5, kecepatan alir 1,5 ml/menit dan panjang gelombang 287 nm, dengan detektor U.V. Uji validasi pengembangan metoda, yaitu dilakukan uji kesesuaian sistem, kalibrasi dan lineratas dan uji perolehan kembali (recovery). Kemudian metode hasil pengembangan diaplikasikan terhadap sampel lapang, sebanyak 36 sampel daging ayam asal peternakan daerah Kabupaten Sukabumi, Bogor dan Tangerang, dan ampel asal pasar tradisional di Bogor. Hasil validasi metoda menunjukkan simpangan baku: 5,23 persen, linearitas: koefesien korelasi = 0,9975 dan rata-rata perolehan kembali dari penambahan larutan standar tilosin, masing-masing yaitu 2,0 ug (3 ulangan), 5,0 ug (2 ulangan) dan 10,0 ug (3 ulangan) adalah 101,91, 86,66 dan 94,74 persen. Nilai hasil uji validasi sesuai dengan nilai ketentuan dalam kriteria uji validasi, maka pengembangan metoda residu tilosin dalam daging cukup baik. Hasil analisis residu tilosin terhadap sampel lapang menunjukkan 15 dari 36 sampel positif, yaitu berkisar antara 0,0006-0,0845 ug/g tilosin yang masih dibawah ambang batas yang diperolejkan (ambang batas tilosin dalam daging: 0,1 ug/g) dan sampel lainnya negatif.

Abstract

Status of Tylosin Antibiotic Ressidue in Chicken Meat Samples from Sukabumi, Bogor and Tangerang

Tylosin (maacrolide antibiotics) is commonly usedd in feed additives besidee in treaatment. Improper used of tylosin can cause residue, resistance and allergic reactions. In order to find out the extend of the residue content, so an improved method has been developed for determination of tylosin in tissue. The tissue were extracted with acetonitrile and isooctane and its filtrate was applied to SPE cartriddge (C-18), then were eluted with methanolic ammonium 0.1 M and detected by High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) wwith UV detection at 287 nm, C-18 Bondapak coloumb, mobile phase: 0.05 M NaHPO4; CH3CN = 65 : 35, pH 2.5. The validation improved method were repeatability precision (5 replicatee standars aat 1 concentration) calibration and linearity (replicate standars at 5 concentratious) and recovery (replicate spike samples with 3 concentration of standard). Its method applied to 36 tissue sample ffrom Sukabumi, Tangerang aand Bogor. The result of validation method were relaative standard deviation: 5,23%, linearity (correlation coeficient): 0.9975 aand mean of recovery 101.91, 86,66 and 94,74%. The validation result of improved method is quite significant 15 of 36 samples were positive tylosin, containing 0.0006-0.0845 ug/g which below the maximum ressidue limits (MRL tylosin in tisue 0.1 ug/g.

TOXICOLOGY; PESTICIDE RESIDUE

93.

Indraningsih; Sani, Yulvian (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Residu pestisida dalam susu segar dan pakan dari beberapa daerah di Jawa. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 12 - 13 September 2005 : p.956-962.

Abstrak

Analisis residu pestisida telah dilakukan terhadap susu segar dan pakan ternak yang dikoleksi dari beberapa daerah di propinsi Jawa Barat (Bogor, Lembaga dan Pangalengan), Jawa Tengah (Solo) dan Jawa Timur (Nongkojajar dan Ngantang). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status residu pestisida dalam susu segar dan pakan ternak, serta mempelajari peran pakan ternak sebagai sumber pencemaran pestisida dalam susu segar. Sampel diekstraksi dengan pelarut organik dan dideteksi dengan gas hromatography. Hasil analisis menunjukkan bahwa residu pestisida baik dari golongan organoklorin (OC) dan organofosfat (OP) terdeteksi dalam susu segar dari ketiga propinsi tersebut. Susu segar dari propinsi Jawa Timur (1,06 ppb). Residu OP dalam susu segar dari ketiga propinsi tersebut. Susu segar dari propinsi Jawa Tengah memiliki total residu pestisida tertinggi (13,15 ppb) dibanding Jawa Barat (11,15 ppb) dan Jawa Timur (1,06 ppb). Residu OP dalam susu segar terlihat lebih tinggi dibanding residu organoklorin di propinsi Jawa tengah (10,65 ppb vs 2,5 ppb) dan Jawa Barat (5,93 ppb vs 5,22 ppb), namun tidak terdeteksi di Jawa Timur. Kondisi yang sama juga terlihat pada pakan ternak dimana total residu pestisida secara berurutan mencapai 186,25 ppb (Jawa Tengah), 134,57 ppb (Jawa Barat) dan 54,82 ppb (Jawa Timur). Residu OP dalam pakan ternak terdeteksi lebih tinggi daripada OC untuk ketiga propinsi tersebut, yang secara berurutan adalah Jawa Barat (129,18 ppb vs 5,39 ppb), Jawa tengah (97,86 ppb vs 88,39 ppb) dan Jawa Timur (52,72 ppb vs 2,1 ppb). Namun cemaran OC dalam pakan ternak masih cukup tinggi di propinsi Jawa Tengah mencapai 88,39 ppb. Hasil analisis menunjukkan terdapat korelasi positif antara tingkat pencemaran pestisida dalam pakan ternak terhadap kandungan residu pestisida yang sama di dalam susu segar. Pencemaran pestisida pada pakan ternak memiliki peran penting sebagai sumber pencemaran bagi susu segar yang dihasilkan ternak.

Abstract

Pesticide Residues in Milk and Animal Feeds in Some Areas of Java

Analysis of pesticide residues had been undertaken in milk and animal feeds collected from some places of West Java (Bogor, Lembang and Pangalengan), Central Java (Solo) and East Java (Nongkojajar and Ngantang). The purposes of this study were to investigate the status of pesticide residues in milk and animal feeds and a source of contamination in milk. The samples were extracted with organic solvents and detected by gas chromatography. The results show that both groups of pesticides (organochlorines/OCs and organophosphates/OPs) were detected in milk of the three provinces. Milk of Central Java has the highest level of total pesticide residues (13.15 ppb) compares to West Java (11.15 ppb) and East Java (1.06 ppb). The OP residues in milk were higher than OC in Central Java (10.65 ppb vs 2.5 ppb) and West Java (5.93 ppb vs 5.22 ppb), but not detected in East Java. Similar situation was also noted in animal feeds to which the total pesticide residues were 186.25 ppb (Central Java), 134.57 ppb (West Java) and 54.82 ppb (East Java) subsequently. The OP residues in feeds were higher than OC in all provinces as shown in West Java (129.18 ppb vs 5.39 ppb), Central Java (97.86 ppb vs 88.39 ppb) and East Java (52.72 ppb vs 2.1 ppb). The OCs were still higher in animal feeds of Central Java at the level of 88.39 ppb. It appears that there was a correlation between contamination of animal feeds and the occurence of pesticide residues in milk. Pesticide contaminated feed has an important role as source of contamination sources for milk.

VACCINES

94.

Parede, Lies (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Strategi pengembangan vaksin lokal dalam mengendalikan dan mencegah penyakit pada ayam lokal. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Semarang. 26 Agustus 2005 : p.42-50.

Abstract is unavailable

Abstrak tidak tersedia

VIROLOGY

95.

Adjid, R.M. Abdul; Indriani, Risa; Damayanti, Rini; Ariyanti, Tati; Parede, Lies (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Hasil-hasil penelitian dan dukungan teknologi dalam mengendalikan dan mencegah penyakit Viral penting pada ayam lokal. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Semarang. 26 Agustus 2005 : p.20-27.

Abstrak

Ayam lokal merupakan komoditas peternakan potensial, berprospek cukup baik yang paling umum dipelihara oleh petani di pedesaan-pedesaan guna menambah penghasilan dalam mencukupi kebeutuhan hidupnya. Beberapa petani telah membudidayakannya sebagai cabang usaha, meskipun skala usahanya relatif kecil. Para petani kebanyakan memeliharanya secara tradisional, seperti dibiarkan berkeliaran di pekarangan rumah dengan pakan ala kadarnya tanpa dilakukan upaya-upaya pencegahan penyakit. Kondisi tersebut menjadikan ayam lokal sangat rawan dan rentan terhadap serangan penyakit hewan menular. Berbagai jenis hewan menular pada unggas yang disebabkan oleh virus telah dilaporkan keberadaanya di Indonesia, namun penyakit yang dianggap utama saat ini pada ayam lokal yang disebabkan oelh virus yaitu Avian Influenza (AI) atau flu burung pada ayam, Newcastle Disease (ND) atau tetelo, Infectious Bronchitis (IB), Infectious Laryngotracheitis (ILT), penyakit Marek, dan Infectious Bursal Disease (IBD) atau Gumboro.

96.

Syafriati, Tatty (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Mengenal penyakit Influenza babi. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 : p.102-109.

Abstrak

Influensa babi merupakan penyakit saluranpernafasaan akut yang sangat menular, disebabkan oleh virus influensa tipe A yang termasuk dalam orthomyxovirus. Babi merupakan induk semang utama virus infleunza babi, namun demikian virus tersebut dapat juga menular pada manusia dan bangsa burung atau sebaliknya infeksi virus influensa babi dapat menyebabkan batuk, demam,dispnu, kelemahan yang sangat, dengan cepat menyebar pada sekelompok ternak babi dan dengan cepat pula sembuh. Pada kasus komplikasi, babi akan mengalami bronchopneumonia yang dapat berakhir dengan kematian. Penyakit influensa babi belum pernah ada di Indonesia, tetapi penyakit ini harus selalu diwaspadai mengingat banyak penyakit babi baru-baru ini didiagnosis di Indonesia. Paper ini menggambarkan sejarah penyakit, penyebab, patogenesis, gejala klinis patologi, diagnosis, diagnose banding, pengobatan dan kontrol serta masalah penyakit influensa babi di Indonesia.

97.

Wahyuwardani, Sutiastuti; Parede, Lies (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia); Huminto, Hernomoadi (FKH-IPB). Efek Imunosupresif infeksi Reovirus isolat lokal pada ayam pedaging. Dalam : Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor 12 - 13 September. 2005 : p.1049-1054.

Abstrak

Reovirus isolat lokal pada ayam diinfeksikan pada 80 ekor DOC pedaging secara per oral, yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan. Kelompok diinokulasi Reovirus isolat lokal (Reo), kelompok diinokulasi Reovirus isolat lokal dan divaksinasi ND (Reo+VND), kelompok tanpa diinokulasi Reovirus tetapi divaksinasi ND (VND) serta kelompok tanpa diinokulasi Reovirus tanpa divaksinasi ND (kontrol). Pengamatan perubahan PA dilakukan pada umur 1,2,3 dan 4 minggu pascainfeksi, dengan mengukur bobot, bursa fabrisius dan limpa. Pemeriksaan titer antibodi dilakukan pada serum yang dikoleksi pada umur 1,2 dan 3 minggu pascavaksinasi. Hasil menunjukkan bahwa inokulasi Reovirus pada ayam menyebabkan indeks bursa fabrisius lebih kecil dari pada ayam kontrol dari umur 1 minggu sampai dengan umur 4 minggu pascainokulasi. Demikian juga ration indeks bursa fabrisius lebih kecil dari 0,7 yang menandakan terjadi atrofi bursa fabrisius, serta menyebabkan kenaikan titer antibodi terhadap ND yang rendah.

Abstract

The Imunesupresive Effect of Local Reovirus Isolate Infection in Broiler Chicken

Local reoviral isolate was essayed to show its immunosuppresive effect on broiler chicken. Batch of 80 DOC were divided into 4 groups: reoviral infected, reoviral infected and NDV vaccinated, NDV vaccinated, and non treated control. On day 1, two groups of chicken were infected orally with 2 × 103 reoviral particles. To stimulated the immune respond, at day 4, two groups of chickens were vaccinated by eye drops with La sota strain of NDV. The result of NDV titer on reoviral infected groups examined at 3 consecutive weeks post vaccination were lower compare to non reoviral infected and statistically, significant different was occurred at 2 and 3 weeks post vaccination. On comparing the weight of bursa Fabricii, as precented by their bursal indexes, the reoviral infected groups are significantly lower than non infected, starting from week 2 to week 4 after infection. The pathology result clarified the occurent of bursal athropy and follicular lymphoid cells depletion due to cytolysis. Most of the spleen of reoviral infected groups were hyperthrophy and had indexes of significantly higher than non infected groups. The local reoviral isolate infection has immunosuppressive effect on broiler immune system.

VIROLOGY; ZOONOSES

98.

Saepulloh, Muharam (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Potensi Infeksi Virus Rota sebagai penyakit zoonosis penyebab Diare pada anak-anak. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 : p.86-101.

Abstrak

Virus rota termasuk kedalam famili reoviridae merupakan penyebab utama penyakit diare akut yang dapat menimbulkan kematian baik pada manusia maupun hewan. Pada manusia, penyakit diare yang disebabkan oleh virus rota telah tersebar di dunia dan menyebabkan kematian pada anak-anak dibawah umur 5 tahun hingga mencapai 600.000 orang pertahun. Sementara itu, tingkat kematian pada ternak sapi dan kerbau yang disebabkan infeksi virus rota di dunia mencapai 8,7 hingga 64 persen. Pada umumnya, virus rota yang tergolong kedalam group A merupakn golongan virus yang sering menimbulkan diare hingga kematian baik pada mnusia maupun hewan. Oleh karena itu, perlu adanya kewaspadaan terhadap virus rota asalhewan yang memiliki potensi untuk menular ke manusia.

99.

Sendow, Indrawati; Noor, Susan Maphilindawati (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Virus West Nile sebagai salah satu penyakit Emerging zoonosis. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakt Zoonosis. Bogor. 15 September 2005 : p.112-118.

Abstrak

Virus West Nile merupakan salah satu kelompok Flavivurs yang menyerang unggas, terutama unggas liar yang tidak di kandang tertutup. Penyakit ini menyebabkan gejala syaraf yang dapat berakibat fatal.Penularanpenyakit harus melalui gigitan vektor serangga. Kontak dengan burung yang terinfeksi tidak menimbulkan penyakit meskipun pada burung yang terinfeksi. Antibody dan isolasi virus dapat diperoleh baik melalui feses maupun organ. nggas merupakan amplifier virus West Nile. West Nile di Indonesia belum pernah dilaporkan dan diteliti dengan tingginya mobilitas hewan dan manusia memungkinkan untuk terjadinya penularan penyakit ini. Oleh karena itu tulisan ini menjabarkan tentang virus West Nile, sehingga diharapkan dapat menambah wawasan tentang arbovirus yang lain disamping Japanese encephalitis.

ZOONOSES

100.

Adjid, R.M. Abdul (Balai Penelitian Veteriner, Bogor Indonesia). Kesiapan Teknologi Veteriner dalam penanggulangan penyakit Zoonosis. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005: p.34-40.

Abstrak

Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi veteriner di dunia, penyakit zoonosis kian banyak terungkap keberadaannya pada akhir-akhir ini. Penyakit zoonosis juga banyak mendapat perhatian oleh masyarakat di dunia sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi sosial ekonomi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara yang sedang berkembang, Indonesia tidak terlepas dari pengaruh globalisasi untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi veteriner di dunia. Beberapa penyakit zoonosis yang terjadi di dunia telah dilaporkan keberadaannya di tanah air, dan baru beberapa penyakit yang dapat diteliti di Balai Penelitian Veteriner (Balitvet), yaitu Rabies, Antrax, Leptospirosis, Toxoplasmosis, Brucellosis, Skabies, Nipah dan Avian Influenza. Makalah ini membahas tentang ketersediaan inovasi teknologi veteriner penyakit zoonosis pada hewan di Indonesia, khususnya yang telah dihasilkan oleh Balitvet. Diharapkan inovasi teknologi ini dapat mendukung keberhasilan penangulangan penyakit zoonosis pada hewan, sehingga penyakit tersebut tidak sampai mengganggu status kesehatan dan kesejahteraan manusia.

101.

Kusumaningtyas, Eni (Balai Penelitian Veteriner). Mekanisme Infeksi Candida albicans Pada Permukaan Sel. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005: p.304-313.

Abstrak

Candida albicans adalah fungi patogen oportunistik yang menyebabkan berbagai penyakit pada manusia seperti sariawan, lesi pada kulit, vulvavaginitis, candiduria dan gastrointestinal candidiasis. Mekanisme infeksi C. albicans sangat komplek termasuk adhesi dan invasi, perubahan morfologi dari bentuk sel khamir ke bentuk filamen (hifa), pembentukan biofilm dan penghindaran dari sel-sel imunitas inang. Kemampuan C. albicans untuk melekat pada sel inang merupakan faktor penting pada tahap permulaan kolonisasi dan infeksi. Perubahan fenotip menjadi bentuk filamen memungkinkan C. albicans untuk melakukan penetrasi ke epithelium dan berperanan dalam infeksi dan penyebaran C. albicans pada sel inang. C. albicans juga dapat membentuk biofilm yang dipercaya terlibat dalam penyerangan sel inang dan berhubungan dengan resistansi terhadap antifungi. Dengan memahami mekanisme infeksi C. albicans akan membantu memperbaiki diagnosis laboratorium dan terapi terhadap C. albicans.

102.

Ahmad, Riza Zainuddin (Balai Penelitian Veteriner). Mengenal Penyakit Zoonosis Selakarang Pada Hewan. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005: p.314-319.

Abstrak

Selakarang adalah penyakit mikotik yang disebabkan oleh cendawan dimorfik H. farciminosus. Penyakit ini menyerang kuda, bagal, keledai dan sebangsanya. Gejala klinis yang nampak adalah adanya ulser pada kulit penderita pada daerah bahu, leher, dada, perut dan terjadi penebalan saluran limfe bagian superfisial. Lalat dapat salah satu sebagai vektor penularan penyakit. Penyakit ini tergolong bersifat kronis sehingga untuk persembuhan memerlukan waktu yang cukup lama meski mortalitas rendah. Hal ini secara ekonomi merugikan pemiliknya. Selain itu penyakit ini termasuk golongan penyakit zoonosis. Pengendalian dilakukan dengan pencegahan dan pengobatan. Pencegahan dimulai dengan tata laksana pemeliharaan kuda, peralatan, vaksinasi sampai dengan pengaturan lalu lintas ternak. Sedangkan pengobatan dapat dilakukan dengan operasi dan perawatan setelah operasi.

103.

Haryuningtyas, Dyah; Subekti, Didik T. (Balai Penelitian Veteriner). Dinamika Filariasis di Indonesia. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005: p.242-250.

Abstrak

Filariasis limfatik yang juga dikenal dengan penyakit kaki gajah (Elephantiasis) beresiko pada lebih dari 1miliar orang pada lebih 80 negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 120 juta orang sudah terinfeksi dan 40 juta orang tidak teratasi secara serius. Daerah endemis filariasis tersebar luas di daerah tropis dan subtropis diseluruh dunia termasuk didalamnya Asia, Afrika, Cina, Pasifik dan sebagian Amerika. Di Indonesia kasus filariasis telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah antara lain di Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Papua, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Tangerang, dan lebih dari 17 Kabupaten di Jawa Barat. Filariasis limfatik disebabkan oleh 3 spesies utama cacing filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori Wuchereria bancrofti dan. Brugia Timori tidak memerlukan hewan sebagai reservoir. Brugia malayi diketahui bersifat zoonosis karena dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau dari manusia ke manusia melalui vektor nyamuk. Diduga lebih dari 73 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Aedes, Culex dan Mansonia dapat mendukung perkembangan cacing filaria. Pengendalian penyakit filariasis ini adalah perlu segera dilaksanakan mengingat kejadinnya adalah terus meningkat setiap tahunnya. Salah satu kontrol yang dilakukan adalah deteksi dini pada orang di daerah endemis dan pengobatan dengan segera bagi orang yang sudah terinfeksi. Dalam makalah ini akan dibahas etiologi, transmisi, patogenesis, gejala klinis, dan strategi kontrol dalam penanggulangannya.

104.

Subekti, Didik T. (Balai Penelitian Veteriner); Artama, Wayan T. (Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada); Iskandar, Tolibin (Balai Penelitian Veteriner). Perkembangan Kasus Dan Teknologi Diagnosis Toksoplasmosis. Dalam: Prosiding Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor. 15 September 2005: p.253-264.

Abstrak

Diagnosis toksoplasmosis pada manusia dan hewan saat ini mengalami pergeseran orientasi. Pada masa lalu, diagnosis hanya terbatas menentukan terinfeksi atau tidak dengan menggunakan berbagai uji serologi yang memiliki interpretasi hasil terbatas. Namun, seiring dengan berkembangnya imunologi dan biologi molekuler teknik diagnosis yang dikembangkan telah mengalami kemajuan yang sangat nyata. Dewasa ini tujuan diagnosis tidak hanya sekedar menyatakan positif atau negatif infeksi semata tetapi justru berkembang untuk menentukan status infeksi, waktu terjadinya infeksi, daya proteksi antibodi yang terbentuk berdasarkan titer maupun kekuatan ikatan intrinsik antibodi-antigen serta menentukan tipe Toxoplasma gondii yang menginfeksi. Tidak semua tujuan diagnosis tersebut dapat dipenuhi oleh satu alat atau perangkat diagnosis. Masing masing tujuan diagnosis tersebut hanya dapat dipenuhi oleh satu atau dua teknik diagnosis yang berbeda dan saling melengkapi. Pada naskah review ini akan diuraikan secara ringkas teknik teknik diagnosis yang telah dikembangkan dari awal sampai yang mutakhir dewasa ini. Teknik teknik diagnosis tersebut pada dasarnya melibatkan diagnosis serologis, molekuler maupun kombinasi diantara keduanya.

105.

Yuningsih (Balai Penelitian Veteriner). Keberadaan Residu Antibiotika Dalam Produk Peternakan (Susu dan Daging). Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Bogor, 14 September 2005: p.48-54

Abstrak

Beberapa macam antibiotika dipergunakan untuk pengobatan dan sebagai imbuhan pakan dengan tujuan untuk memacu pertumbuhan berat badan ternak. Tetapi pemakaian antibiotika yang tidak beraturan dapat menyebabkan residu dalam jaringan organ yang dapat menyebabkan reaksi alergi, resistensi dan mungkin keracunanan sehingga cukup berbahaya bagi kesehatan manusia. Sehubungan dengan bahayanya dampak residu ini, maka perlu diketahui sejauhmana keberadaan residu antibiotika dalam produk peternakan (susu, daging dan telur). Tulisan ini menguraikan beberapa hasil pemeriksaan residu antibiotika (Penisilin G, tilosin, spiramisin dan tetrasiklin) dalam daging dan susu, sebagai gambaran keberadaan residu antibiotika dalam produk ternak, kemudian dampak dan langkah pengamanan dalam penggunaan antibiotika serta cara analisis residu dalam daging dan susu

106.

Noor, Susan Maphilindawati; Poeloengan, Masniari (Balai Penelitian Veteriner). Pemakaian Antibiotika Pada Ternak dan Dampaknya Pada Kesehatan Manusia. Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Bogor, 14 September 2005: p.56-64

Abstrak

Tingginya tingkat resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri merupakan masalah yang sangat serius dalam bidang kesehatan di dunia. Antibiotika banyak digunakan pada hewan secara intensif untuk pengobatan, pencegahan penyakit dan pemacu pertumbuhan. Pemakaian antibiotika pada hewan terbukti memacu timbulnya resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri, sebagai contoh Campylobacter dan Salmonella telah resisten terhadap antibiotika fluoroquinolon dan generasi ke tiga chepalosporin. Resistensi beberapa antibiotika terhadap foodborne bakteri mengakibatkan kegagalan dalam pengobatan infeksi gastrointestinal pada manusia. Foodborne bakteri yang resisten terhadap antibiotika dapat tansfer ke manusia melalui rantai makanan atau secara kontak langsung. Adanya implikasi hubungan antara resistensi antibiotika terhadap foodborne bakteri dengan terjadinya resistensi antibiotika pada manusia maka pemakaian antibiotika pada industri peternakan harus dikontrol. Kerjasama antara peternak, dokter hewan, dokter umum dan kesehatan masyarakat dibutuhkan untuk mengontrol resistensi foodborne bakteri.

107.

Poloengan, Masniari; Noor, Susan M. (Balai Penelitian Veteriner); Komala, Iyep (Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor); Andriani (Balai Penelitian Veteriner). Patogenesis Campylobacter Terhadap Hewan dan Manusia. Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Bogor, 14 September 2005: p.82-90

Abstrak

Campylobacteriosis pada manusia penyakit foodborne yang disebabkan oleh infeksi Campylobacter jejuni yang banyak mengkontaminasi daging terutama daging ayam. Kontaminasi C. jejuni pada ayam telah dilaporkan di beberapa negara berkisar 22-78% pada produk ayam. Pada ayam bakteri ini bersifat komensal dan tidak menimbulkan penyakit. Infeksi C. jejuni pada manusia menyebabkan gastroenteritis dengan gejala klinis berupa demam, diare, muntah dan sakit perut. C. jejuni menghasilkan enterotoksin yang mirip dengan penyakit kolera dan toksin Escherichia coli. Diagnosis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan tambahan (laboratorium, struktural, fungsional). Secara serologi dapat dilakukan uji serum antibodi dengan berbagai varian antigen untuk mengidentifikasi agennya. Erithromisin dapat dipilih untuk menganggulangi Campylobacteriosis pada hewan dan manusia. Antibiotika lainnya yang dapat digunakan adalah gentamisin, furazolidone, doksisiklin dan kloramfenikol.

108.

Andriani (Balai Penelitian Veteriner). Enterobacter Sakazakii Mikroorganisme Patogen Dalam Susu Formula. Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Bogor, 14 September 2005: p.98-101

Abstrak

Enterobacter sakazakii akhir-akhir ini mulai banyak dibicarakan karena dapat menyebabkan meningitis pada neonatal serta enterocolitis necroticans. Penderita sembuh dari infeksi E. sakazakii akan mengalami gangguan syaraf berupa hydrocephalus, quadriplegia, dan pertumbuhan syaraf yang terhambat. Pada beberapa kasus kejadian infeksi oleh E. sakazakii dapat menyebabkan kematian pada bayi yang baru berumur beberapa hari, dengan angka kematian mencapai 50-80%. Outbreak penyakit biasanya terjadi pada bayi yang lahir premature, dimana sumber infeksi E. sakazakii berasal dari susu formula. Untuk mengurangi kejadian infeksi perlu dilakukan penerapan higienis selama prosesing karena peran sanitasi dan higienis memegang peranan yang sangat penting pada produksi susu formula.

109.

Andriani (Balai Penelitian Veteriner); Sudarwanto, M.; Lukman, D.W. (Laboratorium Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor). Dekontaminasi Salmonella Sp. Pada Karkas Ayam Menggunakan Asam Organik dan Klorin. Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Bogor, 14 September 2005: p.102-107

Abstrak

Asam organik adalah substansi antimikrobial yang digunakan dalam bahan pangan dan telah dipercaya aman bagi konsumen apabila ditambahkan pada suatu bahan pangan. Pemberian asam organik pada penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitasnya sebagai dekontaminan karkas ayam dengan klorin yang sudah biasa digunakan di rumah potong ayam. Analisis mikroba Salmonella sp. yang berasal dari 36 karkas ayam telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh dekontaminasi mikroba Salmonella sp. dari asam organik (asam asetat dan asam laktat) dan klorin pada karkas yang disimpan pada suhu kamar. Karkas ayam direndam selama 30 detik dalam larutan asam organik konsentrasi 3 dan 4%, begitu juga dalam klorin konsentrasi 20 ppm. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa asam organik lebih efektif digunakan sebagai dekontaminan karkas ayam apabila dibandingkan dengan klorin. Asam asetat konsentrasi 4% adalah dekontaminan yang paling efektif digunakan sebagai dekontaminan karkas ayam.

110.

Ariyanti, Tati; Supar (Balai Penelitian Veteriner). Cemaran Salmonella Enteritidis Pada Ternak dan Produknya. Dalam : Prosiding Lokakarya Nasional Keamanan Pangan Produk Peternakan. Bogor, 14 September 2005: p.125-135

Abstrak

Tuntutan keamanan pangan merupakan prasyarat dalam pasar global untuk menjamin konsumen terhadap pangan yang aman dan berkualitas. Salah satu ancaman yang berasal dari pangan asal ternak adalah foodborne disease. Kejadian foodborne disease pada umumnya berhubungan dengan pangan asal ternak yang tidak higienis karena mengandung mikroba patogen pada ternak yang menyebabkan kontaminasi pada proses pasca panen dan pengolahannya. Salmonellosis merupakan foodborne disease yang sering dilaporkan terjadi di berbagai belahan dunia. S. enteritidis adalah bakteri patogen yang dapat menginfeksi semua jenis hewan vertebrata termasuk manusia, baik melalui kontak langsung maupun melalui produk ternak tetapi masalah tersebut belum mendapat perhatian baik dari produsen, konsumen dan pemegang kebijakan. Pada era globalisasi kita dituntut untuk memproduksi pangan asal ternak (daging, telur, susu) yang bebas dari Salmonella termasuk produk jadi dari bahan baku asal ternak. Oleh karena itu Salmonella merupakan salah satu indikator yang sangat penting dalam persyaratan keamanan pangan. Pengawasan pangan asal ternak terhadap kontaminasi Salmonella spp menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan produsen. Dalam pengendalian salmonellosis harus dimulai pada tingkat produksi ternak sampai dengan proses pasca panen seperti transportasi, pemotongan, pengolahan, distribusi, pengecer dan konsumen. Pada kesempatan ini dikemukakan hasil studi retrospektif tentang cemaran S. enteritidis dan masalahnya terhadap keamanan pangan.


Attachments:
Download this file (1.pdf)1.pdf937 Kb
Download this file (10.pdf)10.pdf652 Kb
Download this file (11.pdf)11.pdf168 Kb
Download this file (12.pdf)12.pdf209 Kb
Download this file (13.pdf)13.pdf201 Kb
Download this file (14.pdf)14.pdf677 Kb
Download this file (15.pdf)15.pdf259 Kb
Download this file (16.pdf)16.pdf1507 Kb
Download this file (17.pdf)17.pdf778 Kb
Download this file (18.pdf)18.pdf230 Kb
Download this file (19.pdf)19.pdf349 Kb
Download this file (2.pdf)2.pdf739 Kb
Download this file (20.pdf)20.pdf214 Kb
Download this file (21.pdf)21.pdf224 Kb
Download this file (22.pdf)22.pdf187 Kb
Download this file (23.pdf)23.pdf976 Kb
Download this file (24.pdf)24.pdf1129 Kb
Download this file (25.pdf)25.pdf257 Kb
Download this file (26.pdf)26.pdf300 Kb
Download this file (27.pdf)27.pdf338 Kb
Download this file (28.pdf)28.pdf934 Kb
Download this file (3.pdf)3.pdf190 Kb
Download this file (4.pdf)4.pdf1011 Kb
Download this file (5.pdf)5.pdf169 Kb
Download this file (6.pdf)6.pdf1874 Kb
Download this file (7.pdf)7.pdf682 Kb
Download this file (8.pdf)8.pdf501 Kb
Download this file (9.pdf)9.pdf620 Kb

Cetak PDF

S476bL935lP607p, generic viagra 3a caverta cialis cheap, C372yW306lB756l. C723qX358tJ630b, Köpa viagra postförskott, U966vX117dP184i. S814aD505lV427a, kopa cialis pa natet, D954aE376vT920t. H168bW398fH484i, viagra sans ordonnance, Y447pQ346rS187y. I842xZ870hQ178y, Achat viagra petite quantité, E532zD470dY889r. W347yO274aG492f, Viagra billig kaufen deutschland, S576aQ754cC741k. P955oI714jR777h, Achat viagra petite quantité, B630oQ715iG369y. A110bB52gB608z, antagonisti del viagra levitra, I23cC139sD841x. V531bQ487zU304l, Achat viagra petite quantité, S110wA812iR541d. K724jH928tQ423g, Achat viagra petite quantité, B101rA511nZ492p. O727jQ174pK159v, Köpa viagra postförskott, F5wD352sY35v.
Back to top

Pilih Bahasa

Copyright © Balai Besar Penelitian Veteriner / Indonesian Research Veterinary Science 2014

Template by Joomla Templates & Szablony Joomla.